Lelaki yang Disakiti Purnama dan Diselamatkan Surat D.O.

Foto: Hipwee

Percayalah ingatan tak kan pernah padam. Tapi lelaki ini telah melakukan hal-hal yang aneh untuk melupakan. Tiap senja, wajahnya menghadap langit di ufuk barat. Dia akan berdiri selama sepuluh menit. Mungkin bisa lebih. Boleh juga kurang. Tak benar-benar sepuluh menit. Tapi setidaknya begitulah yang dia lakukan setiap hari selama 365 hari.

Lelaki itu menyebutnya ritual suci. Sebuah penghargaan pada kenangan. Sebuah cara berdamai dengan masa silam. Dia sadar kenangan bukan barang haram yang harus dia musnahkan. Bukan keburukan yang mesti dia koyak-remukkan. Bukan aib yang membuat dia mesti memunggunginya. Apa yang terjadi di masa silam bukan kekeliruan atau kegilaan.

Tetapi dia juga sadar, yang silam harus dilupakan. Betapa pun susahnya merujuk pada apa yang disebut kenyataan, tapi yang kini mesti diterima sebagai kenyataan.

“Kamu tak kan dapat lari dari masa silam. Kamu tetap berdiri dalam lintasan waktu yang sama. Bahkan kamu tak kan mengenal pemisahan yang tegas antara yang silam, kini dan yang akan datang jika manusia tak terjebak dalam siasat bernama waktu yang menegakkan batasan-batasan”, ucap lelaki itu dengan penuh ketenangan.

Dalam 365 hari, lelaki itu telah mengumpulkan 365 barang — apapun — yang ditinggalkan kekasihnya. Satu demi satu, barang-barang itu ia bakar setiap hari. Pada setiap kali habis membakarnya, dia menatap langit dan berdoa dalam hati: “Tuhan, sembuhkan hati yang masih berat mendamaikan kenangan dan kenyataan. Sembuhkan, ya Tuhan. Damaikan ya Tuhan”.

Senja meriut di balik bukit. Gelap menggelayut seperti menutup segala yang nampak di panggung kehidupan. Lelaki itu menyudahi do’anya sambil berharap tiap barang yang dibakar menjadi abu turut mengalir bersama hari yang terus berlalu.

*

365 hari pertama telah ia lalui. Kenangan tak jadi redup atau mati. 365 hari kedua ia lalui lagi. Kenangan itu tak juga mati. Hingga 365 hari yang kedelapan. Berarti delapan tahun berlalu sejak perpisahan, dan ritual itu tak membawa perubahan. Ritual itu tak memiliki daya mistik untuk membunuh ingatan.

Lelaki itu memutuskan tak mengulangi lagi ritual suci itu.

Di rak lemarinya yang sudah delapan tahun tak dibukanya, dia menemukan setumpuk berkas. Berdebu. Satu hembusan angin disertai tangannya yang turut mengelap map itu, debu-debu itu berlari entah kemana. Ada satu map yang membuatnya perlu membukanya. Berwarna biru. Tampaknya sangat berharga, pikir lelaki itu. Lalu dibukanya. Di bagian terluar, tertulis sebuah nama: D.F.

Di bagian dalam, beberapa lembar fotokopi ijazah dilengkapi cap warna biru dan tanda tangan: sudah dilegalisir. Pada pojok bawah kiri, sebuah foto seseorang dengan warna hitam putih. Lelaki itu sebentar memandangi foto yang delapan tahun silam itu. Seorang perempuan yang tersenyum. Memamerkan sebaris gigi kelincinya yang indah. Lesung pipinya yang sejak dulu diabadikan dalam puisinya sebagai keindahan.

Warna hitam pada latar foto itu pada aslinya berwarna merah. Begitulah lelaki itu mengingat-ngingat.

Saat lulus dari kampus — bukan kebetulan dia lulus duluan sebab jauh lebih disiplin mengikuti kuliahnya — perempuan itu tak dapat lain selain sibuk memikirkan lowongan kerjaan. Lelaki itu juga yang pada akhirnya turut menanggung beban itu. Lelaki itu membantu menyiapkan segala pemberkasan yang dibutuhkan. Dia dapat mengingat saat hendak memintakan legalisir. Dia berjalan kaki dari kosannya ke kampus. Dia menyeberang jalan dengan hati-hati di antara lalu lalang transportasi yang ramai di depan kampus. Dia harus terlatih sabar menghadapi pelayan birokrasi yang tak cepat, tapi tak mau dibilang tak profesional. Dengan bersabar dan mengalah pada apapun kemauan birokrasi, akhirnya legalisir itu selesai dalam beberapa hari.

Kini beberapa lembar fotokopi ijazah yang dilegalisir itu berada di tangannya. Warna capnya belum berubah. Masih sebiru waktu kita bersama, tak ada yang berubah, na, gumamnya.

Masihkah lembar-lembar ini ia butuhkan dan menjadi alasan untuk saling merekayasa pertemuan?

*

Sisa-sisa berkas — yang entah kini masih dibutuhkan atau tidak oleh kekasihnya — tetap disimpan dengan baik dan rapi oleh lelaki itu. Tetapi dengan membuka berkas kekasihnya, lelaki itu terbawa pada cerita yang bermula pada tahun 2009 silam.

UIN Syarif Hidayatullah berbenah menyiapkan fakultas baru: FISIP. Pita hitam dikenakan oleh seluruh mahasiswa dari jurusan Ilmu Politik, Sosiologi dan Hubungan Internasional. Jurusan itu akan menjadi milik FISIP. Lelaki itu menjadi mahasiswa angkatan pertama sejak pelepasan beberapa jurusan dari FUF ke FISIP dan FEB ke FISIP. Lelaki itu menjadi bagian dari salah satu dari tiga jurusan di FISIP: Ilmu Politik.

2009. Lelaki itu mengenal banyak kehidupan baru. Aktivitas-aktivitas baru. Teman-teman baru. Dia menyukai kebersamaan. Persahabatan. Maka segera ia masuk dalam banyak pergaulan termasuk pergaulan lingkaran aktivis (baiklah tak perlu kau debat penggunaan kata ini). Lelaki itu sering ikut demonstrasi. Wajahnya tak terlalu terawat. Pakaiannya yang tak terlalu masuk pertimbangan. Bersepatu atau pakai sandal tak masuk perhitungan sewaktu di kampus. Kehidupan tak teratur semacam itu menyenangkannya. Beginilah kebebasan, kehadirannya selalu menyenangkan. Dia membayangkan hidup seperti orang-orang bohemian.

Tetapi kebebasan lelaki itu pada akhirnya menemukan penjaranya yang lain. Dia bertemu seorang perempuan dalam salah satu acara kecil ulang tahun kawannya. Seluruh tubuh perempuan itu dibungkus oleh pakaian hijab yang indah. Dan purnama itu memang terang, tuan. Bukan main. Wajahnya boleh saja disembunyikan. Tapi indahnya tak mungkin disembunyikan. Pada satu jarak, di mana kau dapat melihatnya tersenyum, maka kau akan mengerti alasan mengapa kau membiarkan dosa karena memakukan pandangan kepadanya.

Purnama itu bernama D.F. (semoga hanya Tuhan dan aku yang tahu). Lelaki itu memandangnya. Aku pun turut memandangnya waktu itu. Tapi Tuhan nampaknya lebih berpihak pada lelaki itu — sebab selang beberapa hari, keduanya menjalin cerita. Dan bagi lelaki ini, penjara baru dimulai: dia harus memperhitungkan penampilan, kesegaran tubuhnya, estetika pakaiannya, dan ringkasnya ia menjadi seseorang yang hidupnya dipandu oleh kelurusan dan keterurusan. Tapi penjara itu bekerja secara senyap. Cinta mengaburkannya.

“Dialah yang akan menjadi ibu dari anak-anakku”, ia berbisik kepadaku. Sebagai sahabatnya, aku tentu saja harus memperagakan sikap dan akting yang baik dengan mengiyakannya sungguh-sungguh.

“Kau akan menikahinya?”, tanyaku berbasa-basi, juga dengan bisik-bisik sebab tak ingin terdengar oleh yang lain-lain yang mana hanya Tuhan yang tahu apakah mereka — para lelaki yang hadir di ultah ini juga ikut memperebutkan purnama itu.

“Tentu saja. Dia perempuan yang membuat hatiku terbuka lagi setelah aku gagal menjalin cerita dengan seseorang di kampungku”. Tentu saja aku dapat mengerti siapa yang dimaksudkan lelaki sebagai perempuan di kampungnya.

“Saat aku melihatnya, aku segera yakin isyarat itu”, tambahnya lagi.

Oh Tuhan. Kepalaku akan diisi oleh cerita-cerita manis tentangnya. Dan tak lama (memang lelaki ini begitu lihai dan geraknya cepat), lelaki itu segera memiliki kontaknya. Dan dimulailah cerita hubungan sepasang insan. SMS — dan saat itu, WhatsApp masih seperti janin — menjadi jalan penghubung komunikasi mereka. Komunikasi itu memperdalam hubungan mereka, menusuk jantung masing-masing mereka.

Tentu saja aku harus melewatkan komunikasi-komunikasi yang menurutku tidak penting yang mengalir begitu saja di antara mereka lewat pengiriman pesan pendek. Tak mungkin aku menguraikan kalimat-kalimat sapaan sebagai letupan kerinduan: hai! lagi apa? sudah makan belum? Istirahat gih! Oh kalimat-kalimat itu terdengar menjijikkan bagiku yang memang berjarak dengan kisah asmara.

Tapi bagaimana pun juga, komunikasi yang inten pada mereka berdua membawa cerita lebih jauh: komitmen cinta makin tumbuh. Di sini, aku menjadi pencatat yang setia untuk cerita mereka yang indah-indah: 1 Januari 2011.

Lima tahun cerita cinta berjalan. Hampir memasuki tahun keenam. Hubungan lelaki itu dan kekasihnya bahkan begitu dekat. Lelaki itu berjuang demi dirinya dan pula demi membahagiakan kekasihnya layaknya seorang suami yang bekerja untuk istrinya. Dia bahkan rela berkorban cuti kuliah demi dapat mengumpulkan uang sendiri untuk kebutuhan sehari-harinya. Sekali lagi demi bisa menghabiskan waktu bersama kekasihnya.

Aku berani bertaruh bahwa aku mencium aroma kedekatan yang begitu erat antara dia dengan keluarga kekasihnya. Pada suatu momen terpenting, lelaki itu berada satu frame (bingkai) foto bersama keluarganya: ada dia di antara keluarga kekasihnya.

*

Akhir 2015. Pada sebuah Sabtu yang menyedihkan, perpisahan mengambil jalan cerita. Kekasihnya akan pulang ke kampung halamannya. Lelaki itu tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya harus rela di tanah rantau menjadi seorang diri. Purnama itu menangis. Dia tak dapat menerima perpisahan ini. Tapi ibu — yang saat itu sedang sakit — menariknya untuk pulang kampung. Purnama harus pulang.

“Am, semangat dan fokus pada kuliahmu. Kelak kalau kamu sudah lulus, datanglah ke rumah dengan keluargamu”.

Sejak detik perpisahan itu, lelaki itu menyimpan betul-betul kalimat terakhir. Perkataan terakhir sebelum perpisahan itu begitu berharga. Cinta dan harapan menghidupkan semangatnya untuk menjalani disiplin kuliah lagi. Dia akan memulai beberapa mata kuliah yang sudah ditinggalkannya di beberapa semester.

Tapi satu minggu lamanya, kabar dari Purnama tak datang. Sebulan lamanya, kabar dari Purnama masih juga belum datang. Satu semester lamanya jua tak satu kabar pun datang. Akhirnya pada penantian hari ke-365 — dengan demikian genap satu tahun, datang juga kabar dari Purnama. Dia mengirimkan kabar singkat lewat sebuah media sosial ‘Line’. Isinya sebuah permintaan maaf karena Purnama begitu lama tak memberi kabar. Lelaki itu tersenyum. Lekuk bibirnya jelas menunjukkan kebahagiaan. Keterlambatan mengirim kabar yang semestinya menjadi persoalan lenyap begitu saja.

Dan pada permintaan maaf yang lain, ada beberapa kalimat yang ujungnya… entahlah. Purnama hanya bilang:

“Maaf, Am, aku mau nikah”.

Lelaki itu tertegun membaca pesan singkat itu. Dia tak menangis saat itu. Dia tak menampakkan kesedihan saat itu. Kepadaku dia hanya bilang kaget tapi tak kecewa. Tapi aku sumpah, berani bertaruh mobil mana pun, demi kekayaan mana pun, demi apapun, dia kecewa, kecewa besar.

Aku tak salah: perubahan pada lelaki itu benar adanya. Dia menjadi seseorang yang hemat berbicara. Nampak ia menjadi sosok yang mengingatkanku pada handphone jadul merek esia: irit karakter kata-kata, irit pesan demi mengirit kouta pulsa.

Teman-temannya — termasuk aku di barisan terdepan — tentu saja mengkhawatirkan perubahan sikapnya ini. Perubahan drastis pada dirinya dari yang biasanya begitu ceria dan kini menjadi pendiam menjadi obrolan-obrolan kecil yang kadang menjadi obrolan ke ranah akademis: perihal psikologi (begitulah kami mahasiswa yang biar pun tidak disiplin kuliah tapi ‘agak’ disiplin diskusi). Tapi obrolan-obrolan kecil kami tetap tak dapat menemukan jalan keluar untuk lelaki itu.

Hingga suatu hari, sebuah peristiwa terjadi: selembar kertas dari kampus yang berisikan nilai-nilai IPK yang menyedihkan dan jumlah SKS kuliah yang mengerikan ditujukan kepada lelaki itu. Ditambah lagi papan pengumuman yang terpampang di loby FISIP, tertulis: mahasiswa FISIP angkatan 2009 harus segera sidang skripsi pada Agustus 2016.

Kalau tidak… Oh Tuhan! Lelaki itu tak melanjutkan membaca. Dia segera memilih berjuang lagi untuk mengejar mata kuliah yang berserakan di beberapa semester yang rumit.

Like what you read? Give Sulaiman Laiman a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.