Penuturan: “Saya Hanya Petugas Negara.”
Disclaimer: Cerita ini ditulis dengan metode menuliskan sesuai ingatan penulis. Isi dari cerita merupakan fakta, detail peristiwa mungkin berbeda karena keterbatasan daya ingat penulis.
Matahari menyengat tepat di atas ubun-ubun ketika saya melewati seorang Opa terduduk merenung di teras rumahnya. Rumah yang telah dihuninya semenjak entah dari kapan. Sebuah rumah berlantai satu dengan cat putih dan pagar rendah setinggi pinggang orang dewasa. Saya mengenal Opa itu, beliau tetangga dari kakak nenek saya yang mengenalkan saya kepada piringan hitam. Sudah lama tidak bersua dengannya. Alangkah baiknya, kesempatan ini saya pergunakan untuk menyapanya. Saya pun membuka pagar dan masuk ke halaman rumahnya.
“Opa, keur naon? Geuning sorangan?”
Beliau masih mengingat saya. Beliau menyeringai kearah saya, menyibakan sarungnya, dan beranjak dari kursi rotan untuk melambai ke arah saya.
“Da si incu, tong lalagaan cakap Sunda! Sanes iraha ka dieu teh? Hayu diuk heula atuh, diuk jeung Opa!”
Saya pun tertawa sembari menghampirinya, mencium tangannya, dan kemudian mengambil kursi untuk duduk di sampingnya. Dari jarak yang lebih dekat dapat terlihat Opa yang sekilas menua lebih cepat dari perjumpaan terakhir ketika awal saya masuk kuliah. Kami duduk bersebelahan di dua kursi rotan memandang jauh ke lapangan seberang jalan.
Setelah duduk diam sejenak, saya heran. Saya mendapati suasana di sekeliling yang lengang nian. Tidak ada orang lain saat itu. Ternyata putera sulungnya tengah menjalani dinas ke Jambi, sementara puteri bungsu dan istrinya sedang menjenguk mertuanya di Malang. Beliau ditinggal sendiri, setidaknya untuk dua minggu ke depan. Sebagai pensiunan prajurit, tinggal sendiri di rumah pada masa tua bukan harapannya. Sepanjang masa muda, raganya telah melanglang untuk menjalankan berbagai misi. Dalam keadaan renta, beliau berharap selalu berada di tengah keluarga. Tidak seperti ini. Opa terlihat lebih gembira melihat saya berkunjung secara tiba-tiba.
“Haus tidak? Eh Kamu teh tidak ke kota (Bandung)?”
“Oh tidak, ini baru pulang makan bakso. Bandung mah macet, mending ketemu Opa saja.”
“Halah bisa aja! Gimana kuliah? Belajar apa aja?”
“Ya gitu, tidak seperti yang dibayangkan.”
“Da atuh apa yang dibayangkan? Seneng tapi?”
“Ya gitulah, kadang bosan, tapi kawannya baik-baik. Banyakan perempuan geuning.”
“Ya atuh masuk Psikolog, geura di AKMIL loba jajaka atuh, Neng. Tapi ulah ah AKMIL mah permainan saja isinya. Sudah bagus kamu di UI.”
Kami pun tertawa bersama setelah kalimat yang dilontarkannya. Sedari saya kecil, saya paham benar bahwa beliau tidak pernah bangga menjadi bagian dari prajurit negara. Foto dengan pejabat, samurai di dinding, dan berbagai tanda mata kenegaraan hanyalah bagian dari penghias rumahnya. Tidak gemar bercerita tentang asal muasalnya, bahkan mungkin saja istrinya yang menaruh semuanya sebagai pajangan di rumah. Sayang bila menganggur. Selintas di pikiran, mungkin ini saatnya mengajukan pertanyaan terkait hal tersebut.
“Opa, cerita dong pas jadi tentara. Aku kan belum pernah dengar.”
Opa di sebelah saya masih terdiam. Menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan, dan memulai ceritanya. Cerita awal dari sebuah penuturan.
