syariel afandi
Nov 8 · 3 min read

Dampak Inflasi pada Kemiskinan Pedesaan di Indonesia: Pendekatan Ekonometrika

Pembangunan ekonomi masih menyisakan sejumlah masalah yang harus mendapat perhatian serius. Salah satu masalahnya utama yaitu muncul sebagai akibat dari implementasi program-program pembangunan nasional yang tidak konsisten dan tidak memihak yaitu meningkatnya kesenjangan dan kemiskinan kronis. Dalam kasus Indonesia, kondisi ini diperburuk oleh adanya gaya hidup perkotaan yang semakin meminggirkan masyarakat pedesaan. Pedesaan menjadi daerah yang paling tidak berkembang dalam hal ekonomi. Mayoritas orang miskin tinggal di daerah pedesaan, sehingga pedesaan menjadi kantong utama kemiskinan. Pada tahun 2007, 63.52 persen dari total penduduk miskin di Indonesia tinggal di daerah pedesaan yang jauh lebih tinggi daripada daerah perkotaan. Kondisi serupa terjadi pada tingkat inflasi. Pada periode 2005 hingga 2008, daerah pedesaan mengalami tingkat inflasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan daerah perkotaan. Semua ini menunjukkan bahwa perubahan harga akan memiliki tekanan lebih tinggi pada kinerja ekonomi pedesaan dibandingkan dengan perkotaan. Oleh karena itu, pertanyaan penting yang mungkin muncul adalah apakah tingkat inflasi akan mempengaruhi tingkat kemiskinan di daerah pedesaan. Tiga tahun terakhir terbukti sebagai masa sulit bagi orang miskin. Sejak 2006, indeks PIP secara terus-menerus lebih tinggi daripada Indeks Laspeyres baik di perkotaan maupun pedesaan. Selain itu, perbedaan antara PIP dan Indeks Laspeyres jauh lebih besar di pedesaan dibandingkan dengan perkotaan. Ini menyiratkan bahwa orang miskin di daerah pedesaan mengalami dampak yang lebih parah. Secara umum, sebelum 2007 indeks PIP secara persisten lebih rendah dari indeks Laspeyres kecuali untuk rasio jumlah kepala pada tahun 2002. Sementara itu indeks PIP secara persisten lebih tinggi daripada Indeks Laspeyres pada 2007 hingga 2009. Hasil ini menyiratkan bahwa perubahan harga sebelum 2007 pro-poor sedangkan perubahan harga pada tiga tahun terakhir relatif memiliki dampak yang lebih parah pada orang miskin daripada orang yang mampu atau kaya. Secara umum, fitur ini sangat mirip dengan tingkat nasional di mana orang miskin baik di perkotaan maupun pedesaan akan mengalami efek yang serius jika mengalami kenaikan harga pangan secara relatif terhadap orang yang mampu atau kaya tersebut.Pembangunan ekonomi masih menyisakan sejumlah masalah yang harus mendapat perhatian serius. Salah satu masalahnya utama yaitu muncul sebagai akibat dari implementasi program-program pembangunan nasional yang tidak konsisten dan tidak memihak yaitu meningkatnya kesenjangan dan kemiskinan kronis. Dalam kasus Indonesia, kondisi ini diperburuk oleh adanya gaya hidup perkotaan yang semakin meminggirkan masyarakat pedesaan. Pedesaan menjadi daerah yang paling tidak berkembang dalam hal ekonomi. Mayoritas orang miskin tinggal di daerah pedesaan, sehingga pedesaan menjadi kantong utama kemiskinan. Pada tahun 2007, 63.52 persen dari total penduduk miskin di Indonesia tinggal di daerah pedesaan yang jauh lebih tinggi daripada daerah perkotaan. Kondisi serupa terjadi pada tingkat inflasi. Pada periode 2005 hingga 2008, daerah pedesaan mengalami tingkat inflasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan daerah perkotaan. Semua ini menunjukkan bahwa perubahan harga akan memiliki tekanan lebih tinggi pada kinerja ekonomi pedesaan dibandingkan dengan perkotaan. Oleh karena itu, pertanyaan penting yang mungkin muncul adalah apakah tingkat inflasi akan mempengaruhi tingkat kemiskinan di daerah pedesaan. Tiga tahun terakhir terbukti sebagai masa sulit bagi orang miskin. Sejak 2006, indeks PIP secara terus-menerus lebih tinggi daripada Indeks Laspeyres baik di perkotaan maupun pedesaan. Selain itu, perbedaan antara PIP dan Indeks Laspeyres jauh lebih besar di pedesaan dibandingkan dengan perkotaan. Ini menyiratkan bahwa orang miskin di daerah pedesaan mengalami dampak yang lebih parah. Secara umum, sebelum 2007 indeks PIP secara persisten lebih rendah dari indeks Laspeyres kecuali untuk rasio jumlah kepala pada tahun 2002. Sementara itu indeks PIP secara persisten lebih tinggi daripada Indeks Laspeyres pada 2007 hingga 2009. Hasil ini menyiratkan bahwa perubahan harga sebelum 2007 pro-poor sedangkan perubahan harga pada tiga tahun terakhir relatif memiliki dampak yang lebih parah pada orang miskin daripada orang yang mampu atau kaya. Secara umum, fitur ini sangat mirip dengan tingkat nasional di mana orang miskin baik di perkotaan maupun pedesaan akan mengalami efek yang serius jika mengalami kenaikan harga pangan secara relatif terhadap orang yang mampu atau kaya tersebut.

Sumber: https://www.researchgate.net/profile/Toni_Bakhtiar/publication/297327799_The_impact_of_inflation_on_rural_poverty_in_Indonesia_An_econometrics_approach/links/575e2f1408aed884621671d8/The-impact-of-inflation-on-rural-poverty-in-Indonesia-An-econometrics-approach.pdf

syariel afandi

Written by

sedikit humoris