‌Masuk Pesantren

Ketika lulus sekolah dasar, saya memilih melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Pilihan yang tak banyak dipilih oleh teman-teman angkatan lulus 2006 SDN 024. Seperti anak SD umumnya, perpisahan menjadi momen penting untuk saling melepaskan dan mengikatnya sebagai kenangan.

Tahun pertama pada pertengahan 2006, di pesantren bukan hal mudah. Apalagi ketika awal-awal saya masuk di asrama putra di kamar Sunan Drajat. Ya, nama kamar di asrama putra berderet dengan nama-nama wali songo. Sementara asrama putri dengan nama para Ummul mu'minin, nama istri Nabi Muhammad Saw.

Ketika itu, saya adalah orang yang cukup pendiam--yang sampai hari ini sangat kentara jika saya berada di tempat baru dan ditambah jika di tempat itu tak ada satu orang pun yang asyik. Dan, saya sulit untuk mengubahnya. Dan, itu berlaku saat bertemu orang-orang tertentu.

Tahun kedua cobaan mulai datang. Saya sering kena gatal-gatal di sekitar pangkal paha dan sekitarnya, serta tangan saya pernah hampir tak bisa digunakan karena hampir busuk dengan koreng. Banyak orang bilang, itu adalah penebusan dosa atas laku sebelum ada di pondok. Sialnya, penyakit itu sampai aku selesai di SMP, terus saja membayangi.

Di tahun 2008 adalah tahun terberat para santri putra. Kita harus pindah asrama karena area asrama lama dibongkar dan harus menempati asrama baru. Bangunan yang hanya selesai di semen tanpa fasilitas kamar mandi dan mck yang memadai. Alhasil, santri putra mandi tidak hanya terpusat di area pondok, namun menyisir ke area belakang pondok yang sudah berada di area luar. Jika air macet, mau tidak mau, para santri harus mencari air sampai ke luar pondok yang jaraknya sekitar 2-3 km.

Itu soal infrastruktur. Selain itu, dalam kurun waktu 2006-2009, SMP Syaichona Cholil—secara umum kurikulum pondok—terus berkreasi untuk pengembangan kurikulum pelajaran. Pelajaran agama-fikih, Qur’an hadist, Sejarah kebudayaan Islam, dan saudaranya, dipisah secara formal dan menggunakan buku LKS dari penerbit tertentu.

Sampai menjelang kelulusan angkatanku pada 2009, pelajaran Diniyah model pondok salaf baru diterapkan. Kebijakan ini terjadi karena ada dua ustadz baru--yang didatangkan dari Sidogiri: ust. Maqsudi dan ust. Sonhaji. Awal mulanya, pada bulan puasa, ada dua ustadz (salah satunya ust. Maqsudi dan satunya lagi lebih tua yang saya lupa namanya) dari Sidogiri yang mengisi pengajian Ramadhan selama 21 hari di pondok. Hal ini yang kemudian menjadi pemantik evolusi kurikulum pendidikan di Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan.

Sejak saat itu, Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan yang awalnya dengan konsep boarding school, sekolah umum dengan aktivitas ruhaniah, selain waktu sekolah, perlahan menjadi pondok pesantren model salaf yang memiliki aktivitas sekolah umum. Konsep ini kemudian mapan secara sistem ketika saya sudah tidak di tempat ini lagi. Jadi, walaupun saya mondok selama enam tahun di pondok tersebut, jangan tanya muluk-muluk tentang apa yang saya kuasai. Setidaknya, untuk amaliah dasar sudah menjadi pegangan dasar saya.

Alasan saya sederhana memilih tempat ini. Almarhum paman saya adalah salah satu ustadz di sini dan makamnya ada di area pemakaman yang tiap malam Jum'at diziarahi santri putra dan Jum'at sore untuk santri putri. Tak ada yang lain. Bahkan ketika permintaan untuk pindah ke Jawa ketika lulus SMP ditolak orangtua, hal ini pula yang membuat saya bertahan sampai lulus SMA.

Masuk 2006 dan keluar pada 2012. Banyak hal yang saya lalui di tempat itu. Jika suatu saat diizinkan kembali, saya ingin di tempat itu lagi.

8-9 Januari 2019, 0.27

#30Haribercerita
Hari ke-3