Gerbong Tambahan

Aku tidak ingin menjadi orang yang jarang pulang. Walau saat ini hidup merantau di ibu kota, aku selalu ingin menyempatkan diri untuk kembali ke kampung halaman. Beruntung diriku bekerja di kantor yang terletak tak jauh dari stasiun kereta. Aku tak perlu lagi memikirkan transportasi untuk pulang. Cukup memesan tiket lalu berjalan kaki sedikit maka tibalah aku di stasiun untuk menunggu kereta.

Meski demikian, tidak setiap minggu aku pulang. Ada kalanya aku ingin menikmati akhir pekan di ibu kota. Selain beristirahat, ini juga untuk menghemat uang. Aku menjadwalkan pulang setelah menerima gaji di akhir bulan. Maklumlah harga sebuat tiket kereta tak murah. Terlebih lagi saat tak ada pilihan kelas lain kecuali eksekutif pada jadwal keberangkatan di atas jam kantor. Itulah sebabnya mengapa aku hanya bisa pulang satu atau dua kali dalam sebulan.

Hari ini adalah pengecualian. Walau bukan jadwal pulang biasanya, tetapi aku melakukan perjalanan menuju kota kelahiranku. Adalah permintaan orang tua yang mengharapkan kehadiranku pada acara keluarga esok hari. Aku tak keberatan baik dari segi dana ataupun waktu. Hanya saja beberapa rencana di akhir pekan ini harus ditunda hingga minggu depan.

Dalam perjalanan berdurasi tak kurang dari empat jam ini, aku duduk di kursi baris ketiga pada gerbong pertama. Walaududuk dekat jendela, tak ada pemandangan yang bisa kulihat karena gelapnya malam. Aku tidak lagi mempermasalahkannya. Bahkan jika gerbong ini tak berjendela sekalipun diriku tak peduli. Bagiku, tiba di tujuan dengan aman dan nyaman adalah hal yang penting. Dengan demikian, hal yang gemar kulakukan sepanjang perjalanan adalah tidur.

Hampir setiap perjalanan, aku selalu dapat tidur nyenyak hingga ketika terbangun nanti, kereta sudah tiba di tujuan. Dalam perjalanan kali ini sayangnya tidurku diinterupsi oleh kebutuhan biologis. Aku terbangun karena harus buang air kecil. Kemihku menuntut pelepasan dan tak ada alasan untuk menundanya. Segera saja aku bangkit menuju toilet yang terletak di ujung depan gerbong. Untunglah bapak yang duduk di sebelahku masih tidur pulas. Aku tinggal melangkahi kakinya saja tanpa harus membangunkannya.

Jarak menuju toilet tak terlalu jauh dari tempat dudukku. Hanya melewati dua baris kursi, aku sudah tiba di luar kabin (bordes gerbong). Toilet berada tepat di samping pintu kabin penumpang. Suasana yang jauh berbeda sangat terasa saat kubuka pintu tersebut. Sejuknya ruangan seakan lenyap terhisap keluar. Guncangan pun sangat kuat menggoyang-goyangkan tubuh. Suara benturan roda besi kereta yang melindas sambungan rel terdengar saling kejar mengejar.

Menatap ke depan, kulihat sebuah gerbong penumpang yang kosong dan gelap. Kuyakini itu adalah gerbong tambahan yang sedianya dibutuhkan untuk mengangkut penumpang berlebih saat musim liburan tiba. Aku tak begitu tahu alasan mengapa gerbong kosong tersebut dirangkaiakan pada kereta ini tapi yang pasti, aku tidak berkepentingan untuk mengamatinya lebih jauh. Jadi kubiarkan saja ia bergoyang-goyang didepan sana.

