Daftar Kebiasaan Buruk Fotografer


Ketika fotografer satu berjumpa fotogafer lainnya, topik obrolannya sudah dapat diprediksikan; bicara teknis. Bosan? Sama. Yang lebih membosankan lagi adalah ketika kita mendapati perilaku-perilaku fotografer yang cenderung menganggu. Beberapa di antaranya yang teringat akan saya tuliskan di bawah ini.

Saya menuliskan ini sebagai catatan, untuk diingat, supaya saya sendiri tidak melakukannya kepada teman-teman fotografer lain. Kebiasaan-kebiasaan yang kurang menyenangkan ini berdasarkan pengalaman pribadi yang saya terima selama bersosialisasi dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar.

01.
Mengkritik tanpa dimita

Konteksnya seperti ini; seseorang yang kita tahu sedang dalam tahap pemula, mempublikasikan karya melalui akun media sosialnya. Katakan saja kita tahu status orang tersebut dan mengenalnya secara personal. Tapi sayangnya hal ini tidak serta-merta membuat kita lantas merasa berhak mengkritik tanpa mengetahui proses kreatif orang tersebut. Bertanya tetap menjadi pilihan terbaik. Mendengarkan penjelasan terlebih dulu juga bukan hal yang hina.

02.
Menjadi guru di muka publik

Mengingat proses awal dulu, saya lebih banyak belajar melalui online. Guru saya banyak, beberapa di antaranya saya jadikan mentor. Dari berbagai metode pengajaran yang mereka lakukan, menjadi catatan tersendiri bagi saya. Yaitu mengenai penyampaian timbal balik. Memang benar di setiap platform media sosial menyediakan kolom komentar, dan kita bisa memanfaatkannya. Tapi saya ingin menyoroti tentang cara penyampaiannya, bukan pada medianya. Sebenar-benarnya guru dan menggurui adalah hal yang berbeda.

03.
Menilai karya dari sudut pandang pribadi

Ini adalah hak sebenarnya. Ketika sebuah karya dipublikasi, karya tersebut menjadi hak publik untuk dinilai. Tapi sebelum kita mengelompokkan ke dalam level-level tertentu, tolong pertimbangkan ini; jika kita sama-sama fotografer yang juga memiliki karya, dan kita tetap melakukan ini, kira-kira dengan cara apa kita dapat mengembangkan pola pikir? Dan yang lebih penting, pertanyaan berikut: sebesar itukah ego kita?

04.
Berkata ‘gak laku’ kepada ide-ide tolol

Orang-orang yang berkata demikian mungkin belum pernah membaca kisah Philip Halsman dan Salvador Dali. Selama 30 tahun lebih kolaborasi dua seniman gila ini selalu menghasilkan karya yang di luar dugaan. Jika meledakkan itik tidak dianggap kriminal mungkin akan tetap direalisasikan oleh mereka berdua. Meskipun demikian, sebagai substitusi mereka membuat ‘Dali Atomicus’ yang menggelegar hingga kini.

Lagipula begini, ide-ide tolol juga belum tentu diniati untuk dijual kok. Kadang ide tolol sengaja diwujudkan hanya untuk kesenangan belaka.

05.
Melihat hasil foto orang lain yang masih di kamera

Sepertinya hal ini sepele, tapi jika dibiasakan akan mengarah kepada perilaku lancang. Foto-foto yang masih ada di kamera adalah karya mentah. Jika diumpamakan masakan, foto tersebut adalah bahan. Proses fotografi belum selesai sampai di sini. Karena terkadang kita tidak tahu bahan mentah itu baik atau tidak untuk disajikan sampai kita mengolahnya. Bersabarlah sedikit, dan yakinlah teman koki kita akan menghidangkan yang terbaik. Percayalah.

06.
Asal jepret dengan kamera orang

Norak banget. Seolah-olah tidak pernah pegang kamera saja. Mungkin maksudnya sederhana; tertarik mencoba-coba kamera merk/tipe/seri lain; seperti apa rasanya, seperti apa hasilnya. I mean seriously… Jangan sekali-sekali asal comot kamera orang dan main jeprat-jepret seenaknya. Apalagi jika kameranya menggunakan film, bukan digital. Asal jepret di tengah-tengah rol akan menghancurkan contact sheet. Untuk bagian ini entah berapa orang yang paham.

Jika, dan hanya jika, kita benar-benar ingin mencoba kamera milik teman, pertama kali yang harus kita lakukan adalah ijin. Kedua, pastikan kita benar-benar mencoba, mengulas, atau melakukan perencanaan. Saya percaya, jika kita terlihat serius, bahkan seorang fotografer analog pun akan rela memberikan satu atau dua rol untuk dicoba.


Jika anda merasakan adanya sedikit penekanan pada poin terakhir, berarti anda sudah tahu maksud tulisan ini. Demikian, atas perhatiannya saya sampaikan terima kasih.

:p