Ah, Bahkan Tuhanpun Diusili

Di televisi, tadi sore (09-09-2015), diberitakan mengenai seseorang yang memiliki nama Tuhan digugat di sebuah pengadilan negeri—sayangnya saya tak begitu memperhatikan pengadilan negeri mana. Saya tidak tahu apa yang menjadi ancaman dari orang yang bernama Tuhan itu. Toh, belum pernah terdengar dia membuat kekacauan seperti membuat agama baru, atau mengaku dirinya sebagai Tuhan pencipta alam semesta. Yang dia lakukan hanya menjadi dirinya sebagai manusia yang sedang apes karena oleh orang tuanya diberi nama Tuhan. Semakin apes karena nama itu didaftarkan secara resmi di akte kelahirannya.

Tindakan siapapun yang menuntut pengubahan nama itu di satu sisi bisa dimaklumi, tapi di sisi yang lain juga tampak ke kanak-kanakan. Coba saja pikir, apa bahayanya dari orang yang bernama Tuhan itu? Dia hanya orang biasa yang kesehariannya hanya bekerja sebagai tukang kayu. Hidupnya sudah tenang dan sepertinya selama empat puluhan tahun masa hidupnya selama ini, tak ada satupun masyarakat di sekitarnya yang mempermasalahkan nama itu. Dan yang terpenting, tak satupun orang di sekitarnya yang menyembah orang bernama Tuhan itu. Lalu masalahnya di mana?

Saya yakin, sebagai seorang muslim, siapapun yang sekarang mempersulit kehidupan orang bernama Tuhan itu sebenarnya hanya memuaskan nafsunya saja. Yang mereka lakukan pada dasarnya malah bakal mempersulit kehidupan orang tersebut. Andai saja tuntutan mengubah nama itu dikabulkan oleh pengadilan, maka orang bernama Tuhan itu akan disibukkan dengan berbagai hal mengenai administrasi yang merepotkan.

Saya membayangkan dia akan mengubah akta lahir (bayar administrasi dengan besaran seikhlasnya, pungutan liar, plus parkir dua ribu rupiah), mengubah nama di ijazah (bayar administrasi, sumbangan seikhlasnya, pungutan liar, plus parkir dua ribu rupiah), mengubah nama di kartu sim (tes ulang, bayar administrasi, plus bayar parkir dua ribu rupiah), belum lagi kalau dia punya nomor rekening di bank, lalu terdaftar di BPJS, dan itu semua belum ditambah dengan layanan birokrasi yang sering membuat frustasi (dilempar dari satu meja ke meja lain). Saya yakin, setiap keringat orang bernama Tuhan itu harus dibayar oleh siapa saja yang mempersulit hidupnya itu. Terutama bagi mereka yang menyebarkan foto KTP yang berisi nama Tuhan dan menganggap itu hanya sebagai lelucon.

Telah dipublikasikan juga di http://jamselo.com/2015/09/09/ah-bahkan-tuhanpun-diusili

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.