Harus kuakui toilet kereta akhir-akhir ini lebih baik dari sebelumnya. Air mengalir di semua fasilitas seperti kran washtafel, shower, maupun pembilas kloset. Kondisinya pun lebih bersih bahkan sabun cair pun tersedia. Dahulu, toilet gerbong adalah tempat terburuk dari semua rangkaian kereta. Udaranya pengap dan bau. Hanya ada satu keran yang dapat digunakan, itu pun jika airnya mengalir. Untuk membilas harus ditampung dulu di ember. Kloset nyaris tak berfungsi. Semua kotoran dibuang langsung ke atas rel. Kendati jauh berbeda dibandingkan sekarang, toilet itu tetaplah ruangan sempit yang sama sekali tidak membuat betah berlama-lama di dalamnya.

Keluar dari toilet, aku merasa lega. Tak hanya karena sudah melepas beban di kemih, tapi juga keluar dari tempat sempit yang membuatku pusing itu. Saat ini, niatku hanya ingin kembali ke tempat duduk, melanjutkan tidur dan berharap bangun saat tiba di tujuan.

Melangkahkan kakiku ke pintu kabin, aku menyadari ada sesuatu yang berubah. Gerbong tambahan itu kini tak lagi gelap. Semua lampu di dalam kabinnya dinyalakan dan kini gerbong kosong itu seperti berpenumpang. Ada apa gerangan?

Aku yakin ini dilakukan petugas kereta karena suatu alasan tapi kupikir tak ada salahnya sedikit menyalurkan rasa penasaranku untuk melihat ada apa di dalam sana. Hanya melihat saja, tak lebih dari itu.

Aku menunda sejenak langkah pulang ke tempat dudukku untuk berjalan ke gerbong depan. Melangkahi sambungan kereta yang bergoyang naik turun, diriku merapat pada pintu kabin lalu mengintip ke dalamnya melalui jendela pintu. Ruangan itu kini terang benderang namun kursi-kursi tetap kosong tak terisi. Tak terlihat seorang pun di dalam sana kecuali seorang anak perempuan berdiri di lorong tengah.

“Kok ada anak kecil?” tanyaku dalam hati.

Pemandangan ini menahan diriku untuk tetap mengamatinya. Gadis kecil itu berdiri sendirian membelakangiku. Aku memperhatikannya menggedong sebuah boneka. Sesekali kepalanya celingak-celinguk seperti kebingungan. Sepertinya ia tersesat.Ini membuatku teringat pada adik di rumah. Dia pernah tersesat di taman hiburan dua tahun yang lalu. Hatiku pedih mengingat ia menangis menjerit-jerit. Menanyakan mengapa aku dan orang tuaku meninggalkan dia sendiri. Padahal kejadian itu murni ketidaksengajaan. Kami terlambat menyadari kalau Siska terpisah di tengah keramaian pengunjung. Kami berusaha mencarinyake setiap penjuru sampai memanggilnya lewat pengeras suara. Pada akhirnya ia ditemukan. Datang menangis terisak-isak diantarkan petugas keamanan sambil membawa boneka maskot. Matanya sembab, tenggorokannya kering. Ia seperti menangis seharian tanpa henti. Ketika menjerit pada kami, suaranya parau. Ini menjadi trauma bagi ayah dan ibu, serta diriku. Saat itu aku berjanji untuk melindungi dan tidak meninggalkannya lagi seorang diri.

Sekarang gadis kecil yang kulihat ini mirip sekali dengan Siska di saat itu. Kenangan memanggil nuraniku untuk tidak membiarkannya begitu saja. Maka dengan sedikit keraguan kubuka pintu geser menuju kabin penumpang gerbong tambahan itu untuk menghampirinya. Anak itu tampak tak menyadari kehadiranku. Aku tak ingin membuatnya terkejut. Alih-alih menyentuh bahu, kuputuskan untuk memanggilnya secara halus.

“Uhh.. dek? Adek? Lagi ngapain di sini?”

Aku berharap suaraku didengar olehnya dan terwujud. Anak itu menghentikan gerakannya sejenak sebelum ia perlahan membalikan badannya ke arahku. Saat memalingkan wajah, aku menemukan dia adalah seorang gadis kecil yang cantik dan imut. Pipinya tembem, mulutnya kecil, matanya manis dan hidungnya bangir Tangan kirinya menggendong boneka anak perempuan yang mirip dirinya sendiri sedangkan tangan kanannya sesekali memainkan rambut hitamnya yang dikepang ke depan. Ia adalah seorang anak kecil yang dapat merebut hati orang lain dengan mudah.

