Masih perkara lama
Kemudian ku tersandar pada malam yang syahdu. Masih perkara lama yang bersemayam di suatu karakter terperinci. Bila aku bertanya pada bintang malam, akankah adil bersikap dingin pada yang dulu dekat kini seolah terbang menjauh? Para bintang menjawab dalam setiap sinarnya, memancarkan arti seolah sikap ini tak semestinya menjalar bersama hati. Namun, ada perpaduan antara hati dan rasa ketika sesuatu goresan sakit tersayat pada setiap catatan pahit karena nya berubah menjadi kecanggungan semu yang sebenarnya hati kecil pun menolaknya.
Wahai sang Jagat Raya, penguasa Alam Semesta. Malam yang tenang seolah tak bersih dengan pikiran perusak qalbu. Pikiran yang tak pantas bersemayam pada jiwa sang pemimpi senja. Bagiku, kedamaian adalah segalanya. Dalam suka, duka, canda, dan tawa terukir sejarah kerajaan yang terus ada sampai hayat menjemput. Tapi, apa pantas catatan tersebut rusak karena beberapa sayatan yang tak sengaja, yang disadari atau tidak telah membekas sampai detik ini. Wahai pohon-pohon yang ada di hutan, sakitkah engkau ketika sang petani getah menyayatmu?
Hati menolak memang, tapi rasa sudah kaku kini. Sangat tidak tahu arah sesungguhnya siapa yang memulai, akankah ada akhirnya? Mungkin saja! Akhir yang berujung mata tombak atau akhir yang berujung mata panda? dimana satu sakit ketika tertancap namun yang satu adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan. Teringat suatu analogi klasik, biarlah menjadi gunting, ketika tiap ada rintangan, konflik yang terombang ambing pada akhirnya tiap sisi gunting tersebut akan menyatu kembali.
Wahai sosok yang membekas, memarahlah kau karena diri ini, seolah bagai api di bak pemanggangan, membakar menghujam pada kekacauan kecil ini. Melihat dan menoleh seolah enggan, kemudian berlalu membuang muka hingga sirna hal-hal yang dulu sering ada.
Sang Jagat raya yang mendengar dan akan menggariskan. Menjadikan akhir dari cerita ini berharap masih berujung sebagai mata panda. Tak indah bila harus mengakhiri eratnya tali lalu merenggang hanya karena sayatan-sayatan kecil.
Di balik jeruji maya. Ku tulis karena mulut ini tak mampu berucap.
Bandung, 12 Agustus 2016.
Sang Pemimpi Senja