Konten baik yang (ternyata)tidak selalu baik

Michelle Tan
Nov 7 · 2 min read

Kita mudah untuk mendefinisikan konten apa yang buruk.

Contohnya ketika orang lain memberi komentar negatif pada konten kita. Meskipun mungkin itu tidak selamanya betul.

Semua orang pasti pernah mendapatkan komentar miring. Entah ketika mereka memulai sesuatu. Ataupun hingga sekarang. Sehingga komentar negatif, tidak bisa sepenuhnya mendefinisikan bahwa konten itu buruk.

Jadi bagaimana kita mendefinisikan konten yang baik?

Apakah dari jumlah views atau komentar?

Bagaimana jika yang melihat konten kita hanya 10 orang?

Bagaimana jika konten kita tidak pernah viral?

Apakah itu berarti konten kita buruk?

Konten yang baik selalu memberikan value yang baik. Dan value yang baik sering didefinisikan sebagai “memberi pengetahuan yang baru”.

Sehingga jika kamu ingin membuat konten yang baik, harus ada sesuatu yang kamu ajarkan.

Mungkin juga karena itu kita tidak berani mem-publish apa yang kita lakukan. Atau kita menekan tombol delete berkali-kali.

Karena konten kita kurang berkualitas. Berbobot. Dan brilliant.

Bukan berarti konten kita amat sangat buruk.

Tapi kita merasa konten kita “not good enough” untuk di-publish.

Jika konten yang “baik” itu menghambat sang kreator untuk membuat konten, maka itu tidak bisa disebut konten yang baik.


Bagaimana kamu mendefinisikan musik yang bagus?

Sebenarnya dengan mendengarkan musik juga tidak menambah pengetahuan apapun bagi kita.

Kecuali lagu “One little, two little, three little Indians”. Paling tidak itu membantu anak 5 tahun dalam menghitung.

Tapi kenapa ada musik yang bagus?

Menurutku hanya ada 2 hal penyebabnya.

Otentik dan ada progress.

Maroon5 dan Coldplay adalah dua hal yang berbeda.

Kamu bisa tahu siapa penyanyi itu, sekalipun kamu hanya mendengar suaranya.

Maroon5 tidak mencoba untuk menjadi Coldplay.

Dan Coldplay tidak mencoba untuk menjadi Maroon5.

Setiap lagu yang mereka ciptakan, punya cerita sendiri dari diri mereka masing-masing.

Dan mereka semua bisa bersinar dengan cara mereka sendiri.

Tapi untuk menentukan keotentikan kita sendiri, ada proses yang panjang. Tahu apa style kita. Tahu value apa yang kita suarakan. Dan percaya pada keotentikan kita sendiri. Butuh waktu ekstra.

Karena kamu tidak bisa menemukan keotentikan, hanya dengan mengikuti market.

Ada saatnya market yang harus mengikuti keinginanmu.

Dan jika kita berbicara tentang progress. Kita harus mengakui bahwa karya pertama pasti jelek.

Tidak masalah.

Penyanyi yang bisa membuat lagu bagus. Jika ditarik kebelakang, ternyata mereka sudah berkecimpung di dunia musik selama 10 tahun. Mereka sudah membuat lebih banyak lagu yang jelek daripada lagu yang bagus.

Jadi kalo kamu baru memulainya 1–2 tahun, tidak masalah. Kamu tidak bisa membandingkan dirimu yang baru 1–2 tahun dengan mereka yang 10 tahun.

Kamu tidak bisa mendefinisikan bahwa konten yang kamu buat sekarang adalah konten yang baik.

Atau kontenmu berikutnya adalah konten yang lebih baik dari sekarang.

Tapi jika kamu melihat dalam gambar yang lebih besar dengan jangka waktu yang lama, kamu baru bisa melihat seberapa baik kontenmu.

Tapi jika kamu tidak melanjutkannya, kamu tidak akan pernah tahu seberapa baik kontenmu.

Keep going.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade