Radio Dalam Sebelas Malam

Ada Bram, sudah 3 tahun bekerja di restoran cepat saji daerah Sarinah. Besok jatahnya shift pagi, yang artinya ia harus berangkat sebelum pukul enam. “Susah tidur,” katanya usai menyeruput teh panasnya.

Ada Tini, 7 tahun sudah ia tinggal di Jakarta. Lampung, asalnya. Baru saja turun dari ojek langganannya. Malam ini, tepat sebulan ia bekerja sebagai marketing di sebuah bank swasta. “Pusing!” keluhnya sambil mengeluarkan kemasan rokok menthol dari dalam tasnya. Kejar target minimal 16 aplikasi setiap bulannya.

Ada Ani, 24 tahun, asli Tegal, besar di Jakarta membantu mamaknya berjualan warteg. Leher, lengan, punggung, dan pahanya dipenuhi tato. Terlihat kontras saat mengiris bawang dan cabai merah sambil sesekali menghisap sebatang kretek yang ia taruh di sudut meja.

Ada Mak Rahayu, sudah 30 tahun mengontrak rumah di sebuah gang di jalan Radio Dalam. Karirnya dimulai saat ia masih belia, ketika ia memutuskan merantau ke ibukota, mengikuti jejak sukses salah satu saudaranya. Sekarang, Mak Rahayu memiliki warung nasinya sendiri. “Buat besok!” katanya sambil menyiapkan sayur-mayur dan bumbu-bumbu.

Ada Mbah Jagung, seorang nenek tak bersanak, beranak, dan bercucu. Tertatih-tatih ia berjalan ke warung Mak Rahayu sambil menyeret setengah penuh karung berisi botol bekas aneka minuman hasil perburuannya malam ini yang ia pungut dari tempat sampah rumah warga.

Mak Rahayu yang menyadari kehadiran Mbah Jagung kemudian mengambil kantong plastik, memasukkan beberapa gorengan dan pare rebus sisa jualan hari ini. Mbah Jagung menerima bungkusan itu, menganggukkan kepala, dan mengucapkan terima kasih. Lalu perlahan kembali berjalan meninggalkan warung Mak Rahayu sambil menyeret karungnya.

“Sering seperti itu, Mak?” tanya Joni setelah memperhatikan kejadian itu.

“Hampir tiap malam, Mas… Nanti, botol-botol itu dijual ke suami saya.” jawab Mak Rahayu.

Tak berselang lama, usai menyiapkan sayur-mayur dan bumbu, Mak Rahayu berjalan ke meja di mana Bram, Tini, Ani dan Joni duduk semeja sambil membawa selembar kertas berwarna kecoklatan yang tampak lusuh.

Mak Rahayu pun mulai berkisah. Selembar kertas itu adalah ijazah milik seseorang bernama Tasrim. Ia sedang tergila-gila dengan salah satu asisten sekaligus adik ipar Mak Rahayu. Yu Yah, namanya.

Belum lama ini Tasrim menyatakan cintanya. Saat menyatakan cintanya, entah apa motifnya, Tasrim sambil memegang-megang dan memamerkan tititnya dan membuat Yu Yah yang telah bersuami ketakutan setengah mati.

Tasrim cerdik siang itu, ketika ia datang ke warung Mak Rahayu sedang salat Zuhur di rumah kontrakannya. Barangkali Tasrim waspada, ngeri membayangkan Mak Rahayu mengomelinya.

Rupanya, gagalnya usaha pertama tak membuat Tasrim jera. Gagal menyatakan cinta dengan cara provokatif, keesokan harinya ia mendatangi warung Mak Rahayu dengan lebih intelektual.

Tasrim berdandan rapi, mengenakan kemeja putih dan rambutnya klimis. Tasrim ingin melamar Yu Yah, dengan selembar ijazah yang dibawanya.

Semua yang mendengarkan cerita Mak Rahayu tertawa malam itu. Sayang, Yu Yah sudah lebih dulu pamit pulang.

Lalu, malam kembali hening. Sebentar lagi hari berganti. Di bawah temaram lampu sesekali pengendara motor melintas dan membunyikan klaksonnya, ada yang mengangguk bahkan ramah menyapa. Barangkali pulang kerja, pun bisa saja baru mau berangkat kerja?

Mak Rahayu mengunyah camilannya.

Bram dan Tini terpaku pada layar smartphone-nya.

Ani menyalakan batang kreteknya yang kesekian.

Joni yang menyaksikan semua itu lalu menoleh ke arah Mbah Jagung yang sedang memunguti botol bekas di tong sampah dan memasukkannya ke dalam karung sepanjang gang yang dilewatinya hingga sosoknya lenyap di tikungan.

***

Like what you read? Give monyet! a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.