Persembunyian Saban Malam

Suci Trianingrum
Nov 7 · 1 min read
foto koleksi pribadi, diambil ketika berada di 900mpdl

Bila sudah waktunya tiba, aku ingin mendekapmu lebih lama. Menjadi tempat tatkala kamu sedang merasa tidak baik baik saja. Begitu juga sebaliknya.

Bila sudah waktunya, aku akan bercerita lebih lama, bercerita tentang hari-hari yang begitu melelahkan. Soal pekerjaanku, juga pekerjaanmu. Tentang pertemuanku dengan orang-orang baru, kekesalanku, kegugupan dan kegelisahanku. Begitu juga sebaliknya.

Kita akan belajar bersama, kemudian saban hari kita memulai pagi dengan bersepakat untuk saling mengasihi, berbagi dan membasuh.

Kau adalah tempat dimanaku melipat asa. Menjadi tempatku yang hangat, saling melindungi dari dinginnya angin malam. Selalu mengingatkanku jika aku terlupa. begitu juga sebaliknya.

Bila sudah waktunya tiba, kita berdoa bersama-sama. Redupnya purnama malam ini tak akan melunturkan aminnya doa-doa yang akan kita panjatkan, bukan? Bahkan, doa itu akan semakin sakral kita lantunkan. Kemudian, aku akan mendekapmu, merebahkan jiwa, lalu merasa tenang.

Yogyakarta, 7 November 2019. Di tulis di Chezmoi, sembari melihat langit malam yang sedang redup.

    Suci Trianingrum

    Written by

    🌙

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade