“SOCIAL CLIMBER”
membuka jalur baru pada ranah perjuangan status sosial

Lately, saya bertemu dan mendengar beberapa orang yang ingin menuju puncak dalam kehidupan bermasyarakat ini. Bahkan hampir semua orang ingin berada di puncak, sayapun demikian siapa sih yang tidak ingin berada di puncak iyaa gak sih????. Banyak cara menuju puncak, salah satunya ialah dengan berjalan menyusuri lika liku jalan setapak yang menanjak nan berkelok-kelok jauhnya, atau memanjat melewati bidang vertikal langsung.
Berbagai carapun dilakukan agar mencapai puncak, salah satunya ialah dengan melakukan pemanjatan sampai ke puncak. Pemikiran yang muncul ketika mendengar kata panjat adalah menuju kepada sesuatu yang berbau ketinggian dan ada hal yang ingin di capai, dengan cara memanjat ke atas serta ada orang yang melakukan panjatan untuk mencapai sesuatu tersebut dan lebih banyak merujuk ke panjat tebing maupun bangunan dan sebagainya lah. Namun akhir-akhir ini muncul istilah panjat sosial, panjat sosial lebih mengarah kepada social climber atau seseorang yang ingin terlihat berada di kelas sosial tertentu dalam kehidupan bermasyarakat. Jaadi pemanjatan kita kali ini dinamai panjat sosial.
Objek pemanjatan yang dilakukan oleh social climber ini ialah kelas sosial, yang dimana kelas sosial membentuk pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara hirarki atau bertingkat. Perwujudannya adalah lapisan-lapisan atau kelas-kelas tinggi, sedang, ataupun kelas-kelas yang rendah (Pitirim A. Sorokin) dan adapula konsep kelas yang dinilai dari ekonomi, pendidikan, pekerjaan lah dan masih banyak lagi. Artinyaa social climber melakukan pemanjatan bukan pada tebing atau gedung melainkan pada ranah sosial.

Pemanjatan yang di lakukan oleh social climber ini boleh terbilang instan dalam meraih puncak kejayaannya, dan merupakan pemanjatan yang membuka jalur baru untuk posisi puncak yang “blur”. Yep, salah satu cara instan yang dilakukan oleh si social climber ini cukup bergaul dan terlibat dalam kegiatan orang-orang kelas atas dan berada di tempat-tempat yang dianggap mewah oleh masyarakat “global” saat ini, kemudian memanipulasi dirinya seolah-olah highclass dengan memakai brand fashion terkemuka serta update terhadap segala hal yang ada di muka bumi ini baik masalah musik, bergaulan, it, sampai bahasa yaah pokoknya yang sedang booming lah yea.

“tiba-tiba social climber memanjat dan goal, what a sensational goal!….. apalagi kalau bukan status sosial”. Kebanyakan yang menjadi peserta social climber ini berasal dari lapisan rendah dan sedang, mengapa demikiaan? karena kaum lapisan tinggi sudah tidak manjat lagi melainkan sedang berusaha terbang menuju mars dan bulan, bahkan ada yang ingin mencapai dunia akhirat.
“Hidup ini hanya untuk status sosial”. Social climber ini berusaha semampunya walaupun badai manghalang untuk sampai di puncak. Seperti yang saya temukan ada beberapa social climber sebut saja “martha” yang ingin memanjat melalui jalur yang dianggap oleh masyarakat sebagai jalur high dengan makan di restoran atau berada di tempat yang mewah. Untuk bisa berada di jalur tersebut martha beserta teman kelompoknya rela menabung uang untuk bisa manjat dan kongkow di tempat tersebut. Si martha juga rela makan indomie untuk sementara demi menghemat uangnya agar bisa berada di tempat tersebut. Adapula orang yang saya temui sangat bangga bahkan sering membeberkan ketika dia pernah bersama dengan orang yang dianggap “dewa” atau kaya di lingkungannya, walaupun hanya say hay doang kemudian mereka mengaku dan menganal salah satu orang yang dianggap “dewa” tersebut, muncul pertanyaan di benak saya “so, kalo kenal sama orang itu??? ooh mau dibilang kaya dan gaul juga situ yeah iya deeh you’re awesome!!!. Toh juga si “dewa” tidak pernah memikirkanmu dan bahkan amnesia sama anda . Ada juga yang sering utang sana sinilah ada pula yang tak segan-segan menjual dirinya bukan cuma cewe yah cowo juga ada seperti itu. Mirisnya lagi ada yang sampai mencuri demi manjat ke puncak sosial dan mendapatkan status sosial tersebut.

Status sosial dilihat sebagai ibarat “uefa liga champions”, orang-orang berlomba untuk sampai di puncak. Pada dasarnya, status sosial merupakan kedudukan sosial seseorang di masyarakat yang dapat diperoleh dengan sendirinya melalui usaha ataupun karena pemberian. Status sosial yang lebih tinggi tentunya akan berpengaruh pada pandangan masyarakat, oleh sebab itu setiap orang berlomba-lomba untuk mencapai status sosial tersebut.

