Reportase: Pelan, Tapi Pasti
09.00 pm. 18/07/2017 at Gud Mud

Title: Cerita Dari Negeri Siput
Author: Muliadi GF
Publisher: Sampan Institute
Published: Agustus 2017
Page: 202 halaman
Terbaru dari Kelab Buku: ulasan penulis untuk pembaca.
Parepare diguyur hujan, sehari setelah 72 tahun Indonesia merayakan kemerdekaannya. Hujan turun tidak begitu lama, tapi cukup untuk membasahi jalan kecil yang ada di depan cafe Gud Mud. Baunya cukup khas, menyeruak, masuk ke dalam celah-celah ingatanku. Saya merasa seperti Yoana Dianika, bisa merasakan senja yang bercampur bau tanah basah sepeninggal hujan.
Seperti biasanya, pengunjung, tidak selalu ramai di tempat ini. Hampir sama dengan malam-malam kelab buku sebelumnya, pengunjung, bisa dihitung dengan sepuluh jari tangan saya. Namun, malam ini spesial, sebab kami kedatangan dua pengunjung yang beberapa hari lalu baru saja me-launching bukunya, Tri Astoto Kodarie dan Pangerang P. Muda, seorang penyair dan seorang cerpenis remaja.

Malam ini, kami menantikan kedatangan penulis Cerita Dari Negeri Siput, Muliadi GF. Sekitar 15 menit sebelum acara dimulai, Mul — sapaan akrab Muliadi —akhirnya datang, dengan menggunakan jaket hitam dan celana hitam.

Seperti biasanya, acara dimulai pada jam 09.00 malam. Saya membuka acara dengan menyampaikan kepada pengunjung, bahwa “malam ini akan beda dari malam-malam kelab buku sebelumnya”. Memang beda, sebab kami sebelum-sebelumnya, biasa membincangkan buku seseorang di antara sesama para pengunjung. Malam ini berbeda, sebab si penulis buku akan membincangkan isi buku kumpulan cerpennya dengan para pengunjung.
“Saya merasa cukup puas dengan sampul buku ini, sesuai dengan apa yang saya harapkan.” Mul memulai malam dengan membuka pembicaraan yang singkat. “Mungkin itu saja dulu, setelah ini, kita tanya jawab saja.”
Sebelum saya serahkan kepada pengunjung lain, saya menambahkan, “kemarin, kami mengumumkan di facebook 3 orang pemenang memaknai sampul buku Muliadi GF.” Salah satu yang terpilih, Hasnawati Ali R, menulis di statusnya seperti ini:
Menurut saya, buku tersebut bermakna kehidupan yang tenang dan damai. Segala sesuatu dilakukan secara tidak tergesa-gesa, yang lebih mementingkan hasil dibanding harus mengerjakan sesuatu dengan cara cepat namun dengan hasil yang tidak begitu memuaskan. Seperti siput yang berjalan lamban namun tetap berusaha sampai pada tujuannya, tenang dilambangkan dari warna sampul yaitu berwarna biru dan damai kumaknai dari kepala siput yang berbentuk 'peace' seperti angka dua. Terima kasih.
Sifat yang lamban dan tetap berusaha sampai pada tujuannya, begitu menggambarkan karakter seekor siput. Ia pelan, tapi pasti!
Sampul merupakan hal yang paling bisa kita tanyakan, mengingat isi belum sekalipun pernah dibaca. Sampul buku menjadi sasaran pertama pertanyaan pengunjung. Mulai dari kombinasi warna, pemilihan huruf, tata letak, dan gambar.
“Menulislah hal-hal yang ada di dekat kamu.” Mul, seperti sedang membuka kelas menulis. Namun itu betul. Terkadang kita lupa, ada yang patut kita tuliskan di sekeliling kita, tapi menerawang jauh persoalan yang ada di sana dan melupakan soalan yang ada di sini. Seperti ikut memadamkan api tetangga, cuma sialnya, rumah ludes duluan.
Ucapan Mul, bisa saya benarkan. Saya sempat bertanya mengenai ide cerpen: Pelari Lintas Alam. Dari mana ide itu? Ia dengan spontan menjawab, “Saya menyaksikan tivi, acara Olimpiade Rio, seorang pelari yang membawa obor terjatuh, tetapi tetap bangkit, lalu bangkit kembali, dan berlari.” Sesederhana itu, gumamku.
Begitu juga dengan pertanyaan Fani Yo — salah seorang pengunjung —yang mempertanyakan mengenai “ekor pari” di cerpen: Hari Ekor Pari. Mul, mengingat masa ketika dirinya belajar membaca quran, biasanya ada ekor pari yang digantung di bawah kolong rumah.
Politik. Tema yang juga sempat dibahas malam ini. Seorang pengunjung merasa aneh saja, mendengar beberapa orang yang hadir dan terlihat begitu canggung untuk membahas politik. “apakah dalam cerpen ini tidak satupun membahas soal politik?”

Mul nampak terkejut mendengar pertanyaan itu. Buru-buru ia menanggapi pertanyaan itu, dengan memberi satu contoh cerpennya yang membahas kegiatan politik. Sketsa H+2, menjadi cerita yang disodorkan kepada para pengunjung, mengenai kegiatan politik di negeri ini. Bagi Mul, “segala sesuatu bisa berkaitan dengan apa saja, termasuk politik.”
Politik bukan tema kotor. Malam ini, kurang tepat saja membincangkan hal lucu seperti politik ini, seperti akhir dari cerita Sketsa H+2 berikut ini:
Aku pulang sambil menahan tawa. Dan sampai di rumah aku tertawa sepuasnya.
Ha ha ha.
Ha ha ha ha.
Ha ha ha ha ha.
Semakin larut. Jam menunjukkan angka 10.47, malam. Tidak ada lagi pertanyaan dari para pengunjung. Dua penanda untuk segera menghentikan kongkow ini. Saat saya ingin menutup acara ini, Mul, tiba-tiba berbicara.
Mul terlihat bahagia, berterima kasih pada seluruh pengunjung yang hadir. Kepada pemilik cafe, dan terkhusus penerbitnya, yang mengeditori dan menyusun tata letak bukunya. Senyum mereka lepas bukan?

Sampai bertemu di acara Kelab Buku Educafe selanjutnya. Tetap membaca, tetap minum kopi, dan jangan lupa bercinta. Dari saya, yang menantikan kelahiran anak pertama. Terima kasih.