Senang Pergi, Bahagia Pulang (Rumah Bambu Pintar)

Syahrani Said
Aug 28, 2017 · 3 min read

Angin darat sedang rusuh-rusuhnya menemani perjalanan kami menuju "Rumah Bambu Pintar" di Desa Wiringtasi, Kabupaten Pinrang. Saya bersama salah seorang teman pada awalnya melihat profilnya di salah satu sosial media, karena penasaran ingin tahu lebih banyak, apa saja kegiatan yang mereka lakukan, maka saya menghubungi kontak person yang tertulis di profil. Setelah mendapat beberapa cerita tentang program yang mereka jalankan, saya jadi penasaran ingin bertandang ke lokasinya. Akhirnya setelah beberapa waktu mencari kesempatan yang tepat untuk melakukan kunjungan, tibalah saya pada sabtu kemarin di Rumah Bambu Pintar.

Rumah Bambu Pintar terletak di belakang rumah kepala Desa Wiringtasi, yang juga merupakan lahan pribadi Ibu Kepala Desa. Luasnya saya tidak tahu persis secara angka, namun bagiku sudah cukup luas untuk beraktivitas outdoor. Di belakang rumah Ibu Desa ada banyak pohon bambu, di tengahnya terdapat ruang kelas tanpa tembok, tanpa atap yang di gunakan anak-anak desa belajar. Di sekeliling area Rumah Bambu Pintar terdapat banyak ornamen dari bambu dan kerang, nampaknya hasil kerajinan tangan masyarakat desa, terdapat juga sebuah perpustakaan yang masih sementara di rampungkan bangunannya dan terdapat kursi seperti susunan kursi ruang tamu, yang memang digunakan untuk menyambut siapapun yang datang dengan hangat.

Kami tiba di tujuan sekitar jam setengah dua, setelah bertanya selama tiga kali dan kelewatan sejauh dua kilometer. Setiba disana kami melihat banyak hasil kerajinan tangan di bawah rumah panggung, kemudian ada sebuah gubuk dan terlihat beberapa pemuda desa sedang mengoperasikan mesin pemotong kayu untuk dijadikan bahan baku kerajinan. Kami kemudian melangkah ke arah hutan bambu, di tengahnya anak-anak sedang belajar bahasa inggris, begitu melihat kami, mereka menyapa dengan riangnya dengan berkata "Hai...Hello". Di sebelah tempat anak-anak tadi belajar, ada kursi dari bambu dan oleh tuan rumah kami dipersilahkan duduk.

Kami duduk melingkar dan saling berkanalan satu sama lain, ada kak Rudi, Jeje, Niar, Wini dan kak Risal. Seperti biasa, pembicaraan awal selalu tentang apa kegiatan, sejak kapan dan hal-hal yang kami kerjakan selama ini. Sesekali angin darat yang super kencang membuat udara berkabut oleh debu, menjatuhkan ranting pohon bambu dan menerbangkan benda-benda yang kekurangan bobot. Namun, kami tidak berkeinginan untuk beranjak mencari tempat yang lebih terlindungi dari angin, mungkin karena pembicaraan kami terlanjur seru. Angin darat lalu lalang bagai badai, tapi kami masih duduk terpaku, melanjutkan cerita-cerita pengalaman berkegiatan sosial hingga pengalaman menghadapi anak-anak. Tak lama datang gorengan yang panas tapi mudah dingin karena bantuan angin, tak lupa ada air es juga. Pecakapan makin jauh, ada saja percakapan yang membuat kami terbahak-bahak tertawa. Sudah hampir senja, percakapan kami cukupkan dan lanjut melihat matahari terbenam di garis cakrawala. Senja sebagaimana senja yang selalu indah.

Teman-teman dari Rumah Bambu Pintar telah memulai programnya sejak Januari, dengan membuka kelas Bahasa Inggris, kelas Komputer dan Kelas Seni. Masing-masing kelas memilki fasilitator. Tiap kelas juga memilki pencapaian masing-masing. Jam belajar anak-anak setelah pulang sekolah hingga sore hari. Untuk saat ini mereka sedang membangun ruang perpustakaan di lokasi yang sama. Kami doakan semoga segera rampung.

Senja telah lalu, kami ke rumah Ibu Desa melaksanakan shalat magrib sebelum bertolak. Namun, Ibu Desa memaksa kami tinggal sebentar lagi karena beliau akan memasak makan malam untuk kami. Seperti biasa, makan malam di sebuah desa selalu lebih lezat, ada ikan bakar, ikan teri dan udang goreng yang berasal dari tambak Ibu Desa di belakang rumah. Keramah tamahan Ibu Desa dan teman-teman dari Rumah Bambu Pintar, membuat kami merasa menemukan kehangatan keluarga di luar rumah.

Sepulang dari sana, saya menyimpulkan beberapa hal, bahwa berjalan lebih jauh adalah tantangan, agar kita pulang membawa sesuatu yang mudah di ingat dan bertemu dengan orang-orang baru yang selalu bisa membunuh rasa sombong dalam diriku.

)
    Syahrani Said
    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade