review buku: Para Bajingan yang Menyenangkan

koleksi pribadi

Di sebuah lapak batu akik di Rawabening, dia bertanya,”Pak , ini kenapa mahal sekali?”
 “Ada huruf ‘Allah’ di batu ini,Pak…” Penjualnya lalu dengan serius mengambil senter,menunjukan motif tersebut kepada Bagor.”
 Sambil terus mengamati,cangkemnya yang semampluk itu nyeletuk,”Lha kalau tulisan ‘Allah’, di Al-Quran kan juga banyak. Tapi nyatanya Al-Quran enggak semahal ini. Kalau mau mahal-mahalan kan mestinya mahal harga Al-Quran….” (Hal.142)


Buku ini bukan buku panduan menjadi bajingan. Tapi buku ini menceritakan kisah sekelompok anak muda mahasiswa UGM yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam study tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.

Selama membaca buku ini Anda akan disuguhkan kisah-kisah yang menyenangkan dan konyol. Bagaimana lika-liku kehidupan para anggota jackpot society dalam mengarungi dunia perjudian. Mereka memiliki cita-cita yang mulia: apalagi kalau bukan menjadi penjudi besar. Cita-cita merekapun kandas seturut kebangkrutan mereka semua. Tapi pada akhirnya mereka menjalani hidup normal selayaknya orang-orang. Meskipun masih saja “kenthir”.


Bagian favorit yang membuat saya tak berhenti ngekek adalah ketika almarhum sahabatnya mas puthut berkomentar soal teman yang curhat karena patah hati:
“Kisah cintamu itu betul-betul…tapi kamu salah tempat curhat.”
Orang tersebut biasanya akan bingung.
Sahabat saya melanjutkan, “Lha kami kalau ada kisah asmara berakhir,senangnya enggak umum.”
“Kok bisa?”
“Lha slogan kami itu: kawan senang, ikut senang. Kawan susah, tambah senang.” (Hal 37)

Juga percakapan antara bagor dan orang tuanya saat buka puasa:
“Ayo,buk,nambah…,” ujar Bagor sambil telap-telep makan karena kelaparan. Maklum, hampir 20 tahun tak pernah puasa.
“Iya, Nak. Ini daging asapnya enak sekali…,” sahut ibunya sambil tersenyum bahagia.
“Itu babi panggang paling enak se-mBintaro, Buk…
Ayo Pak, Buk, tambah lagi!” (Hal 55)


Tentunya masih banyak hal didalam buku ini yang pastinya akan membuat pembaca ngekek kayak orang kenthir. Dagelan khas mentaram dan kisah-kisah sederhana yang disajikan dengan apik oleh penulis membuat buku ini layak untuk kalian yang sedang patah hati. Eh, maksudnya sedang mencari referensi buku bagus untuk dibaca (setidaknya versi saya).

Dan selesai membaca buku ini anda pasti akan misuh “ncen bajingan mas Puthut ki.” .

Tabik.