Reportase: Berawal dari Buku
09.00 pm. 08/07/2017 at Gud Mud

Title: People of the book
Author: Geraldine Brooks
Publisher: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Published: 16 April 2015
Page: 504 halaman
ISBN: 978-602-03-1447-1
Kelab Buku! Selamat datang di Kota Parepare.
“Malam sepekat kopi, ditambah cuaca dingin di luar sana. Para pengunjung tidak menyurutkan langkahnya untuk hadir di Gud Mud. Tidak seberapa orang memang, tapi cukup mampu membakar ban sambil tutup jalan. Oh iyah, sekadar info pemasaran, Cafe Gud Mud itu berdampingan dengan Kantor Pemasaran Perumnas Wekke’e, Parepare.
“Peresensi atau yang me-review malam itu, datang sedikit (lebih) awal, pas pada pukul nol delapan lewat lima puluh tujuh menit, 32 detik, dua menit dua puluh delapan detik sebelum dimulainya kegiatan. Namanya Tri Febry, seorang Ibu Rumah Tangga yang gemar berkirim postcard. Dia diusulkan oleh anggota Kelab Buku Educafe A.24—tidak ingin disebut namanya—dua hari sebelum kegiatan ini diluncurkan. Dia datang dengan menenteng buku People of the Book-nya Geraldine Brooks, ditemani dengan seorang lelaki yang cukup tampan.

“Malam itu juga, pengunjung Kelab Buku, yang jumlahnya tidak melampaui jumlah jari tangan (orang normal), mengatur posisi duduknya dengan memilih tempat yang dirasa sesuai dengan isi kepalanya masing-masing. Semua terlihat santai, kecuali barista yang masih sibuk dengan gelas kopinya, kira-kira seperti itu.
“Basa-basi dibuka tepat jam 09.00 malam, mungkin lebih, tapi tidak kurang. Basa-basi tidak berlangsung lama. Ketika dirasa telah cukup, (bukan) moderator membuka secara biasa-biasa saja acara malam itu, dan tentu tanpa sambutan-sambutan. Awalnya sedikit kikuk, wagu, membosankan, dan mungkin terkesan (sedikit) formal, tapi semua terasa cair ketika Dek Lia (penggiat bacaan anak perumnas) sudah mulai tersenyum. Ini cukup menyehatkan bagi pengunjung kelab, lebih-lebih bagi seorang lelaki (berisi dan bernutrisi) yang sedari tadi mojok di sudut ruang kelab.

Setelah dirasa cukup, pembicaraan diserahken sepenoehnja kepada Tri Febry, peresensi kita malam itu.
Intermezzo...
“Satu Cafelatte dan Satu Teh Hangat untuk Kak Tri” sahut salah seorang anggota Kelab yang lagi-lagi tidak ingin disebutkan namanya.
Hening...
Dan akhirnya dimulai...
Try Febry
Pertama kali buku People of the Books diterbitkan pada tahun 2008, dan buku tersebut langsung meraih Australian Publishers Association’s Literary Fiction Book of the Year.
“Buku ini sudah lama saya beli, namun tidak pernah saya buka-buka. Nanti setelah suami saya membeli buku Penghancuran Buku, barulah kemudian saya teringat buku ini. Dia melirik kepada seseorang -red.
“Karya Geraldine Brooks ini berkisah tentang sebuah kodeks Ibrani yang dikenal dunia dengan nama Haggada Sarajevo. Silahkan googling, ada loh buku Haggada itu!
“Meskipun kisah dalam novel ini diakui penulis sebagai fiksi, namun beberapa tokohnya ada yang fakta. Artinya buku ini fiksi, namun sebagian di dalam kisah ini adalah nyata.
“Haggada Sarajevo merupakan saksi atas konflik yang pernah terjadi antara Yahudi, Kristen dan Muslim. “Kisah ini berawal saat Dr. Hanna Heath, seorang konservatoir buku langka, mendapat tawaran menangani buku yang pernah dinyatakan hilang.
“Buku Haggada Sarajevo ini dibuat pada abad ke-15. Buku ini berisi kumpulan-kumpulan doa bagi orang Yahudi. Seorang peserta nyeletuk. Ato! Lupakan, mari kita lanjut -red.
“Dr. Hanna Heath kemudian mengiyakan, dan terbanglah ia menuju Sarajevo, Bosnia. Dr. Heath kemudian disambut penjagaan ketat dari pasukan PBB. Penjagaan ini menandakan, pekerjaan yang baru diterimanya bukanlah pekerjaan main-main.
“Dalam buku ini, diceritakan Haggada Sarajevo itu diselamatkan oleh seorang muslim dari penghancuran perpustakaan Sarajevo, Dr. Ozren Karaman namanya. Haggada Sarajevo berisi teks dan ilustrasi lukisan-lukisan yang terbuat dari perak dan emas. Ceritanya teks dan ilustrasi itu ditulis di atas kulit domba, dan diperkirakan domba itu sudah punah.
“Dari buku ini, pembaca juga diajak semacam mencari jejak asal muasal suatu benda. Seperti menelusuri asal-usul benda. Uniknya kita seperti dibawa ke beberapa masa.
“Seperti misalnya ditemukan noda anggur dan darah, air asin, selipan sayap serangga dan bulu putih. Penemuan-penemuan ini kemudian dijadikan sampel untuk diteliti lebih jauh.

Berikut ini ulasan detailnya.
Buku ini disajikan dengan cara unik oleh Geraldine Brooks. Setiap penemuan Dr. Heath disajikan sebagai bab khusus yang menjelaskan asal muasal keberadaan komponen itu di dalam Haggadah. Bab-bab khusus itu pun diberi judul sesuai dengan setiap komponen itu.
Sayap Serangga. Bertempat di Sarajevo pada tahun 1940, menceritakan Lola, gadis Yahudi yang diselamatkan oleh keluarga Muslim, Serif Efendi Kamal, ketika seluruh anggota keluarganya ditangkap oleh Nazi. Pembaca dibawa menyaksikan kehidupan Lola serta kejadian dimana Efendi Kamal mempertaruhkan nyawanya menyelundupkan Haggadah untuk pertama kalinya ketika utusan Nazi datang mencari buku itu di museum nasional di masa perang dunia II.
Bulu dan Mawar. Tahun 1894, pembaca akan dibawa mengunjungi Wina pada masa perselingkuhan marak terjadi dimana-mana sehingga menimbulkan berbagai macam penyakit yang mengambil nyawa begitu banyak orang pada masa itu. Haggadah Sarajevo singgah di tempat ini untuk dijilid ulang, namun sayangnya diperlakukan dengan sangat buruk.
Noda Anggur. Tahun 1609 di Venesia, Haggadah Sarajevo lolos dari Inkuisitor penghancuran buku, Pastor Domenico Vistorini, seorang Yahudi yang berpindah ke Katolik karena tuntutan hidup pada masa itu. Ia memperoleh buku itu dari Judah Aryeh, seorang Rabbi Yahudi yang hidup di wilayah Ghetto.
Air Asin. Tarragona 1492, merupakan tempat dimana teks Haggadah pertama kali diciptakan, sang seniman, David ben Shoushan memperoleh ilustrasi lukisan dari seorang yang buta tuli dipinggir jalan Tarragona. Penulis lagi-lagi menyajikan kisah keluarga Yahudi yang tertindas oleh pemeluk agama Kristen.
Sehelai Bulu Putih. Pada bagian ini pembaca akan mengetahui Ilustrator Haggadah dan kisahnya yang terjadi di Sevilla pada tahun 1480. Peperangan mewarnai kisah ini dimana penganut Muslim menyerang dan menangkap orang-orang kristen.
Selain cerita tentang Haggada Sarajevo, penulis juga mengupas kisah pribadi Dr. Heath dan Dr. Karaman serta tokoh-tokoh lain yang erat kaitannya dengan mereka. Buku ini begitu sarat dengan cerita, sehingga tulisan ini akan menjadi terlalu panjang jika semua kisah itu disinggung dalam satu tulisan ini.
Sumber dari http:// http://althesia.blogspot.co.id/2015/05/people-of-book-by-geraldine-brooks.html
Obrolan tetap berlangsung.
“Masing-masing pengunjung diminta mengajukan beberapa pertanyaan. Beberapa orang pengunjung menghubung-hubungkan dengan buku bacaan yang ada kaitannya dengan buku yang sedang diulas. Buku-buku lain bermuculan, seperti Rumah Kertas-nya Carlos Maria Domingues. Penghancuran Buku-nya Fernando Baez, dan Rumpa’na Bone karya Pung Makmur Makka.

“Bukan hanya buku, film juga disasar, Valkrie, The Book Thief, dan Captain Amerika pun ikut dibawa-bawa. Semua film terhubung dengan partai ini: Nazi. Lagu juga dimunculkan, Dona Dona Dona – Joan Baez yang populer lewat film Gie. Lagu yang menceritakan seekor lembu yang berhasrat ingin menjadi seekor burung walet yang bisa terbang bebas di angkasa.
“Seorang pengunjung Kelab juga penasaran soal Yahudi. Ia lalu bertanya seputar agama Yahudi, dan hubungan buku Haggadah itu dengan Islam.
“Menarik Kelab Buku Educafe A.24 ini!” Kata seorang wakil redaktur media online lokal. Kalimat itu seperti mantra pamungkas, jurus terakhir sebelum cerita berakhir. Atau bisa juga, kalimat itu seperti oase di tengah gurun, aih klise. Bagaimana dengan ini: Seperti hujan yang turun di kemarau yang panjang, ah juga klise. Terakhir: seperti kue kastengel yang hanya ditemukan di musim lebaran. Nah!
“Keberhasilan kegiatan ini, tidak luput dari kerja cadas, owner Gud Mud, Syahrani Said, S.P. Setelah sukses Malam Seni di Gud Mud sehari sebelumnya, sukses pula di malam Kelab Buku ini.
“Apa indikator kesuksesan di malam seni?” Tanya Bobi, barista sibuk itu.
“Entahlah, saya tidak kapabel menjawabnya.”
“Kalau indikator kesuksesan Kelab Buku ini?”
“Mudah saja, buku yang diulas berpindah tangan ke pembaca yang lain, itulah indikatornya.”