Teruntuk kamu, pria yang tak bisa kutatap wajahnya,

padahal sering bertemu pandang.

kamu, yang entah sejak kapan mulai kuingat parasnya. yang entah sejak kapan, tak bisa kutatap wajahnya. yang entah sejak kapan, selalu kupalingkan wajah setiap bertemu tatap, karena aku tak kuat dengan pacu jantungku yang semakin kencang.

aku ingat, suatu pagi. Pagi yang membuatku tersenyum seharian, walau sibuk karena kerjaan menumpuk. Pagi yang membuatku seperti orang gila sepanjang hari. Hanya karena pertemuan singkat denganmu. Pertemuan tanpa balas kata, hanya tabrak tatap yang membuatku memalingkan wajah. Pertemuan sunyi, hanya berjalan lambat menuju kantor masing-masing. Kau berjalan di depan menatap jalan, aku berjalan di belakang menatap jalan — dan sesekali menatapmu diam-diam. Sungguh, aku orang yang paling bahagia di hari itu.

Teruntuk kamu, yang selalu ada dalam bayang-bayang, bila bisa kuminta satu hal padamu. Tiada lain hanya satu pintaku saat ini.

Bisakah kamu pergi dari pikiranku?

Like what you read? Give Ratna suwendiyanti a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.