Respon Terhadap Surat Keterangan Bebas LGBT Dari Salah Satu Universitas di Indonesia.

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Saya masih ingat bagaimana setiap siswa dari SD sampai SMA harus mengucapkan sila ke-5 itu secara lantang setiap diadakannya upacara bendera setiap hari Senin. Ingatan itu masih sangat melekat dalam kepala saya. Bagaimana beberapa siswa akan mengeluh kepanasan dan beberapa siswa tetap khidmat menyebutkan sila ke-5 Pancasila itu dengan lantangnya.

Sekarang, saya hanya bisa tertawa miris setiap mengingat sila ke-5 tersebut.

Beberapa hari lalu terdapat sebuah berita di mana Universitas Andalas, salah satu universitas di Padang, Sumatra Barat, membuat para calon mahasiswa barunya harus membuat sebuah ‘Surat Pernyataan Bebas LGBT’, membuat mahasiswa dan mahasiswi baru yang LGBT tidak mempunyai hak untuk mengenyam ilmu di Universitas Andalas yang mungkin adalah universitas pilihan mereka.

Kembali, saya tertawa miris. Keadilan. Keadilan apa? Keadilan bagi mayoritas?

Keadilan bahwa hanya mayoritas (heteroseksual) yang berhak mengenyam ilmu setinggi langit? Keadilan bahwa orang-orang LGBT harus dimusnahkan di muka Bumi ini? Keadilan apa?

Semua warga negara bukannya mempunyai hak untuk merasa aman, nyaman, dan bahagia di negaranya sendiri? Ini mana? Warga negara atau hanya mayoritas?

Mereka imoral? Mereka tidak melakukan tindak kejahatan. Mereka hanya menjadi diri mereka sendiri. Entah apa yang ada di pikiran kalian terhadap kata-kata ‘imoral’ ini. Kebebasan berekspresi saja tidak ada. Keadilan untuk mengenyam pendidikan saja ditentang.

Keadilan apa?

Mereka tidak koar-koar minta pernikahan sesama jenis didapatkan kok. Itu mah masih jauh di depan sana. Mereka minta mereka hidup tanpa kebencian, tanpa ketakutan. Bisa berpendidikan dengan bangganya. Itu saja. Apakah itu hal yang sangat susah untuk diberikan?

Keadilan apa?

Keadilan apa yang kita banggakan ketika mereka harus membawa koper mereka ke luar rumah hanya karena mereka diusir? Keadilan apa yang kita banggakan ketika mereka hanya berpikir bahwa mengakhiri hidup adalah satu-satunya solusi agar mereka bisa tenang? Keadilan apa yang kita banggakan ketika mereka dicaci maki, ditelanjangi, dipermalukan hanya karena mereka adalah… mereka?

Keadilan apa?

— — — —

Untuk komunitas LGBT di luar sana, ingat bahwa dirimu tidak sendiri di sini. Masih banyak orang yang akan memelukmu erat dan akan menyemangatimu.

Kuat dan sabar.

Ya, kuat dan sabar adalah dua kata yang terlalu optimis. Tetapi, percaya bahwa di masa depan, hidup kalian akan lebih baik lagi.