Sang anak telah merespon dengan berpaling padaku, namun ia tidak menjawabnya. Gadis itu malah melanjutkan celingak-celinguknya seperti diriku tak ada. Aku kemudian merendahkan tubuh dan mengelus kepalanya.

“Dek, namanya siapa?”

Aku kembali bertanya dengan senyum tersungging di mulut tetapi si anak tak menjawab. Ia malah seperti menghindari kontak mata denganku. Jika dia tidak mau menyebut namanya, aku harus bertanya hal lain.

“Adek kok sendirian di sini? Papa sama mamanya mana?”

Gadis kecil itu masih belum menjawab namun kali ini ia menatapku. Kemudian aku melihat dirinya mengangkat tangan, menunjuk ke suatu tempat di gerbong belakang. Aku tak tahu letak persis tempat yang ia tunjuk. Sungguh pun begitu, akan lebih sia-sia bertanya lebih jauh pada sang anak karena ia tak mungkin mengerti kode posisi tempat duduk dan mungkin juga takmembawa karcis. Aku bernisiatif membawanya ke gerbong restorasi dan meminta bantuan kepada petugas untuk mencari orang tuanya.

“Ayo, kakak antar ke tempat papah sama mamah ya.” Ajakku padanya dengan sedikit kebohongan.

Tak berlama-lama, aku mencoba menarik tangan kecil sang gadis. Aku senang ia tidak melawan dan menurut. Kami mulai melangkah bersama-sama menuju gerbong berikutnya. Rasanya seperti mengajak jalan Siska saat ia masih kecil.

Kami baru melewati bordes gerbong saat kurasakan sang bocah menarik tangannya hingga terlepas dan di saat yang sama pintu kabin tiba-tiba tertutup. Aku menyadari anak itu tak lagi bersamaku. Khawatir tertinggal di dalam, aku berbalik mencoba membuka pintu tapi tak bisa.

“Dek! Adek di dalam? Buka pintunya!”

Aku berteriak memanggilnya sambil berusaha membuka pintu, bahkan menggedornya tapi sia-sia. Bagaimana mungkin ini terjadi? Mengapa tiba-tiba pintu itu menutup sendiri dan terkunci? Bagaimana anak itu tahu cara mengunci pintu ini? Kuncinya saja aku tak pernah tahu seperti apa bentuknya.

Tak kunjung mendengar jawaban, aku menempelkan wajahku pada jendela pintu untuk melihat ke dalam. Aku tak menemukannya di dalam sana hingga suatu ketika wajahnya muncul dari bawah dengan raut pucat, mata merah melotot dan darah mengalir dari kedua ujungnya seperti menangis.

Aku tersentak kaget menjauhi jendela. Tak yakin dengan apa yang kulihat, aku kembali menoleh penuh rasa kecemasan pada jendela itu tetapi wajah anak itu sudah tidak lagi terlihat.Terkejut, bingung dan bingung, aku merasakan perasaan yang sangat tidak enak.Kuputuskan untuk kembali ke tempat dudukku dan tak peduli lagi pada anak itu.

***

Aku mengira diriku sudah terlalu lama beranjak dari tempat dudukku sejak pergi ke toilet namun saat kulihat bapak yang duduk di sebelahku masih mendengkur, sepertinya tak selama itu. Meski demikian, kurasakan adanya perubahan suasana di dalam gerbong ini. Secara kasat mata, tak ada yang berbeda dari sebelumnya. Sebagian besar penumpang tidur, sebagian lagi memainkan gadget, dan sisanya melakukan hal yang lain. Tapi entah kenapa perasaanku tidak merasa nyaman. Hembusan penyejuk udara tidak membuatku sejuk. Atmosfer seakan menjadi berat dan kulitku merasakan perbedaan suhu yang tipis. Seperti ada kehadiran sesuatu yang lain dalam kabin ini.

Aku menjejalkan sebuah asumsi ke dalam kepalaku bahwa diriku terlalu lelah. Sekali lagi kulangkahi sebelahku tanpa membangunkannya dan berusaha membuat nyaman diriku sendiri di tempat duduk. Setelah menghela napas panjang untuk menenangkan diri, kuhempaskan diriku pada sandaran kursi dan segera menutup mataku dengan bantal. Aku ingin sekali tidur nyenyak tapi ada sesuatu yang mencegahku.

Aku mendengar suara wanita dari arah belakang. Suara itu terdengar seperti seorang ibu yang mengalami kesulitan. Dari nadanya, ia seperti mampir ke setiap penumpang dan menanyakan sesuatu. Awalnya aku tak mendengar jelas apa yang ia katakan, namun seiring dirinya mendekati kursiku, telingaku bisa menangkapnya.

“Ada yang melihat anakku?”

“Saya melihatnya!”

Entah kenapa secara tiba-tiba aku berinisiatif bangkit berdiri merespon pertanyaannya sebelum ia menanyaiku. Dia adalah seorang wanita yang usianya antara tiga puluh hingga empat puluh tahunan. Dari rautnya mukanya aku bisa membaca wanita itu sudah hampir frustasi. Aku menemukan dirinya sedang bertanya pada penumpang di jajaran kanan belakang baris kursiku dan kini menoleh padaku.

“Ibu sedang mencari putri ibu?”

Aku menanyakannya kembali untuk konfirmasi dan kulihat raut wajahnya berubah seperti menemukan harapan. Wanita itu segera menghampiriku.

“Mas, mas melihat Nadia, anakku? Di mana dia?”

“Di gerbong depan. Tadi dia di sana,” jawabku sambil menunjuk ke arah yang kusebut.

Mendengarnya, sang ibu bergegas menuju ke sana setelah berterima kasih padaku. Melihat ia begitu senang, hatiku pun merasakan hal yang sama seakan peristiwa aneh sebelumnya hanyalah sebuah halusinasi, atau mungkin keisengan si anak bernama Nadia itu. Aku berusaha melupakannya dengan berharap mereka akan bertemu dan semuanya berakhir bahagia. Setidaknya, aku bisa melanjutkan tidurku.

***

Kejadian-kejadian yang baru saja kualami membuatku lelah. Aku sangat ingin tidur di sisa perjalanan ini tapi belum cukup mengantuk. Tanpa ada maksud tertentu, aku menatap ke luar jendela. Gelap, tak tampak apapun di luar sana, aku tahu hal itu. Semula aku hanya iseng saja, tak terlintas sama sekali dalam benakku akan melihat kembali wajah mengerikan yang tak asing lagi.

Wajah pucat penuh darah Nadia muncul tiba-tiba di balik jendela, tepat di depan mataku. Nyaris serangan jantung, aku refleks menghempaskan diri ke belakang hingga kepalaku terbentur sesuatu. Kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, wajah itu hilang saat kulihat lagi.

“Apa itu barusan?”

Pikiranku diselimuti kebingungan diikuti rasa sakit di bagian belakang kepalaku yang berdenyut-denyut. Aku menoleh ke belakang, mencari tahu apa kuhantam. Ternyata itu adalah sandaran tangan kursi sebelah. Rupanya aku tersentak ke kursi sebelah tapi kursi itu kosong. Ke mana penumpang yang duduk di sebelahku?

Terheran-heran, aku bangkit berdiri dan menemukan kenyataan yang mencengangkan. Tiba-tiba saja aku menjadi satu-satunya penumpang di dalam gerbong ini. Tak seorang pun yang kutemukan kecuali kursi-kursi kosong seperti tak pernah ditempati sebelumnya. Ke mana orang-orang ini? Mereka seakan lenyap begitu saja.

Kabut kegelisahan dan kecemasan semakin menyelimuti hati saat mengamati sekelilingku. Saat itu kutemukan suatu fakta yang menjawab satu dari banyak pertanyaan di kepala. Gerbong ini tak bernomor. Aku tak menemukan angka pada layar peraga di samping identitas gerbong. Aku ingat situasi seperti ini saat berada di gerbong tambahan belum lama ini. Apakah ini berarti aku berada di gerbong tersebut? Bagaimana bisa terjadi sedangkan diriku tak pernah kembali ke sana? Apa yang terjadi di kereta ini sebenarnya?

Segala kejadian ini benar-benar tidak masuk akal dan sama sekali tidak menyenangkan. Lupakan soal tidur nyenyak sepanjang perjalanan, aku malah ingin segera bangun dari mimpi buruk ini. Paling tidak keluar dari kereta ini sesegera mungkin. Membawa tekad tersebut, aku beranjak dari tempat duduk untuk bergegas keluar dari gerbong ini. Kulihat pantat lokomotif di salah ujung kabin yang menandakan bahwa aku harus keluar dari ujung yang satunya. Ke arah sanalah aku pergi.

Aku berlari menyusuri lorong menuju ujung gerbong namun entah kenapa tak membuatku lebih cepat sampai. Gerbong ini seakan lebih panjang dari sebelumnya dan semakin aku berlari, tubuhku semakin lelah. Atmosfer ruangan terasa berat membuat tubuhku sulit bergerak dan bernapas. Saat itu aku merasakan suatu perasaan yang amat mencekam dari arah belakang. Sesuatu telah hadir di ruang kabin ini dan tubuhku tak dapat bergerak. Siapa di sana?

Langkahku terhenti. Rasa penasaran bercampur takut mendorong kepalaku untuk menoleh ke belakang, pelan dan berat. Dari arah pintu di ujung gerbong yang berlawanan, aku melihat bayangan hitam. Aku tak bisa menerka bentuk yang direpresentasikannya, tapi kuamati bayangan itu dengan perlahan semakin pekat dan membesar. Dari kegelapan yang terdalamnya, aku menangkap sesuatu yang menjulur keluar, sebuah tangan manusia berlumuran darah.

Mataku terbuka lebar seakan hendak keluar dari rongganya melihat tangan misterius itu menggapai lantai. Kemudian napasku tercekat saat ia mencengkram kaki kursi dan menarik seluruh anggota tubuhnya. Aku melihat kepala seorang wanita berambut panjang keluar dari rahim bayangan. Wajahnya tertutup gelap tetapi matanya menyorotku dengan pandangan yang sangat menyeramkan.

Tubuhku lemas. Aku ambruk ketakutan. Wanita itu terus berusaha mengeluarkan tubuhnya. Ketika ia tersorot lampu kabin, aku menutup mulutku jijik. Wajah utuhnya hanya menyisakan daerah mata kanan saja sementara bagian yang lain telah terkoyak memperlihatkan serat otot dan tulang rahang seperti wajah tengkorak. Mata kiri tak lagi berada di tempatnya kecuali menggantung pada serabut saraf dan terayun-ayun saat ia bergerak. Separuh dahinya hilang hingga memaparkan gumpalan pucat otak. Belum selesai sampai di sana, aku menemukan tubuhnya tak lagi bersisa kecuali tubuh bagian atasnya saja sementara usus dan organ dalam terburai di lantai dan terseret saat ia bergerak.

Ini ironis ketika aku tak merasakan apapun saat melihat pemandangan serupa di film bertema mayat hidup, sekarang diriku tak bisa menghentikan gemeletuk gigi dan tak dapat mengendalikan kandung kemihku. Celanaku hangat dan basah sedangkan aku tak bisa melakukan hal lain kecuali meringsut mundur sambil menangis.

“Toloongg..mamaa….”

Jeritanku lemah, menyedihkan dan tak mengubah keadaan. Aku bahkan tak punya tenaga hanya untuk melepaskan suara dari dada. Harapan seakan sirna dariku hingga suatu ketika punggungku tertahan sesuatu. Dengan sisa tenaga, aku menoleh ke belakang dan menemukan dinding…bukan, itu adalah pintu.

Menyadari aku telah sampai di ujung gerbong, adrenalin langsung deras menjalar ke seluruh tubuh. Aku merasakan tenaga kembali mengisi kedua kakiku dan seketika bangkit berdiri. Aku berbalik meraih gagang pintu dan berusaha membukanya. Ia terbuka lebar.

Aku berlari tunggang langgang seperti orang gila tanpa peduli di belakangku. Melompati sambungan gerbong, aku bergegas membuka pintu gerbong berikutnya. Pemandangan yang sangat kurindukan pun terkuak. Gerbong berpenumpang. Rasanya seperti telah bertahun-tahun tak melihatnya.

Aku merasakan hembusan penyejuk ruangan lembut menyentuh wajahku. Saat melangkah masuk, aku melihat puluhan pasang mata menatapku. Aku nyaris melupakan kondisiku yang kacau berantakan. Jika dalam situasi normal aku akan risih dan malu namun saat ini ada hal lain yang mendahuluinya.

Aku ingin menjelaskan keadaanku. Aku ingin memberitahukan tentang hal yang kualami. Aku ingin memperingatkan mereka akan sesuatu di gerbong depan. Banyak hal yang ingin kukatakan pada mereka tetapi hatiku masih terlalu panik untuk menentukan apa yang harus kulakukan. Saat melihat tempat dudukku yang kosong, kuputuskan untuk duduk dulu menenangkan diri.

Sambil berusaha mengatur napas, aku berjalan ke baris tiga. Bapak yang duduk di sebelahku rupanya sudah bangun. Ia melihatku yang berdiri di sampingnya dengan tatapan heran.

“Permisi pak, mau duduk.”

Aku meminta izin sewajar mungkin, berharap ia memberikan jalan sejenak untuk lewat. Alih-alih menarik kakinya yang selonjoran, sang bapak membuka mulutnya lebar-lebar seperti akan memarahiku. Tak lama berselang ia berteriak keras.

Aku tersentak kaget hingga jantungku nyaris berhenti untuk kesekian kalinya. Ada apa dengan bapak ini? Aku tak bisa mengenali apa yang diteriakkannya. Suara itu menggaung seperti klakson kereta dan menggema di dalam kepalaku.

Keadaan semakin buruk. Saat aku tersentak ke kursi penumpang lain, aku menemukan semua orang di dalam gerbong ini memperlihatkan gelagat yang sama dengan si bapak. Masing-masing membuka mulutnya dan apa yang terlintas dalam pikiranku pun tak terelakkan. Mereka meneriakkan suara yang sama padaku. Aku tak dapat menggambarkan apa yang kudengar saat ini. Kepalaku seperti diobrak-abrik. Gendang telingaku bagai dikoyak oleh pisau ultrasonik dan langsung menyayat otak. Aku tak kuasa menghentikannya meski kututup telinga dengan kedua tanganku rapat-rapat.

Ini kejam, brutal, dan keterlaluan. Aku tak tahan lagi dan lari sekencang-kencangnya keluar dari gerbong ini sebelum kepalaku pecah.

Berlari memasuki gerbong di belakangnya, aku menemukan situasi yang tak lebih baik dari sebelumnya. Semua penumpang di gerbong ini bersikap sama padaku. Mereka menatapku dan pastinya tak lama lagi akan meneriaki diriku.

“Oh Ya Tuhan. Orang-orang ini kenapa? Kok mereka begini sama aku? Apa salahku?” rintihku kepada entah siapa.

Cukup sudah. Semuanya tidak ada yang normal. Semua orang di sini sakit, gila, kesetanan. Aku tak peduli lagi. Aku berlari melewati orang-orang aneh tanpa menghiraukan mereka sama sekali. Aku hanya ingin keluar dari sini, tak peduli seberapa banyak gerbong dalam rangkaian kereta ini.

Gerbong ketiga, sama saja.

Gerbong keempat isinya orang gila semua

Gerbong restorasi, bahkan awak dan petugas kereta pun ikut kesetanan.

Aku terus berlari sambil terus bertanya-tanya, “Adakah akhir dari mimpi buruk ini? Kenapa aku tak kunjung bisa keluar dari semua ini? Adakah yang akan menolongku?”

Gerbong keenam, tak ada siapa pun di sini. Setelah berlari dalam kegilaan dari gerbong ke gerbong, akhirnya merasakan lega. Aku bisa melepaskan napas panjang dan membiarkan tubuhku yang lelah untuk tumbang sejenak. Ketika melihat lantai dihujani cucuran keringat, aku menyadari betapa muaknya diriku dengan semua ini. Mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Sangat memuakkan hingga aku muntahkan semua isi lambungku ke lantai yang dingin ini. Ajaibnya, setelah semuanya keluar, perasaanku menjadi sedikit lebih tenang. Pikiranku bahkan lebih jernih seakan segala beban dan stres ikut terbuang bersama makan malamku. Berkatnya, aku bisa menerima persepsi yang lebih baik dari situasi sekitarku.

Aku mengangkat kepala untuk mengetahui di mana diriku berada. Tak terlihat siapapun di ruangan ini kecuali sebuah mesin besar yang ukurannya nyaris mengisi seluruh ruangan. Di salah satu ujungnya terhubung pipa-pipa dan kabel-kabel berbagai ukuran yang mengarah ke suatu tempat. Suara menderu terdengar memenuhi udara dalam ruangan ini. Saat itu aku menyadari sedang berada di gerbong Kereta Pembangkit, dan mesin besar ini adalah pembangkit listrik (generator) bertenaga diesel.

Tak pernah terlintas dalam pikiran selama hidupku akan berada di gerbong ini. Setiap kali melihat rangkaian kereta, mungkin ini satu-satunya gerbong yang tak ingin kumasuki. Suara deru dan penampakan mesin besar yang terlihat dari luar jendela selalu memberi gambaran tentang seekor monster yang mendiami sangkar besi. Mencekam, mengancam, mengintimadasi diriku dengan derunya yang terdengar layaknya geraman makhluk buas. Namun entah kenapa kini aku merasa sensasi lain meskipun berada langsung di dekatnya. Semuanya seakan membantah asumsi yang telah terbentuk sejak aku masih kecil.

Setelah semua peristiwa meresahkan yang telah kualami, aku merasa aman di tempat ini. Deru mesin yang selama ini kutakutkan justru menenangkan diriku. Suhu yang dilepaskannya menghangatkan tubuhku yang bermandikan keringat dingin. Rasanya seperti berada di tengah kehangatan orang tua saat cuaca hujan. Ini adalah situasi yang menjadi sangat kurindukan dan tak ingin segera berakhir. Sayangnya, mimpi buruk masih belum berakhir.

“Nadi….aa…”

Suara pelan yang nyaris seperti berbisik tertangkap jelas di telingaku, mengalahkan deru mesin yang bahkan terdengar sampai luar gerbong. Tensi kembali meningkat, jantung kembali berdebar. Saat kubalikkan badan ke pintu masuk, bayangan hitam itu kembali muncul. Sang mimpi buruk masih memburu.

Wanita bertubuh setengah itu kembali muncul menyeret tubuhnya ke arahku. Aku berlari menuju ujung gerbong hanya untuk memaki diri sendiri ketika melihat tak ada lagi gerbong di belakang. Ini adalah gerbong terakhir. Keputusasaan mulai melingkupi diriku hingga tubuhku lemas. Tubuhku jatuh terduduk pasrah.

Semua harapan lenyap. Asa telah sirna. Yang tersisa hanyalah ketakutan. Aku tak kuasa melihat sang wanita saat ia terus menyeret tubuhnya semakin dekat. Inilah akhirnya. Aku akan dilahap olehnya. Aku hanya bisa menjerit dalam hati dan berharap ini semua akan cepat berakhir.

***

Di dalam sini sangat gelap gulita. Kedua mataku tak dapat melihat apa-apa namun telingaku mendengar sesuatu. Seperti suara seseorang yang mengatakan sesuatu. Awalnya terdengar samar tapi perlahan semakin jelas.

