Belajar Mengoceh

Syahrani Said
Aug 23, 2017 · 3 min read

Lahir dan besar di kota Parepare, lumayan bisa dibanggakan. Beberapa tahun di ibukota membuatku masih bangga dengan kotaku, yang terkenal dengan cakar dan kata "ssuu" ini hasil survei dari teman-temanku. Saya kuliah di Makassar, tepatnya di Universitas Hasanuddin. Lagi-lagi bisa saya banggakan kepada teman-temanku yang bertanya "kamu lanjut dimana?" dengan lantang dan tanpa salah menyebut saya mengatakan di Unhas. Bahkan, saya senang memancing pertanyaan yang sama agar bisa mendapatkan pertanyaan serupa pula.

Menyelesaikan study kurang dari empat tahun merupakan sebuah citra yang baik dihadapan kedua orangtua dan saya senang di tanya angkatan berapa, selesainya kapan? jiwa kesombongan ku pasti berloncatan girang saat itu. Namun, saya belum tahu pasti kenapa saya begitu gembira dengan pertanyaan seperti itu, barangkali karena bangga. Barangkali.
Belakangan baru saya tahu, ternyata bangga dan sombong sering bercampur aduk, susah dipisahkan jika belum ahli. Kadang juga kita butuh teguran melalui perkataan teman atau singgungan pada sebuah status di sosial media.

Saya sangat-sangat bangga menceritakan kehidupan saya sewaktu di Makassar kepada teman-temanku yang kuliah di Parepare. Di Parepare terdapat dua kampus besar, satu kampus negeri, satunya lagi kampus swasta. Kedua kampus ini memiliki banyak mahasiswa yang juga dari berbagai daerah di sekitar kota Parepare. Kampus-kampus di Makassar pun demikian, sebagian besar mahasiswanya berasal dari luar daerah, termasuk saya.

Dulu saat masih seorang mahasiswa, saya tergabung dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) bola basket Unhas, nampaknya ini sebuah kebanggaan, bisa masuk tim membawa nama besar unhas. Teman-teman di UKM jarang dari luar daerah, hampir seluruhnya berdomisili di Makassar. Bergaul dengan anak ibukota juga sebuah hal yang menarik bagiku, tapi saya sempat khawatir manakala saya tidak dapat mengimbangi pergaulan dengan anak ibukota, yang kata orang-orang akan berimbas negatif pada diri sendiri. Barangkali seperti tulisan di belakang truk "orang desa rusak di kota". Sebuah slogan yang kontroversi, kata "rusak" pun konotasinya entah ke arah yang mana. Baik kita tinggalkan. Beruntung teman-teman saya yang lahir besar di Makassar adalah orang-orang baik, rendah hati dan menyenangkan. Kami di satukan dalam sebuah tim, melintasi hal-hal penuh suka cita bersama-sama. Seperti keluargalah.

Teman angkatan lain lagi ceritanya. Angkatan 2010 Agribisnis Unhas, kami menyebut diri kami Oceanz, yang akronimnya saya lupa dan malas mengingatnya. Kami bersaudara dari gen yang berbeda. Dalam Oceanz teman saya berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan bahkan Sulawesi Tengah. Keragaman membuat kami bisa saling macalla (mengejek) satu sama lain dan itu tidak membuat kami merasa kesakitan di dalam hati, malah membuat kami semakin solid. Saya selalu bangga dengan teman-temanku yang tidak pernah merasa dirinya sempurna, dibuktikan dengan callaan yang tiada hentinya. Cukup dengan satu objek, satu pacallaa (orang yang mengejek) dua orang pakompakompa (kompor) dan audience tentunya yang senantias memberi tawa terbahak sambil mengucapkan istigfar. Oceanz seperti rumah bagiku, kapanpun saya ingin makan gratis saya selalu bisa menghubungi salah seorang temanku, dan menunggu panggilan ke kostnya setelah makanan siap santap. Tapi, imbalannya saya harus jadi tukang antar jemput, sebab sebagian temanku yang perempuan enggan berboncengan dengan laki-laki . Saya rasa ini alasan saja, mungkin karena laki-laki memang susah di bujuk.

Selama empat tahun di Makassar, saya tinggal di asrama Parepare yang di dirikan oleh pemerintah sebagai sekretariat mahasiswa Parepare (HIPMI PARE) yang menuntut ilmu di Makassar. Saya mendapatkan sebuah kamar di lantai dua, tepat di depan tangga dan wc rusak dengan uang pangkal sebesar setengah juta serta iuaran listrik empat puluh ribu perbulan. Masuk di Asrama dalam hal administrasi dan hemat jauh lebih baik daripada ngekost dengan biaya tinggi dan teman sebelah kamar yang tidak peduli. Asrama bagiku adalah rumah kedua, di dalamnya terdapat kehangatan keluarga, percekcokan dan cerita belakang, hal yang sudah biasa terjadi. Hidup di asrama harus pandai berbagi, terutama berbagi nasi dan lauk. Rasa memiliki anak-anak asrama sangat tinggi, misalnya baju kaos, alat mandi, sendal, helm, televisi dan kompor semuanya milik bersama. Salah satu pemicu cerita belakang adalah rasa memiliki yang tinggi.
Di asrama juga, saya mendapatkan pelatihan wajib militer selama semalaman, benar-benar tak terlupakan. Paling berkesan selama berasrama ada banyak hal, diantaranya jika kami mau mudik, tujuan kami selalu sama, naik motor bareng-bareng menuju Parepare dengan tas yang full oleh pakaian kotor. Tiap ada yang berulang tahun atau wisuda, pasti saya yang akan ke paotere subuh hari berbelanja ikan untuk di bakar. Antri mandi yang penuh drama protes dan tali jemuran yang tidak pernah cukup. menampung baju basah kami.

(Akan Disambung)

)
    Syahrani Said

    Written by

    Belajar Membaca

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade