Kakak Culling
Jul 22, 2017 · 1 min read

Ternyata kenyataanku, tak seindah mimpiku.

Kau pasti masih ingat, bahwa saat bersama aku pernah menggantikan ceriaku dengan dirimu. dan setelah kau mengambil keputusan untuk pergi, masihkah kau tanyakan kenapa wajahku muram?

Entah di mana akal sehatmu kau simpan. Aku tak habis pikir kau begitu mudah menodai hubungan asmara kita yang sudah menahun. Hanya karena persoalan sepele. Yah, bahkan amat sepele.

Di mana janji setia dahulu? Janji penuh tulus yang pernah kau ucapkan. Apakah saat itu hanya sebatas kata dan ekspresi palsu? Jika benar adanya, selamat, kau berhasil menipuku.

Lihat aku sekarang, lihat. Bagai mayat. Semangatku hilang menyusul pergimu. Gairah hidupku mati ditikam keputusan anehmu. Apakah kini kau senang melihatnya?

****

Astagfirullah!

Dadaku sesak, nafasku tersengal-sengal. Baru beberapa hari memutuskan untuk pergi, kau sudah berjalan berdua dengan seorang lelaki. Dan yang tak pernah kuduga, dan mungkin tak akan pernah, ternyata lelaki itu adalah sahabatku.

Apakah sebab itu kau memilih pergi? Apakah sebab dia kau meninggalkanku dengan alasan aneh?

Ya rabb!! Panggil aku. Ini amat sakit ya Rabb.

    Kakak Culling

    Written by

    rumahmu adalah hatiku, maka pulanglah kedalam dadaku.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade