Belajar Mengoceh (Pasca Sarjana)

Syahrani Said
Aug 25, 2017 · 3 min read

Setelah wafat dari dunia perkuliahan, rencana-rencana tentang masa depan telah selesai tersusun. Saya ingin jadi pengusaha yang sukses, alasannya sederhana kala itu, karena seorang pengusaha sudah pasti banyak uangnya, bebas, bisa jalan kemana-mana, jadi boss dan jika beruntung bisa terkenal juga. Motivasi terbesar saya menjadi seorang pengusaha adalah sembilan dari sepuluh perkerjaan yang di anjurkan oleh Rasulullah adalah menjadi pengusaha. Tapi memang jika memikirkan hal yang berkaitan dengan nyamannya saja, pasti kita memiliki banyak motivasi, hingga lupa bahwa nyaman juga butuh perjuangan, jatuh butuh bangkit, gagal harus coba lagi. Demikian kata motivator yang super canggih.

Menjadi seorang pengabdi negara atau yang masyarakat dan orangtua ku kenal dengan sebutan PNS adalah pekerjaan yang paling terakhir saya pikirkan, kecuali kedua orangtua ku, menjadi seorang PNS adalah yang paling pertama dan utama dipikirkannya. Memang, jika saya pikirkan baik-baik dan dalam keadaan tidak sedang lapar, menjadi seorang PNS oke saja, gaji tetap, tunjangan lumayan dan pangkat bisa berjenjang. Namun, saya kurang nyaman dengan pakaian seragam yang rapih, lagipula warna baju yang dikenakan PNS bukan warna favoritku. Saya tidak bisa membayangkan sepanjang hidup setiap pagi harus mengenakan seragam dengan warna yang tidak saya sukai. Masuk kerja jam sekian, pulang jam sekian, harus absen sidik jari, duduk di depan meja dalam sebuah ruangan hingga waktunya pulang, mengurus berkas sana sini, ikut rapat kanan kiri dan mengangkat telepon dengan banyak kata penghias "iya pak, siap pak, oke bu, baiklah bu". Tapi belakangan saya lihat PNS juga bisa memakai sendal di dalam kantor, ada tv di dalam ruangan yang di stel dengan film india dan wifi yang free akses. Bagiku itu tawaran yang bagus untuk jadi PNS, tapi saya tetap belum tertarik. Meskipun bapak saya seorang PNS yang pangkatnya sekarang sudah lumayan tinggi, namun karena keinginan seseorang yang pangkatnya lebih tinggi lagi, bapak harus di non job kan, dalam artian tak memiliki jabatan. Yah, nasib seorang PNS memang selalu tergantung atasan.

Saya bukan tanpa paksaan di suruh daftar PNS, tapi saya menolak dengan berbagai cara. Bukan karena jadi PNS itu buruk, hanya saja saya belum mau, hati saya mungkin yang belum nyaman. Kedua orangtua sudah mendesak saya untuk melamar pekerjaan, tapi saya memang tidak mau bekerja pada siapapun. Saya harus jadi pengusaha. Cita-cita itu saya rawat dengan perhatian yang tidak penuh. Susah memulai, kadang malas dan gengsi teramat tinggi. Menjadi pengusaha ternyata rumit, rumitnya di pikiran, banyak rencana, banyak angan-angan tetapi nihil aksi. Saya terpuruk dan merasa sangat terbebani oleh sebuah pikiran yang memicu emosional saya seperti gelisah, menangis, marah, sensitif atau menjadikanku pelamun. Jadi PNS tidak mau, disuruh cari pekerjaan juga tidak mau, ingin memulai usaha tapi malas. Pokoknya pikiranku berputar disitu-situ saja, mau melangkah kemana saya ini.

Suatu hari yang persisnya saya tidak ingat, saya di ajak bapak ke hutan kota bernama Jompie, tempat bapak bertugas dahulu. Hutannya rimbun, banyak mata air, letaknya strategis, ada jalan setapak, kolam renang, baruga pertemuan dan kicau burung. Kebetulan pada hari itu ada dua orang PTT yang ditugaskan oleh LIPI Kebun Raya Bogor untuk membantu penataan Hutan Jompie menuju status barunya Kebun Raya Jompie. Mereka berdua akan mendampingi selama sebelas bulan. Bapak kemudian menyuruh saya untuk kembali mendampingi sambil membantu pekerjaan mereka berdua. Seperti perbanyakan tanaman hias dan tanaman koleksi kebun, penyiraman sertan perawatan kebun. Sejak saat itu hampir setiap pagi saya ke Kebun. Alasannya sederhana, berkebun itu menyenangkan bagi saya. Kedua PTT itu adalah perempuan, keduanya alumni UGM, jurusan biologi dan kehutanan.

(Akan Disambung)

)
    Syahrani Said

    Written by

    Belajar Membaca

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade