Cinta Orang Tua

Hari kemarin, saya terkekeh melihat ayah saya yang copot gigi palsunya. Tiga gigi seri atas beliau copot sekaligus. Saya mengoloknya seperti saya mengolok anak kecil yang gigi susunya sudah ompong. Sangat menggemaskan ketika beliau saya suruh untuk nyengir Hahaha…

Tiba-tiba saya berpikir, mungkin seperti itu rasanya ketika ayah saya melihat saya ompong karena gigi susu saya habis. Saya pernah melihat foto masa kecil saya seperti itu, saat tiga gigi atas saya tidak ada dan memang menggemaskan…

Sedikit cerita tentang ibu saya. Ibu saya pada 1.5 tahun lalu mengalami stroke ringan sehingga tangan kirinya tidak dapat berkoordinasi dengan baik hingga saat ini. Kondisi ini membuat hal-hal kecil yang dulu ibu saya bisa lakukan sendiri kini harus dibantu oleh orang lain. Saya pun kerap kali membantu beliau untuk memakai bajunya, mengikat rambutnya ataupun menggunting kukunya.

Melihat ayah saya ompong jadi mengingatkan saya bahwa jauh sebelum saya bisa sekarang, saya pernah menjadi ‘nothing’ dan beliau berdualah yang dengan sepenuh hati menyiapkan saya untuk menjadi ‘something’. Sebagai anak, saya terkadang terlalu jumawa karena suka menolak mentah-mentah masukan dari ayah karena saya menganggap pendangan seperti itu sudah kolot. Terkadang saya juga suka menjadi anak yang malas. Mau membantu ibu tetapi sembari menggerutu. Hufffft….

Mungkin ini jawaban mengapa di ajaran agama saya, selalu diingatkan untuk berbakti kepada orang tua. Saya sendiri pun merasa bisa punya banyak alasan untuk bisa membantah mereka. Alasan perbedaan generasi ataupun merasa sudah lebih banyak tahu tentang suatu hal. Berbeda dengan menyayangi anak sendiri, di ajaran agama saya justru diingatkan agar berhati-hati dengan cinta terhadap anak layaknya berhati-hati dengan cinta terhadap harta.

Tulisan ini sebagai pengingat saya untuk selalu berusaha menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dengan tidak mengedepankan ego saya sebagai anak walaupun kenyataannya itu memang sulit… Berbeda dengan cinta orang tua terhadap anak yang otomatis sudah sangat besar bahkan sebelum anaknya hadir di dunia. Sebagai bayangan rasa cinta mereka terhadap anaknya, bisa membayangkan manusia yang cinta terhadap harta benda yang ada di dunia ini. Tanpa diajarkan dan dilatih pun, cinta pada harta memang sudah fitrahnya manusia bukan? Kira-kira seperti itu…