Misteri Matinya Kucing Bersaudara

Ia menelepon kurang dari satu jam sebelum hujan datang. Kami diminta mengubur seekor kucing yang tewas entah karena apa. Saat kami tiba di TKP, kucing blasteran lokal-anggora itu telah kaku. Kaku yang mengerikan sebab aku hafal kontur kulit kucing karena sering membelai kucing. Kuperkirakan, kucing naas tersebut tewas lebih dari 2–3 jam.

Sebuah kalung merah dengan lonceng di tengahnya masih terpasang di leher kucing. Tentu saja aku mengenal kucing itu, sebab sekali dua aku pernah membelainya. Kucing yang mati sudah semestinya dikubur, bukan dibuang, begitu kami yakini. Maka kami mencari alat penggali tanah dan lokasi kuburan yang 90% telah diblok dengan paving.

Istri tetangga mengaku tidak memiliki alat yang kami butuhkan. Tapi tanpa sengaja ia bercerita bahwa beberapa hari lalu ada kucing yang juga tewas karena terkena kipas pompa air. “Ia empat bersaudara. Ayahnya anggora, ibunya lokal,” ucapnya. Kami kembali hanya dengan membawa cerita itu tapi alur memang sudah menakdirkan kami masuk ke dalam misteri kematian kucing.

Kami menemukan alat pengubur dan lokasi, meskipun gelap, yang tepat berada di utara kantor. Alangkah terperanjatnya kami ketika usai menggali dan hendak mengambil jasad kucing, tetiba kawanku memergoki bangkai kucing lain yang berada hanya di dua kaki dari liang si kucing pertama yang baru saja kami siapkan.

Kami mengamatinya, dan kami memperkirakan kucing tersebut adalah kucing yang tewas karena terkena kipas pompa air, seperti yang diceritakan istri tetangga. Setelah sedikit menganalisa korban dan merangkai ceceran fakta, kami berkesimpulan bahwa kucing tersebut adalah saudara kandung kucing mati yang hendak kami kubur.

Alat buktinya adalah jenis kucing tersebut dan kalung di leher mereka yang serupa. Kami pun, di malam yang gelap dengan pencahayaan ala kadarnya, dengan kilatan dan sesekali suara petir menggelegar, menggali satu liang lagi usai menguburkan kucing pertama. Kami mengeruk liang kedua tak jauh dari kuburan pertama, tepat di bawah pohon kurma yang tak kunjung besar.

Dalam proses pemakaman, kami berbincang bahwa tampaknya kucing-yang-mati-karena-terkena-kipas-pompa-air itu tewas dalam kondisi penasaran. Tentu sebagai saudara, kucing yang kami temukan pertama merasakan keresahan lantaran saudaranya mati dan dibuang begitu saja (dan kurang ajaranya ia dibuang di utara kantor!)

Maka rasa gundah kucing pertama tuntas sebab ia tak hanya menemukan jasad saudaranya yang mulai menguarkan bau tak sedap, tapi juga menyusulnya ke alam antah berantah. Itu salah satu alasan mengapa kami mengubur mereka bersebelahan. Kami meyakini, bahwa memang kamilah orang yang terpilih menguburkan mereka.

Kami dipertemukan dengan kucing A dan dituntun menemukan lokasi penguburan yang dekat dengan ditemukannya jasad kucing B, yang mati penasaran. Kucing A mencari kucing B, itu logis, sebab mereka saudara. Tapi, takdir membawa kucing B menyusul kucing A: mati. Kami mengubur mereka bersebelahan. Dan, menaburkan daun-daun tetumbuhan di atas gundukan yang satu jam kemudian basah oleh hujan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.