Di Masa Depan, Suatu Hari

Syahrani Said
Jul 10, 2017 · 2 min read

Diberanda pada sore menjelang petang saat matahari menjelang tanggal di batas cakrawala aku satu-satunya dari seluruh pikiranmu yang gemar berangan dan beringin hidup sederhana, cukup bahagia dan lupa saling melukai.

Tentang anganku, yang menginginkan rumah panggung sederhana di atas bukit, tidak begitu besar namun bahagia beranak pinak disana. Di belakang rumah, mengalir sungai yang suara arusnya selalu menemaniku saat menanti kepulanganmu. Di halaman rumah, akan ku buat sebuah taman, agar tiap kali aku menatap dari beranda, selalu ada yang bertumbuh selain cinta kita berdua. Memasak makanan kesukaanmu tiap pagi sebelum kau berangkat ke kebun, mencuci pakaianmu yang penuh lumpur di sungai belakang rumah, membalas senyum lelahmu saat kau pulang sebelum petang, dan kita menyaksikan senja dengan dua pasang mata dan satu genggaman tangan.

Tidak ada hari kerja artinya tidak ada hari libur. Kita bisa memilih hari apapun untuk kita jalani dengan hal-hal sederhana. Seperti mengayuh sepeda tua berkeliling kampung, kamu memboncengku dan aku melingkarkan tanganku lalu bersandar di punggungmu. Sesekali, kita berhenti dan memetik bunga yang tumbuh liar di kebun orang lain. Kamu enggan berbicara banyak, tetapi selalu melakukan hal-hal bermakna. Semisal, memetik bunga lalu kamu berikan padaku dengan seikat senyum atau memilih jalan yang paling jauh menuju rumah, agar pelukanku semakin lama memberimu hangat.

Kita sudah harus dirumah sebelum senja. Sekali lagi dua pasang mata dan sebuah genggaman dan kali ini satu rangkulan dan satu sandaran menjadi sesuatu yang disaksikan senja, aku yakin senja pun kalah hangat sore itu. Malam hari, tak banyak percakapan selain berbagi sesuatu melalui mata dan hal-hal yang harus kita lakukan sambil menunggu pagi datang.

Di masa depan, suatu hari ketika semua menjadi lebih nyata, kita akan bercerita kembali tentang angan dan ingin yang kita miliki, meski aku tahu kamu akan lebih banyak diam, namun dimatamu akan tumbuh lebih rimbun cinta, teramat banyak cinta kepadaku.

Ilustrasi : A. Mey Kumalasari J.

    Belajar Membaca

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade