Kakak Culling
Aug 8, 2017 · 1 min read

MENYOALKAN JARAK

Aku akan kembali demi janjiku padamu.”

Selepas kata dan pelukan terakhir itu, aku tak lagi mendengar beritamu. Semesta seakan menelanmu keseluruhan tanpa sisa. Kau menghilang tanpa tanda-tanda.

Sejujurnya aku khawatir, aku takut kau abu-abu dalam perjalanan atau mendapati badai kehidupan sehingga tak ada wartamu sedikitpun. Aku khawatir kau tak sanggup di sana, sebab kehidupan sangat kejam bagi anak perantau. Apalagi kau pergi ke tempat yang sama sekali tak kau kenal.

Satu bulan

Ini bukan waktu yang mudah menyimpan khawatir yang beradu kuat dengan rindu. Ini bukan waktu yang singkat untuk sebuah rasa supaya selalu merangkul positif tentang jauhmu. Tapi sejauh ini aku masih bisa bertahan. Harusnya kau tahu semua itu. Karena bertahan pada keabu-abuan adalah sebuah perjuangan, bagiku. Apalagi berbicara soal rasa.

Mungkin dua tiga bulan ke depan, aku masih bisa merangkul positif tentang jarak kita. Dan mungkin aku masih bisa melawan pikiranku yang bersahabat dengan negatif. Tapi aku tak menjamin selebihnya.

Aku takut wajah kota telah membuatmu jatuh bersimpuh. Tergoda dan lupa kepada pemilik semesta. atau malah terasing dan tak tau hendak berarah kemana. Satu yang kuharapkan bila nyatanya gagal memelukmu, jangan malu pulang sebab janji yang terlanjur kau katakan dipelukan terakhir.

Segeralah berkabar, meski hanya sapaan singkat. Karena itu akan menghidupkan lebih lama nyawa rasa ini padamu.

Bagiku; tak mengapa menunggu bertahun-tahun. Asal kau pasti dalam pulang.

Tak mengapa meredam rindu selama menahun. Asal datangmu adalah nyata.

Karena aku; tak menjamin bisa lebih lama bersamamu tanpa sedetikpun kabarmu. Sebab betah, adalah bicara soal rasa dan pikiran harus sejalan.

2017

    Kakak Culling

    Written by

    rumahmu adalah hatiku, maka pulanglah kedalam dadaku.