Narasi Pembuka: Indonesia dan Inovasi

“Negara kita dan dunia bergantung pada Anda. Masa depan kita akan ditentukan oleh mereka yang pemimpi dan pelaku, pembangun teknologi baru dan pendobrak ortodoks lama.”-Steve Case, dalam bukunya The Third Wave.

Sejak kecil, saya selalu dicekoki kisah-kisah inspiratif inovator dunia yang selalu diceritakan sebagai mereka yang berhasil mengubah dunia. Juga dengan kisah-kisah tentang teknologi yang memperbarui wajah peradaban di dunia ini. Sampai sekarang pun saya masih terkagum-kagum dengan kisah banyak startup yang berhasil menggulingkan industri besar dan tua. Beberapa seperti sejarah penemuan mesin uap yang memacu terjadinya revolusi industri, kisah Wright bersaudara dan mimpinya untuk terbang seperti burung, petualangan “gila” ala Elon Musk yang berniat untuk mendiami Mars, BJ Habibie sang “Mr. Crack”, dan kisah mendiang Steve Jobs dengan ambisi Apple-nya. Semua kisah tersebut memberikan optimisme tentang janji teknologi dan inovasi terhadap kesejahteraan seorang manusia ataupun sebuah peradaban. Sampai sekarang pun saya yakin, jika sebuah sistem mengebiri jiwa inovator manusia di dalamnya, sistem tersebut tidak akan dapat bertahan, apalagi mengalami kemajuan.

Idealis dan naif, apa bedanya? Saya masih ingat sekitar dua tahun yang lalu, saat itu sedang panas-panasnya mendebatkan jurusan kuliah yang dituju. Teman saya yang sedang mengalami dilema memilih suatu jurusan teknik yang menurutnya perkembangan serta jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia masih rendah meminta pendapat saya. Masih teringat jelas jawaban saya waktu itu, saya beranggapan bahwa keadaan (termasuk perkembangan dan lapangan kerja) “saat ini” di Indonesia tidak penting, yang penting terus berkarya, suatu hari pasti dengan ajaib akan berhasil. Terdengar idealis bukan? Tidak sampai baru-baru ini saya mengerti anggapan tersebut sangat naif dan tidak berdasar. Nyatanya, banyak sekali faktor yang mengakibatkan sebuah bangsa menjadi pemimpin dalam teknologi dan inovasi. Dari banyak faktor tersebut, tiga faktor yang terdepan mempengaruhi inovator-inovator dalam suatu negara adalah pemuda, pemerintah, dan pendidikan. Ketiganya merupakan faktor yang semestinya berkolaborasi dengan optimal menghasilkan habitat yang paling kondusif untuk para inovator berkarya dalam negaranya. Tanpa pemuda (tidak untuk mendiskreditkan dewasa dan lanjut usia) yang visioner dan menjawab kebutuhan masa depan manusia, tidak akan ditemukannya inovator yang kontributif terhadap bangsanya. Banyaknya pemuda berapi-api dan visioner tanpa didukung kebijakan yang inklusif dan penuh asuh hanya akan meredupkan dan menyia-nyiakan inovasi-inovasi yang muncul. Lalu tanpa adanya pendidikan konstruktif sebagai investasi untuk para inovator masa depan, mustahil dihasilkannya inovator tersebut.

“Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkah kayu dan batu jadi tanaman.”-Koes Ploes, dalam lagunya Kolam Susu.

Tanah surga, dengan flora dan fauna yang sangat beragam, sumber daya alam yang melimpah, dan salah satu negara dengan populasi terbanyak. Katanya, apapun yang ditanam di tanah kita akan tumbuh. Seluruh kekayaan alam, dan kenyamanan hidup seharusnya mendukung suburnya kekayaan intelektual dan inovasi bukan? Sayangnya tidak sesederhana itu, buktinya dalam hal tingkat kesiapan teknologi berdasarkan World Competitiveness Report 2015/2016, posisi Indonesia di ASEAN berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Dalam hal inovasi yang diukur dari indeks inovasi global yang dirilis INSEAD, posisi Indonesia di wilayah ASEAN berada di bawah Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Apa yang salah? Tidak dapatkah bangsa kita menyaingi negara-negara pemimpin pasar teknologi seperti Korea Selatan, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat?

Tulisan ini adalah pengantar untuk tulisan-tulisan selanjutnya yang akan menjadi teman diskusi tentang inovasi, teknologi, dan Indonesia. Kedepannya, tulisan-tulisan selanjutnya akan mencoba meyakinkan pembaca tentang potensi Indonesia di bidang teknologi dan inovasi, menjabarkan tentang mimpi Indonesia 2045, serta peran-peran penting untuk mencapai mimpi tersebut. Tulisan-tulisan selanjutnya secara urut akan membahas Indonesia 2045, janji teknologi dan inovasi, gelombang selanjutnya, serta peran pemuda, pemerintah, dan pendidikan.

(Bersambung)