Lumpuh

Bersinggah aku di gubuk ini untuk berlari dari detakan jantung semesta yang agaknya seperti sedang tergesa-gesa. Senja menggunung, mencekam, menerkam; tapi aku tak pula bisa mengingkari indahnya. Malamku pun terpojokkan oleh alunan riuh jalan — bau asap dan selokan.


Angin berembus; hanya sekedar lewat namun tak ingin menetap. Lalu aku berbaring di antara langit yang enggan berubah — tergulung samudera di bawahku, tak tentu arah. Aku coba mengetuk pintu galaksi, kemudian; berharap gemintang melambai sapa, dan rembulan turut berbincang tanpa tatap iba.

Dan tetes peluh yang membasuh tanah-tanah ini adalah sebuah keniscayaan. Kepada termenungnya langit mereka hanya mencoba berbisik. Tidak perlu didengar, hanya butuh memastikan keber-ada-an. Karena dalam lamunan hujan, satu hal tersentak di titik terang kembali; kesendirian pun ialah sebuah keniscayaan.


Aku harus bergerak, atau aku akan berakhir seperti meja-meja batu itu. Usang, ditinggalkan, dan selamanya bisu. Namun bumi seperti mengunci, menolak berkompromi. Sedang pijak lain berlalu lalang tenggelam… dan mengapung kembali dengan sosok yang tak dapat lagi dikenali.


Dalam belenggu,
Shafiera Syumais A.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.