PERJALANAN

dipandu ketakutan malam, berjalan disudut-sudut kota melalui lorong-lorong kecil, sempit, bau, banyak tikus menari-nari.
sesampai disudut jalan kebelokaan kanan bertemu rumah mati, seakan mengajak untuk dikunjungi, aku takut tak bisa menatap, pandangan terus kedepan.
melalui rumah-rumah mati itu rasanya mendaptakan piala lomba tujuh belasan, keingat waktu lomba lari.
perjuangan tak hanya sampai disitu, terus mengayuh melangkah, dalam hati terus berbisik apakah aku akan sampai ? aku terusik pertanyaan itu, tak peduli terus mengayungkan kakiku, entah kemana akan menuju.
disudut jalan dari jauh aku melihat sosok, tak tahu apa rupanya, sedikit berpikir balik lagi tak berani melangkah lagi, kaki gemetar, dada ikut berdebar kencang seperti bertemu seseorang yang disuka, bukan itu, ini persoalan didepan.
berhenti mengambil nafas, doa-doa semua dibaca, penampakan itu terus masih ada. aku berfikir sampai disini saja, aku tak berani lagi. sungguh aku tak berani.
entah dalam hening itu, sesuatu berbisik dalam dada “bukankah yang dipercaya itu yang dilihat, yang dirasa, yang diuji ? aku duduk diatas batu memegang kepala seperti sakit kepala, berpikir tentang yang dipercaya itu, mungkin benar itu hanya khayalan (dalam hati berkata)
Warkop Arizona, 23 April 2016