TAMAN MACAN

Hujan di matamu adalah dosa besarku

Aku baru saja membuka pintu neraka bagi diriku. Bukan untuk saat ini — sebab masih bernafas — , tapi untuk dikehidupan selanjutnya.

Pagi ini banyak tercipta panik. Dan panik itu membuat emosi dan pikiran tak saling merangkul lalu melahirkan ketenangan. Tapi membuat suasana hati dan kepala tak bisa dingin. Aku tersulut.

Bukankah pertanyaan yang diulang-ulang bisa membuat resah, apalagi sudah dijawab dengan jawaban yang selalu menenangkan? Begitulah yang aku alami. Tapi aku tetap tak membenarkan bentakan itu sesuatu hal yang lumrah. Bahkan menganggapnya sebuah kebodohan yang diulang-ulang. Aku tetap mengakui berdosa telah melakukan itu padamu.

Aku minta maaf, kali ini air matamu kembali terjatuh tanpa sepengetahuanku. Aku tak menyangka. Maaf. Ini kesekian kalinya aku membuat hatimu terluka.

Kapal yang akan mengantarmu pulang, ah, aku pikir bertolak pukul 10 pagi. Jadi sedikit kuterlambatkan langkah mengantar keberangkatanmu ke pelabuhan. Setahuku tak secepat itu naik ke atas kapal. Dan aku memang salah terlalu mengandalkan pengalaman.

Bersambung…

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.