Catatan Jambore Mojok 2017

Mojok bersama, bercanda berdua, bahagia selamanya

Sebagai tanggungjawab terhadap diri sendiri atas uang jajan seminggu yang ludes dipakai jalan-jalan sambil belajar ke Kaliurang, Yogyakarta, sejak Jum’at (25/8) sampai Senin (28/8), maka catatan tentang hasil belajar di Jambore Mojok 2017 harus dibuat. Ditambah permintaan oleh-oleh dari beberapa kawan, yang setidaknya karena tak bisa saya kabulkan dalam bentuk batik, bakpia, apalagi gudeg, maka bukankah ilmu lebih utama?

Intinya bahwa saya agak mulai malas mencatat sejak berkembangnya teknologi komputer (mulai, deh, mengkambing hitamkan teknologi). Kamu boleh menganggap ini sebagai alibi, namun menulis pakai tangan atau pada gawai tak senikmat menggunakan laptop. Ada taste yang berbeda. Pendek kata, karena tak punya catatan, dan tak merekam, saya akan menulis ini murni dari ingatan.

***

Zen RS, salah seorang pembicara mengatakan, latihan kedisiplinan skill menulis bisa dilakukan dengan pelbagai cara. Mulai dari menerjemahkan karya sastra, menulis ulang karya tersebut (novel atau cerpen), tidak boleh menulis kata “yang” lebih dari dua dalam satu paragraf, hanya menggunakan koma setelah lima, delapan, atau sepuluh kata, mencari dan menggunakan kata dalam KBBI yang belum pernah dipakai sebelumnya, menggunakan metode resensi buku untuk melatih efektifitas kalimat, atau menghapus setengah cerita novel bagian akhir dan melanjutkannya dengan versi diri kamu sendiri (ini pernah dilakukan oleh Budi Darma), dll.

Menurut Zen, metode resensi buku agaknya cukup efektif dalam proses pendisiplinan skill menulis. Ruang resensi koran yang terbatas dibanding ruang cerpen, esai budaya, bahkan puisi, sehingga menuntut resensor menemukan angle paling menarik dari sebuah buku (yang kadang teramat tebal) untuk dianalisis, kemudian dituangkan ke dalam kalimat dan bahasa yang padat tetapi mewakili, adalah pekerjaan yang tidak mudah namun berfaedah. Sebab dari sana kita bisa belajar bagaimana menggunakan kalimat yang efektif, selain tentu saja mendapat keuntungan membaca banyak buku.

Maka, proses belajar menulis tidak dilakukan sesederhana “yaudah menulis saja”. Kamu bisa bayangkan, agar dapat feel cerita, tahu detail teknik apa yang digunakan oleh seorang pengarang dengan cara menulis ulang sebuah novel atau menerjemahkannya, adalah fase yang berdarah-darah. Dan kita tahu, keberhasilan menyertai orang yang bersungguh-sungguh.

Zen RS, salah seorang esais terbaik Indonesia juga dikenal mempunyai kepiawaian menggarap tema-tema sejarah. Beberapa tulisannya menjadi terkenal seperti tentang Kartini dan Gus Dur (saya pernah membaca dan searching lagi untuk memperdalam tapi tak ketemu) dengan perspektif yang sama sekali berbeda. Ia mengaku menulis sejarah dengan mengikuti Mazhab Cornell: menulis tidak mendetail dari A-Z, tetapi mengambil satu perspektif yang baru atau bahkan belum pernah dibahas sama sekali. Sebab, saat ini semua orang mempunyai akses yang sama untuk mencari materi sejarah. Yang membedakannya adalah sudut pandang dan cara kita mengeksekusi.

Zen juga berpesan lebih baik mengidolakan penulis yang diidolakan oleh idola kita. Jangan berhenti di idola kita. Misalnya jika kita mengidolakan Zen, siapa penulis — sastra atau sejarah — yang ia idolakan: Pramoedya, Hemingway, Salinger, serta sejumlah penulis luar lain yang namanya tak saya hafal. Semakin kita memijak pundak penulis yang telah berdiri di tempat yang lebih tinggi, maka akan semakin tinggi pula kualitas dan pencapaian kita.

Sambil bergantian berbicara dengan Sabda Armandio, Zen menambahkan hal yang paling rentan membuat penulisan fiksi gagal adalah masuknya suara kita ke dalam karakter yang kita reka. Cara mengetesnya mudah, jika ditanya tentang suatu hal, apakah kita langsung bisa berpikir apa jawaban antara karakter satu dengan karakter yang lain. Jika relatif sama, maka karakter yang kita reka belum terbentuk dengan baik. Jangan pula punya pretensi untuk memasukkan suara kita, dengan tujuan pamer pengetahuan misalnya.

***

Sesi lain yang saya sukai adalah bincang-bincang tentang dunia digital bersama Sapto Anggoro (tirto.id), Nezar Patria (The Jakarta Post-Dewan Pers), Puthut EA (Mojok). Pak Sapto, yang juga pernah berkarir di Republika, detik.com, merdeka.com, viva.co.id, mengatakan bahwa senjakala media cetak sudah semakin tampak. Per 2015, oplah sejumlah koran nasional mengalami stagnasi. Beberapa di antaranya bahkan turun perlahan.

Hal itu disebabkan oleh tidak adanya regenerasi pembaca media cetak. Generasi millenial sudah memulai tren baru. Apalagi generasi Z, yang menurut riset tirto.id, adalah generasi audio-visual. Masa depan, kata Pak Sapto, ada pada media digital. Terlebih video, dalam hal ini: YouTube. Meski kalah secara persentase dari platform lain semisal Instagram yang memuncaki klasemen sosmed yang paling banyak diakses generasi Z (generasi yang lahir tahun 1996–2010), namun video secara perlahan akan menemukan momentumnya.

Maka tak heran sejumlah media digital pun sudah mulai membuka rubrik video atau setidaknya infografik (sebagaimana yang dilakukan tirto.id terutama di Instagram). Namun ada pihak-pihak yang kurang mengantisipasi perubahan kecenderungan ini, rata-rata generasi X, yang tidak karib dengan perkembangan zaman. Sebab berbicara industri media adalah berbicara 10–50 tahun ke depan. Dan dapat disimpulkan bahwa semakin lengkap skill digital kita, maka peluang kerja akan semakin luas. Skill digital itu dimulai dari kemampuan desain grafis, mengelola web, videografer, dan tentu saja menulis.

Meski begitu, sebagaimana kehadiran televisi yang sempat dianggap bakal mematikan radio, yang ternyata itu tak terbukti, Nezar Patria mengungkapkan optimismenya bahwa koran tidak akan mati, walau semakin ditinggalkan. Ada beberapa strategi untuk menyelamatkan koran, yang terfokus pada upgrade konten (penjelasannya agak panjang, bisa saya jelaskan sambil kita ngopi).

Puthut menambahkan, yang paling mendasar dari itu semua adalah menemukan karakter konten. Mojok bukan situsweb berita mainstrem yang bisa sampai memosting 1000 berita setiap harinya. Secara traffic ia tak sesignifikan Detik, misalnya, dan tidak punya pembaca yang berkunjung berdasarkan isu. Karakter Mojok: memiliki pembaca loyal, tidak bergantung pada isu, tetap akan bertumbuh meski pelan. Bagi Puthut, menemukan ceruk pembaca atau karakter konten yang berbeda itulah justru yang paling penting dalam membangun media.

Selain, tentu saja, idealisme. Mojok hadir untuk mengisi ruang di mana kita bisa nyinyir dan memaki-maki dengan tetap arif, kocak, dan argumentatif. Demikian pula dengan tirto. Ia mengisi ruang kosong di mana kebanyakan media digital menomorsatukan kecepatan, sehingga berita-berita disajikan dengan pendek, hanya beberapa paragraf, tanpa ada kedalaman. Maka tirto hadir di sana.

***

Beberapa perspektif Butet Manurung dari Sokola Rimba sebetulnya menarik untuk dicatat. Tetapi sudah agak jauh dari orientasi saya belajar menulis. (Atau jika ingin sharing tentang gerakan literasi, kita bisa pesan segelas kopi lagi, sembari melanjutkan diskusi strategi penyelamatan koran dari gempuran media digital).

Akhirnya, Jambore Mojok 2017 dilaksanakan dengan cukup baik, terutama muatan materi dan makannya (konsumsi). Meski sebetulnya ada beberapa nama yang saya harapkan jadi pembicara, seperti Muhidin M Dahlan dan Edi AH Iyubenu. Dan, sayangnya saya merasa tidak muda lagi (padahal 25 tahun harusnya masih muda), sehingga konsep jambore, yang tidurnya ala kadarnya, jadi agak kurang cocok. Tapi kalau itu dimaksudkan sebagai tanda cinta Kepala Suku pada organisasinya, Pramuka, yang telah membawanya ke negeri sakura, apa boleh buat. Salam literasi!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.