Surat Penuh Amarah

Untuk dikenang & mungkin ditertawakan di lain hari.

Racun ini semua. Ingin rasanya kabur, menutup telinga serapat-rapatnya, berlari sejauh-sejauhnya, memilih untuk memalingkan wajah, & tidak menjadikan setitik pun kejadian yang ada di sini sebagai sebuah bahan pemikiran.

Buat apa peduli?

Status quo diwajarkan, ide dikalahkan oleh rasa putus asa terhadap realita, kebenaran ilmiah hanyalah debu ketika preferensi orang berjabatan dilontarkan. Padahal tilik yang ia omongkan, landasannya emosi belaka.

Ga ada yang merasa apa kalau merawat idealisme itu penting?

Kalau udah begini, buat apa berjuang? Rasanya sepi & sendiri.

Buat apa berpendapat? Orang hanya semakin takut. Galak & keras hanya menjadi bumbu pemanis bagi reputasi ini.

Mungkin benar Socrates omonganmu, bahwa harusnya energi kufokuskan pada upaya membangun yang baru. Tapi untuk sekarang, sepertinya energi ini habis ketika kuterlanjur memilih untuk melawan juga.

Aku mau pergi, aku mau pergi jauh sekali. Aku mau pergi, & sepertinya gamau kembali.

Bandung, 11 September 2018.

Ditulis oleh sisi cengeng Nada, yang diam-diam benar-benar berharap ia kelak bisa mengenang tulisan ini sambil tertawa.

Like what you read? Give Nada Zharfania Zuhaira a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.