….

Aku telah menang. Karena berhasil melupakanmu. Tapi apakah lantas aku memasang punggung terhadapmu? TIDAK.

Aku masih ingat. Cerita tentang sekolah, cerita tentang pantai, cerita tentang-tentang yang pernah terjadi. yah, aku menolak melupakan cerita-cerita saat bersama.

Tapi denganmu? Ah, aku merasa kau sama sekali tak membekaskan cerita kita dalam keningmu. Bahkan aku berniat melihat tempat sampah di depan kamarmu, memastikan bahwa kau benar tega telah membuangnya.

Sebenarnya aku tak peduli semua itu. toh, aku juga telah berhasil melupakanmu. Cuma agak terkesan jahat ketika aku harus ikutkan cerita-cerita tak bersalah itu untuk dilupakan. Terlalu jahat jika melihatmu lewat lantas tak menyapa, meski sapaannya hanya sekedar aku dan kamu tanpa melebihkan makna.

Tapi sudahlah. Hidup itu memang pilihan. Dan mungkin itu pilihan terbaikmu. Dan kulihat kau juga nyaman dengan suasana yang sekarang. Entahlah.

Penampilanmu juga sudah mulai jauh dari kata sederhana akhir-akhir ini. Trend dan selera-selera kawlamuda masa kini mulai menyatu dengan dirimu. Tongkronganmu kini bukan lagi rumah, tapi tempat-tempat kaum borjuis menghabiskan hari demi hari.

Merasa sebagai teman, aku menganggap perlu untuk memberikan dukungan padamu. Terlepas dari apapun yang membuatmu lupa akanku. Aku mendoakan kebaikan untuk hari-harimu, terlebih untuk masa depanmu.