“Opa lahir di Garut, mungkin saat itu kakek dan nenekmu pun belum lahir. Keluarga Opa biasa sajalah. Hanya saja cukup agamis. Islamnya sangat kental. Sebelum Magrhib semua masuk rumah. Jalan sepi, anak-anak berhenti main. Bapak-bapak pergi ke langgar (musholla), ibu-ibu tadarus di rumah. Pas udah beres sekolah, jangan tanya umur berapa ya. Karena waktu itu semua anak masuk sekolah telat (umurnya). Ada pejabat dari pusat bilangnya riset untuk pertanian, padahal teh mengumumkan jika ada pendaftaran masuk ABRI. Ya daftar, pendidikan, dan lulus. Dulu harus pintar dan kuat, tidak titipan seperti sekarang.”
“Terus langsung tugas?”
“Iya banyak, ke mana-mana. Baru tahun ’60-an di Siliwangi.”
Saya menengok ke dalam rumah, terlihat sebentuk taksidermi Cendrawasih dan di atasnya ada foto Opa sedang bersalaman dengan Pak Soeharto.
“Waktu tugas pernah ketemu Pak Harto?”
“Smiling General, pernah. Yang pertama bukan di foto itu, tapi di tempat lain. Ramah orangnya, beberapa tahun sebelum Gestok.”
“Gestok? Bukannya…”
“Iya, harusnya Gestok namanya.”
“Mengapa?”
“Karena kejadiannya di tanggal satu Oktober, bukan akhir November. Nih Opa cerita agak panjang ya.”
Sesungguhnya saya tidak siap untuk berpikir berat siang itu. Angin semilir, perut kenyang, dan sandaran kursi rotan sedang berkonspirasi menyebabkan kantuk. Akan tetapi, saya tidak tahu kapan lagi akan mendengar cerita dari Opa. Bertemu saja sulit. Saya harus menahan kantuk dan fokus dalam mendengarkan cerita ini.
“Februari 1965, waktu itu malam takbiran. Opa pulang kampung ke Garut, minta izin ke orang tua mau melamar istri saat itu. Sewaktu pulang, dengar kabar ada pejabat pemerintah ke kampung untuk cek apa orang kampung ada komunis. Sebab PKI sudah himpun banyak massa di Indonesia. Orang intelek pada merapat ke sana. Serikat Islam itu cikal bakalnya PKI. Rutin itu, ceknya dulu. Maka Jawa Barat bersih dari PKI.”
“Lha kok bisa?”
“Jawa Barat itu ditanamin ide bahwa komunis itu tidak percaya Tuhan. Jadi bersih, di daerah lain susah itu ngajarin kayak gitu.”
Saya mencoba mencerna sembari antusias mendengarkan.
“Agustus 1965, Bung Karno kena stroke. Ringan, tapi mengkhawatirkan.”
“Bisa mati?”
“Bukan, politik yang gak aman. Bung Karno itu banyak juga yang tidak suka. Politik Mercusuar. Bangun Senayan, eh rakyat masih antri beras.”
“Lalu, ada yang mau memakzulkan?”
“Bukan hanya dia, namun satu generasinya. Di situ dalam militer pun kelahi. Pimpinan Jawa Barat itu anti dengan PKI, namun patuh dengan Bung Karno. Dia lapor itu adanya operasi yang bikin ideologi komunis itu tidak bertuhan.”
“Terus, Bung Karno?”
“Dipanggil oleh Bung Karno, ditanya kenapa. Dibilang itu, militer itu cemburu karena bung Karno begitu memanjakan PKI. Secara pro Nasakom dan petinggi PKI, ya jelas suka. Cocok obrolannya. Sayang PKI, juga salah. Terlalu frontal di masa itu. Pertumbuhannya mengkhawatirkan. Ada isu juga, PKI sudah beli-beli senjata dari luar negeri. Katanya ditaruh di Halim dan pelabuhan-pelabuhan, tinggal tunggu lengah baru bisa masuk. Ya entahlah benar tidaknya mah.”
“Senjata untuk apa? Bikin militer? Kudeta?”
“Lain! Jeung sipil. Sebagian kan sudah terancam sama tentara jadi buat perlindungan mungkin.”
“Terus Opa ngapain?”