Status sosial jenisnya macam-macam, ada status sosial yang diberikan karena orang tersebut merupakan darah bangsawan (keturunan), kemudian status yang diperjuangkan, nah status sosial jenis ini yang dipandang sebagai “liga champions. Untuk bisa mengangkat trophy “liga champions” anda-anda sekalian haruslah mempunyai kemampuan tertentu, dan berjuang keras. Biasanya orang yang ikut “liga champions” memanjat melalui jalur prestasi (akademik, juara di liga gojektraveloka, menjadi hakim,dokter/insinyur) kemudian kekuasaan atau jabatan (pegawai hingga menjadi manajer, aparat pemerintah; tentokar, plokis dan pejabat negara) serta kalau kualitas pribadi anda bagus maka anda dipandang sebagai tokoh yg dituakan, pemuka agama/adat. Kualitas pribadi bisa juga diperjuangkan dengan pendidikan dan pengalaman, dan status yang diberikan karena telah berjasa atas negara dan masyarakat.

Status sosial yang di perjuangkan oleh social climber boleh dikatakan sebagai pemanjatan yang membuka jalur baru, karena mereka tidak terlalu memperdulikan kemampuan atau kualitas pribadi atau apa yang sudah ada pada jenis status sosial yang ada. Melainkan cukup dengan bergaul dan bergaya bak artis, intinya sih seolah-olah sajaa. Jalur baru yang sangat nyaman yaa? yup, kebanyakan orang mengambil jalur perjuangan yang begitu ketat dan keras sampai rela main tikung dan lambung kiri, sailing siku lah, jungkir balik sana sini, saling kindits lah eh ups. Tapi, si social climber jeli melihat peluang dan akhirnya membuka jalur baru untuk manjat. lagian juga kalau memang terpaksa untuk jadi social climber minimal di butuhkan pengetahuan. Agar ketika manjat untuk mebuka jalur baru tidak jatuh dan mati, kan kalau mati bisa bikin malu keluarga “Headline news; seorang pemuda mati akibat jatuh ketika hendak panjat sosial”. Namun, kebanyakan social climber tidak memiliki modal tersebut. Menurut saya untuk mencapai status sosial, tatanan yang ada sudah menyediakan jalur pemanjatan yakni archieved status dan assigned status (status yang diperjuangkan dan diberikan). Tapi tidak apa-apa lah yaa kalau buka jalur baru juga, malah berjasa kan bisa dipakai oleh khalayak umum.

Social climber terjerat oleh hal-hal yang tidak jelas. karena mungkin kebanyakan melihat iklan, media terutama instagram, film atau apalah, jadinya hasrat dalam diri muncul untuk menjadi seperti apa yang mereka lihat di media atau apalah. Kemudian standar kehidupan yang ada dipikirannya ikut berubah yang dari awalnya biasa-biasa saja kini menjadi luar biasa. Anda memang luar biasa salut, awesome deeeh. Iming-iming tersebut telah merasuki pikiran serta merasuki jiwa dan raganya, hal yang tidak jelas itu memaksakan kita untuk menjadi masyarakat yang patuh, tunduk, konsumtif dan lata seolah-olah kehidupan kita hanyalah untuk kebahagiaan dan kejayaan yang terkonstruk. Kehidupan yang di konstruk oleh bringasnya dunia ini membentuk sebuah kesekapatan bahwa kebahagian setiap orang mesti soal menikah, punya anak, jadi bos, punya mobil, tinggal di kawasan elit, berada di tempat tertentu yang dianggap elit, bergaya bak artis baik lokal maupun internasional, punya suami/istri ala artis pergi kesana kemari pulang pergi and stay chill. Padahal itu semua hanyalah bisnis semata. Yap kita dilihat sebagai pasar yang sangat menguntungkan.
Untuk memanjat kelas sosial yang ada pada tatanan masyarakat saat ini, si social climber cenderung mengikuti perkembangan fashion namun ujung-ujungya justru terlihat seperti penyanyi dangdut, intinya sih tidak enak dipandang kayak ada yang ganjil aja. Mau kerja tapi harus kerja yang bergengsi untung bagus kalau kerja apapun yg jelas halal yah. Lah kalau masih minta duit sama orang tua, terus duitnya dipake untuk panjat sosial ….zzzzz… apa yah “hmmm kayak ada asu-asunyaaa”. yang paling menjengkelkannya lagi si social climber ini suka memandang kolot orang yang tidak mengikuti perkembangan yeah suka mandangin seblah mata.
Saran saya kalau memang anda mau membuka jalur pemanjatan baru yah minimal ada pengetahuan mengenai teknik pemanjatan, banyak latihan manjat serta perkuat fisik dan mental anda. kemudian manjamen serta strategi. nah, inilah modal anda untuk manjat dan mendapatkan status sosial.
Muncul lagi pertanyaan di benak saya, setelah sampai di puncak atau menang mau ngapain coba???? terus kalao puncaknya kecil dan tidak muat untuk menampung banyak orang yeah saling tindih menindih kali yaa tertiup badai dan jatuh, kalau jatuh fix mati.