MANUSIA

— yang tidak pernah puas

1 Juli 2017

MANUSIA-yang tidak pernah puas

Aku seorang mahasiswa baru satu tahun lalu. Lingkungan baru, orang-orang baru yang tentu saja dengan sifat yang mungkin baru aku temui. Fakultasku memiliki sistem pengajaran dengan blok. Setiap satu semester terdiri dari tiga blok. Setiap blok berlangsung selama enam minggu, termasuk satu hari ujian diakhir minggu. Benar, kami harus tiga kali ujian dalam satu semester dan otomatis memiliki tiga nilai akademik-nilai blok-. Itu ujian akademik. Belum lagi ujian skill atau biasa disebut OSCE, yang hanya dilakukan diakhir semester. Mungkin kalian sekarang bisa menebak aku kuliah di fakultas apa.

Awal semester aku masih terlena dengan julukan mahasiswa-ku tanpa tahu apa itu mahasiswa yang sesungguhnya. Bukan hanya gelar tersirat. Satu blok berlalu dengan ringan, karena dirasa perkuliahan masih tentang dasar keilmuan prodi. Setidaknya aku mempertahankan statement tersebut sampai akhir semester dimana nilaiku keluar. Penyesalan pun datang. Walau nilaiku tidak terlalu buruk dan tidak perlu untuk perbaikan, tapi tetap saja manusia sepertiku tidak pernah merasa pas dan puas dengan hasil yang didapat.

Satu per satu blok pun berlalu dan masih dengan penyesalan diakhir. Sampai seorang temanku berkata pada dirinya sendiri tepat setelah kami melakukan ujian blok-entah blok ke berapa, aku lupa-,

“ Kenapa sih gua masih aja ngarepin hasil dan kayak nggak mensyukuri. Padahal gua tau, gua gak boleh gitu “, aku yang berdiri tepat dihadapannya merasa mendapat sentilan tak kasat mata. Bukan karena I’m not the only one tentang penyesalan itu, tapi karena that ‘nggak mensyukuri’ words yang membuatku benar-benar termenung saat itu juga.

Kemudian ingatanku kembali pada saat dimana aku dan kawan-kawan seperjuanganku akan menghadapi ‘ritual ujian blok’. Tidak sedikit dari mereka yang sangat ambisius. Membawa rangkuman blok ke kantin atau membacanya saat kuliah kosong, bahkan mereka belajar bersama-sama di taman kampus. Jujur saja, untuk option ketiga aku mungkin akan jarang melakukannya, karena sangat bukan tipe ku. Lebih baik belajar sendiri dalam diam atau dalam berisik yang ‘benar’. Ah pokonya kayak gitu lah.

Itu di kampus. Belum lagi saat di kost, di akun media sosial beberapa temanku update berbau perkuliahan, seringnya di snapgram sih. Entah itu membaca catatan, mengulang PPT dosen atau bahkan mencari literatur.

Terus apa yang aku lakukan? Kalau boleh jujur, aku khawatir. Dengan diri sendiri tentunya. Melihat bagitu ngambisnya teman-temanku, tidak jarang aku merasa kalah karena jatuh sebelum berlari. Belum lagi sifat moody-ku. kalo belum mood buat belajar ya gua mending baca wattpad lah.

Aku pun sadar dan sedikit-dikit aku berubah. Yang biasanya sistem-kebut-seminggu, aku sudah mencoba dengan menyicil mulai dari minggu ketiga. Untuk nilai, aku masih berusaha untuk tidak menyesal dan mencoba untuk menerima dengan syukur. Aku bukan tidak diajarkan untuk bersyukur, tidak. Aku diajari bagaimana harusnya manusia berusaha, tawakal dan bersyukur.

Tapi apakah manusia pernah merasa puas?

Logikanya begini, ketika kamu sudah berusaha sangat keras untuk ujianmu. Bahkan sampai melupakan kebutuhan dasarmu, khususnya tidur dan makan. Jam biologismu pun akan berubah karena dirimu sendiri memaksa untuk terbangun sampai dini hari. Seakan semua itu belum cukup, kamu akan terus membaca dan mengulang materi bahkan sampai menit-menit ujian akan dimulai. Bukan hanya itu, mungkin kalian juga memiliki soal ujian tahun lalu yang biasanya beberapa butir soal akan diujikan lagi dengan sama persis.

Mungkin sejenak kamu akan merasa optimis dengan ujianmu bahkan jawabanmu dan nilaimu.

Tapi, boom! Hasilnya sangat berbanding terbalik. Apa yang kalian rasakan?

Kecewa? Iya. Marah? Tentu. Menyesal? Apalagi. Berbagai pertanyaan dan pernyataan pun bermunculan. Kenapa nilai gua segini? Padahal gua kan jawabnya bener deh perasaan. Kok gua masih belum bisa dapet A sih? Nyesel lah gua gak dari minggu pertama belajarnya. Dan pertanyaan dan pernyataan lainnya yang sebagian besar menyalahkan diri sendiri.

Sampai akhirnya.. si itu berapa ya nilai nya?. Kemudian mulai membanding-bandingkan antara usahamu dan usaha si dia. Lalu muncul rasa iri ingin memiliki nilai setinggi si itu. Mungkin bisa sampai stress karena terlalu memikirkan urusan orang lain?.

Ini ceritaku.

So, all you need is just thanks to Allah SWT, Syar..

)

    Blessed, loved.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade