Kakak Culling
Aug 9, 2017 · 1 min read

Mengutuk dirimu dan diriku

Aku membunuhmu dalam ingatan. mencuci segala kenangan dengan perlakuan terbaik. memaksa. memantapkan. dan aku benar-benar ingin melupakanmu.

Kau yang memuai puja dalam hari-hari. bertahan pada caci-caci yang menghujam. berusaha menyelamatkan namamu dari aneka-aneka hipotesa kotor. dan memaksimalkan diri untuk berpikir baik. yah, berpikir baik tentangmu. hanya tentangmu.

Tapi kini. aku memaki masa lalu. menghujat semua perlakuan terbaik yang pernah kusuguhkan dengan penuh ketulusan untukmu. menyesali segala pengorbanan yang tertoreh dilembar kebersamaan kita.

Aku menangisi peduliku atasmu. yang karena teramat berusaha untuk menjadi keinginanmu, sampai aku tak lagi mengenali diriku sendiri. aku lupa diriku. mengabaikan. dan aku semata menjadi bonekamu.

Kau, kekasihku yang perlahan kukutuk. telah mengkhianati pengorbanan terbaik dariku. pengorbanan yang tak pernah kupersilahkan siapapun selain kau mencicipinya. dan memang, hanya orang terbaik yang kusuguhkan pengorbanan itu.

Tapi aku keliru. bahkan kuanggap itu kebodohan yang akut. aku terpedaya wajah polosmu. terjerat senyum manis manjamu. masuk dalam jebakan kata-kata indahmu yang busuk.

Aku memaki diriku. memaki dirimu. dan mengutuk semua yang pernah terjadi selama bersama. terutama tentang kenangan.

Kau yang pergi tanpa alasan dan berkabar lewat undangan pernikahan sementara saat itu aku masih menunggumu dengan abu-abu. menbencimu. membenci diriku. dan menyampahkan segalanya sakit yang masih kupelihara sampai saat ini.

Terima kasih lukamu. terima kasih.

aku membencimu dan diriku.

|Rabu, 9 Agustus 2017 — Barru|flp Unismuh Maakassar

    Kakak Culling

    Written by

    rumahmu adalah hatiku, maka pulanglah kedalam dadaku.