(narasi)

Ini tentang jadi anak SMA.

Dibilang anak kecil, telah lewat masanya.
Tapi dibilang dewasa, belum juga.
Agaknya, sah-sah saja kalau tahap hidup satu ini tajuknya dilema.
Saat di mana kita makin membuka mata, 
mulai akrab dengan cara realita bekerja.
Menjumpa apa yang mereka ujar tentang hidup sebenarnya.

Dan untuk bersamamu melintasi itu semua,
sungguh bukan main aku bangga.

Untuk bisa merasa dan merasa bisa.
Berdarah muda.
Menjadi belia.

Bicara masa remaja, niscaya siapapun tak pernah kehabisan cerita. 
Entah bahagia, entah nestapa, dan memang tak sama rata.
Lama-kelamaan, segalanya terbiasa.
Hingga kita lupa: waktu kita kedaluwarsa.

Tiga tahun sudah. Tiga tahun Jogjakarta jadi saksi
kamu dan aku yang terlibat kolaborasi.
Melukis prestasi, merawat reputasi, saling mengisi hari dengan tragedi dan komedi.
Tak jemu-jemu kita unjuk gigi. Persisten menjemput jati diri.
Sama-sama mencari, dan lalu mencipta arti.
Ratusan hari, temanku, telah habis ratusan hari hingga 
tiba giliran kita berangkulan terakhir kali.
Sadarkah selama ini kita dibawa waktu berlari?

Baru kemarin naik satu tingkat, sampai kini siap-siap berangkat.
Kian hari kita kian dekat, sembari berjuang giat, 
sebelum ramai-ramai pergi ke lain tempat.
Babak baru di mana mimpi-mimpi ini tertambat.
Kalau sudah sampai di sana, 
jangan lupa, ya, aku diingat.
Karena di benakku 
kamu akan terus lekat.
Dan di hati ini
kamu selalu punya tempat.

Teman-teman,

Ini untuk mengingat masa dahsyat tiada tandingan.
Ini untuk menyimpan jejak langkah petualangan.
Ini untuk kita pemudi-pemuda yang mengharap pengakuan;

ini, untuk merayakan tiap-tiap keberadaan.

Untuk yang tidak keberatan suaranya tak diperdengarkan,
Untuk yang ada di balik acara-acara terselenggarakan,
Untuk yang dijauhi karena tidak ngasih contekan saat ulangan,
Untuk yang mengekor di belakang tiap jalan beriringan,
Untuk yang berambisi meraih mimpi namun dicap kelewatan,
Untuk yang belum pernah hadir di sebuah pertandingan,
Untuk yang was-was jadi bahan pembicaraan,
Untuk yang mencegah tim tatib jadi pengangguran,
Untuk yang nyaman menyibukkan diri di pojokan,
Untuk yang dilarang ikut makan tiga angkatan,
Untuk yang dibilang riasannya berlebihan,
Untuk yang tahu jawaban tapi sungkan mengangkat tangan,
Untuk yang dihantui pertanyaan, “mau jadi apa aku lima tahun ke depan?”
Untuk yang fisiknya dijadikan candaan,
Untuk yang sempat bersenang-senang di tengah lapangan,
Untuk yang rela mendukung kelas hujan-hujanan,
Untuk yang berjasa memakmurkan usaha angkringan,
Untuk yang pernah kasmaran; baik dalam diam maupun terang-terangan,
Untuk yang ingin jadi penjaga gawang liga muhi namun tidak kesampaian,
Untuk yang pernah lelah belajar hingga tertekan.

Ketahuilah bahwa kalian jiwa-jiwa indah bukan buatan.

Teman-teman,

segera setelah seragam-seragam kita disumbangkan,
semoga semua yang sudah-sudah
tak lantas sirna terlupakan.

Teman-teman,

Ini buat menyudahi pertemuan,
saatnya kita temui perpisahan.