“Di Siliwangi mah santai, tunggu perintah tidak ikut gerakan seperti perintah para petinggi waktu itu. Pimpinan kami loyalis pada Soekarno. Baru setelah itu ada kejadian. Oktober dini hari ada sebagian pimpinan diburu, padahal paham dengan PKI pun tidak. Soekarno diungsikan, bahkan waktu itu di radio (RRI) harus tunggu pagi jelang siang buat menyiarkan kondisi aman.”
“Kenapa ada jeda waktu?”
“Ya karena permainan. Menyusun alibi. Waktu itu ada sejawat dari Diponegoro langsung ke Halim, mau disambut Soekarno untuk koordinasi. Namun, Soekarno dicegah pergi. Sayang…”
Raut wajahnya menjadi pilu seketika. Tidak ada air mata, hanya lara yang tergambar di air mukanya.
“…mereka disergap oleh tidak tahu satuan mana. Ditembaki. Dibilang pelaku pengkhianatan Jawa Tengah. Padahal mereka ke Jakarta untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.”
Malu bertanya, namun penasaran begitu mencekat akan kelanjutan penuturan. Ah. Bertanya sajalah.
“Kemudian, Opa bagian apa? Satuan bagian Opa bertugas diam saja? Itu berapa lama? Mereka maunya apa? PKI itu akan jadi apa? Mengapa begitu harus dibumihanguskan?”
“Sabar sabar. Pertanyaannya dijawab sembari ngomong. PKI akan jadi poros kekuatan terbesar, banyak yang sejalan dengan pahamnya. Banyak juga yang merasa terancam. Ceuk Opa mah, pihak asing juga terancam. Indonesia warganya banyak akan jadi apa kalau model pemerintahannya komunis. Militer atau kaum DI pun nampaknya terancam. Begitu Soekarno lengah dengan kesehatan, itu saatnya kekuasaan PKI harus ditekan atau dilenyapkan. Jadilah kambing hitam pemberontakan. Saya hanya petugas negara, lakukan saja apa yang ditugaskan. Beruntung pimpinan termasuk ‘lurus’ di militer. Berapa hari setelah kejadian pembantaian dapat tugas pergi dinas luar kota. Cari jenazah. Potong jempolnya, kirim ke pusat.”
“Jempol? Punya siapa?”
“Siapa saja tokoh PKI, ada daftarnya.”
“Beneran?’
“Ada satu dua, tidak jelas mayat siapa. Hatuh da tos busuk. Tidak ketemu juga (yang dicari), ya kirim saja ke pusat toh mereka tidak tahu dan yang dicari sudah pasti mati.”
Saya hampir bergidik karena merasa ini mengerikan. Tidak sekejam algojo yang melakukan eksekusi, namun untuk sebuah operasi pembersihan ini bukan pekerjaan malaikat. Setelah itu Opa menjelaskan kenaikan karirnya hingga setelah pensiun dapat menjadi anggota DPRD daerah kelahirannya, namun semua terkesan biasa saja dibanding cerita sebelumnya. Tak lama, kami berdua terdiam hingga siang itu berakhir menjelang sore. Sekadar percakapan basa-basi terurai setelahnya sebagai penutup perjumpaan.
***
Tiga tahun yang lalu, setahun setelah percakapan itu, Opa tutup usia. Beliau dimakamkan di sebuah pemakaman sederhana di samping istri seorang penyanyi dangdut yang meninggal karena kecelakaan. Bila dilihat kedua makam tersebut adalah yang bernisan pualam. Alangkah disayangkan, tidak seperti makam istri penyanyi dangdut yang dikunjungi warga sekitar, makam Opa lebih sepi kunjungan. Terakhir berkunjung, penjaga makam hanya mampu berkata, “Salah apa ya Bapak ini di masa lalu, kok jarang ada yang nengok? Neng lagi neng lagi yang datang tiap tahun.”
Kewibawaan sebuah jabatan tiada pernah akan menyusul ke liang lahat. Kita sendiri yang menentukan bagaimana kita akan dikenang setelah kehidupan berakhir.
Cimahi, Februari 2015.