Antara Ayah dan mimpi

Ayahmu mencarimu. Ia menangis setiap melihat foto kalian sekeluarga. Setelah kepergian ibumu dua bulan yang lalu, dan kau memilih tetap melanjutkan kuliah, ia bagai kehilangan semangat hidup. Tapi dia tak mengatakan itu padamu, selain memang tak miliki alat komunikasi untuk bercurah rasa padamu, ia juga, memang tak ingin mengganggumu di sini, di tempatmu kuliah.

Yang perlu kau tahu, ayahmu sangat merindukanmu. Ia selalu ingin menjengukmu ke sini, tapi selain karna tak memiliki ongkos, beliau juga tak tahu tempatmu tinggal. Ibuku sempat menawarkan untuk berangkat bersama, tapi ayahmu terlanjur mengulurkan niatnya. Beliau takut konsentrasimu terbagi sebab kedatangannya. Kau tahu? Beliau sangat menyayangimu.

Maaf, aku terpaksa menyampaikan ini padamu. Ibuku selalu menceritakan perihal ayahmu padaku. Ibuku juga tak ingin sebenarnya cerita ini berlanjut ketelingamu, karna takut kau khawatir dan memilih pulang lalu mengabaikan kuliahmu. Itu yang ayahmu tak ingin terjadi.

Tapi kali ini, aku benar — benar harus bercerita. Aku tahu wisudamu sebentar lagi akan digelar, dan itu adalah momen paling ditunggu — tunggu oleh semua pemuda yang disebut mahasiswa, termasuk dirimu. Aku juga tahu, bahwa perjuanganmu untuk mendapatkan gelar ini pantas dicontoh oleh mahasiswa — mahasiswa lain. Gigih dan pantang menyerah. Tapi untuk kali ini, kau harus pulang.

Ibuku kemarin menelpon padaku. Katanya ayahmu sakit dan ingin sekali bertemu denganmu, meski kemauan itu tak terlisankan langsung dari mulutnya. Maaf, harusnya aku menceritakan ini sedari kemarin. Tapi aku tak tahu harus bagaimana menghubungimu, media sosialmu juga tak aktif, kau juga tak berada di tempat tinggalmu. Maka aku memutuskan untuk menunda dan mengabarimu hari ini di kampus dan akhirnya aku menemukanmu.

Kau harus pulang. Ibuku sangat berpesan agar berita ini secepat mungkin sampai kepadamu. Ini bukan permintaan ayahmu. Ini inisiatif tetangga — tetangga di kampung. Ayahmu, bagaimana pun keadaannya, tak akan tega membuatmu khawatir. Beliau takut kuliah dan impianmu terganggu karnanya yang mulai merenta.

Ibuku juga bercerita bahwa meskipun ayahmu tak mau mengganggumu di sini, beliau juga tak kuasa menyembunyikan jika dirinya merinduimu, anak tunggalnya yang paling ia cintai. Beliau sering menyebut namamu dalam tidurnya. Inilah yang membuat ibuku tak tega dan menyuruhku untuk mencerikan ini padamu.

Pulanglah…

Aku tahu bahwa ini pilihan tersulit bagimu — di sisi lain kau ingin menuntaskan apa yang telah kau mulai, di sisi lain, ada orang yang sangat mencintaimu yang menunggu kedatanganmu — , tapi kau harus bersikap.

Pulanglah…

Mungkin hanya itu kata yang mampu aku katakan padamu sebagai teman. Selebihnya terserah padamu. Tapi aku yakin, kau masih punya hati dan logika bersih untuk menetukan mana yang layak dan pantas untuk didahulukan.

Aku pamit.

Sekali lagi. Ada tubuh tua yang terbaring di seberang sana. Menunggu kedatangan anak tunggal tercintanya. Tubuh tua yang memilih membisu tentang deritanya, hanya karna tak ingin menganggu mimpi sang anak.

|Barru, 2017|

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.