Senang Pergi, Bahagia Pulang (Pameran Sekolah Terapung)


Perjalanan dua jam mengantar ku pada sebuah tulisan seorang anak perempuan bernama Siti Salwiah Ramadani. Di dalam tulisannya dia bercerita tentang pengalaman pertamanya di ajak oleh kakak Nunu mengikuti sebuah seminar di Makassar. Namun, pembicara seminar menggunakan bahasa asing yang dia tidak mengerti, tetapi berkat hal itu dia memiliki motivasi lebih untuk mempelajari bahasa asing. Dia juga bercerita pengalaman pertamanya yang tak terlupakan seperti rasa gugup dan gembira di saat yang bersamaan. Sebuah tulisan yang bagi sebagian orang adalah hal biasa, tetapi bagi saya tulisan anak itu adalah potret masa silam yang pernah saya lalui, bedanya saya tak punya keinginan untuk menuliskannya, atau barangkali saya belum mampu menjabarkan situasi waktu itu. Ada banyak tulisan tangan yang tergantung bersama tulisan anak perempuan itu, masing-masing ada yang menulis puisi tentang ayah, ibu dan negara, adapula yang menulis pengalaman pertamanya atau hal yang mereka senangi, juga beberapa pesan yang ingin mereka sampaikan kepada seseorang. Tulisan mereka di atas selembar kertas kemudian di gantung di jaring yang biasa digunakan oleh nelayan. Ohya tulisan mereka juga dibukukan.

Bergeser ke sebelah, saya melihat hasil foto anak-anak pulau yanh dicetak dan di pajang. Kebanyakan foto-foto yang mereka hasilkan adalah foto human interest, yakni foto aktivitas masyarakat pulau sehari-hari, juga ada beberapa foto panorama alam seperti sunset. Ada salah satu foto sunset yang sangat saya sukai, judul fotonya "Mencari tude" foto siluet anak-anak yang sedang mencari sesuatu yang mungkin mereka sebut tude, di hari menuju petang saat foto diambil. Berjalan lagi mengelilingi lokasi pameran ada spot pameran karya, yang dibuat oleh kreasi anak-anak pulau. Di sebelahnya terdapat print out hasil power point yang juga dikerjakan oleh anak-anak pulau, materi power pointnya pun beragam, mereka mendeskripsikan tentang pulaunya dengan tema yang mereka pilih sendiri. Dan yang terakhir ada pameran kelas menggambar dan melukis, terdapat karya gambar doodle dan lukisan dari pensil warna, kemudian di pamerkan dengan konsep yang menarik.

Salah seorang founder Floating School yaitu Kak Nunu menghampiri kami, dan menceritakan sedikit tentang pengalamannya berlayar bersama fasilitator menuju pulau. Dia bercerita tentang bagaimana anak-anak pulau mengikuti kelas-kelas, semangat belajar mereka serta pengalaman tak terlupakan yang mereka lewati. Terbukti seluruh hasil karya anak-anak pulau yang mengikuti kelas berhasil dipamerkan. Untuk kelas menari dan videografi mereka menampilkannya pada malam puncak pameran, membawa sebuah tarian kreasi dan pemutaran foto story yang dikerjakan sendiri oleh anak-anak pulau.

Ketika seorang anak pulau berdiri di atas panggung, memegang mikrofon dan berbicara dengan suara gemetar serta kaki lemas, namun tetap berusaha berdiri tegap di antara kegugupan. Teman saya bernama Asty sudah meneteskan air mata haru lebih dulu, sayapun demikian. Saya tidak pernah memikirkan seorang anak pulau yang mungkin aktifitasnya jauh dari kata panggung dan tampil di hadapan banyak orang, mampu berdiri di hadapan kami dengan gagah berani. Wah... ini luar biasa bagi saya, hal itu kemudian membuat saya terharu melihatnya. Mereka selalu punya mimpi dan berani melampaui rasa takut. Sungguh saya sangat bangga atas segala yang bekerjasama membangun mimpi seorang anak. Sekecil apapun perbuatan dia akan selalu melahirkan sedikit perubahan, tak apa, daripada tidak melakukan apapun.

Teruntuk kakak-kakak The Floating School Terimakasih telah bergerak menginspirasi kami semua. Tetaplah menjadi orang baik. Keep sail and serve.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.