“Mas, bangun. Sudah sampai.”

Sebuah ucapan sederhana namun berhasil membuka kedua mataku dan yang pertama kali kulihat adalah seorang petugas kebersihan kereta. Ternyata aku tertidur dan dibangunkan olehnya. Sepertinya aku bermimpi tentang sesuatu tetapi tak dapat mengingatnya.

Melihat diriku telah bangun sepenuhnya, sang petugas pun pergi. Kudapati sebagian besar penumpang telah meninggalkan kabin. Hanya beberapa terlihat sedang menurunkan tasnya dari bagasi di atas tempat duduk. Entah kenapa aku merasakan perasaan yang ganjil. Seperti sesuatu terjadi di dalam ruangan ini tapi aku tak mendapat gambarannya. Saat aku beranjak berdiri, kurasakan tubuhku lelah dan pegal. Bajuku basah oleh keringat, kepalaku pusing, telingaku berdenging dan celanaku pun lembab. Aku benar-benar tak ingat sama sekali tentang apa yang kumimpikan namun sepertinya cukup buruk. Saat ini aku tak ingin melakukan apapun kecuali keluar dari kereta. Berharap keluarga yang menjemputku tidak menyadarinya.

Tengah malam tinggal satu jam lagi saat kulihat jam tangan. Suasana stasiun pun mulai sepi walau lampu-lampu masih menerangi semua pelataran peron. Menuruni tangga keluar dari gerbong, aku melihat papa, mama, dan Siska duduk di bangku ruang tunggu. Adalah adikku yang melihatku lebih dulu sebelum membangunkan kedua orang tua kami yang tertidur.

Aku bukan orang yang jarang pulang, namun entah kenapa kali ini aku merasa sangat merindukan mereka. Rasanya seperti telah bertahun-tahun tak bertemu keluarga. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Hatiku seperti mengepakkan sayapnya, membuatku ingin berlari ke arah mereka.

Aku dapat melihat perasaan yang sama pada keluargaku. Siska bahkan penuh semangat menarik mama untuk bersama-sama lari ke arahku.Namun mendadak aku mendengar suara lantang dari sebelah kiri. Suara klakson kereta. Aku lupa kalau di antara kami melintang tiga lintasan rel kereta dan jika seseorang lalai mewaspadai kereta lewat, maut akan menjemputnya.

Aku melihat tiga cahaya lampu datang dari kegelapan. Rangkaian kereta akan datang melewati jalur satu, lintasan rel yang akan diseberangi Siska dan mama. Menyadari mereka dalam bahaya aku berteriak sekeras-kerasnya.

“Stop! Awaas!”

Jantungku serasa berhenti tepat saat kereta tersebut lewat dengan kencangnya. Hatiku penuh dengan kecemasan yang amat dalam ketika tak menemukan kedua orang yang kusayangi itu. Apakah mereka selamat?

Aku bernapas lega. Siska dan mama menghentikan langkahnya tepat sebelum rel jalur satu. Mereka selamat namun aku melihat wajah mereka seperti panik dan tegang menatapku.Mulut mereka mengatup-ngatup seperti meneriakkan sesuatu namun aku tak dapat mendengarnya. Suara klakson kereta lain menyerobot pendengaranku. Sangat keras dan lantang, aku menoleh ke sumbernya di arah kanan dengan jengkel tapi yang kulihat adalah tiga cahaya lampu yang sangat terang menyilaukan. Kepalaku kosong, aku terdiam beberapa saat untuk menyadari itu adalah lampu sorot sebuah lokomotif kereta dan diriku berdiri tepat di jalurnya.

Ia datang padaku dengan cepat. Semakin dekat, cahayanya lampunya terang benderang. Menyilaukan mata hingga akhirnya semua menjadi gelap.

Aku tak dapat mendengar mama. Aku tak dapat mendengar suara papa. Aku tak dapat mendengar suara Siska. Yang terdengar hanyalah suara klakson kereta yang terus bergema dalam kepalaku dan diriku teringat kembali akan mimpiku sepanjang perjalanan.

Tamat