Blietzkrieg Bop untuk Keponakanku

Taufik Nurhidayat
Nov 4 · 12 min read
Potret kolaborasi antara aku dan Raihan (keponakanku) sebagai satir atas kesoktahuan banyak orang dewasa.

“Ai.. o.. lesgo, ai.. o.. lesgo,” ucapnya sambil melirik layar laptopku. Itu adalah pertanda ia memintaku memutar “Blietzkrieg Bop”-nya Ramones dari komputer lipat yang biasa aku pakai untuk membaca, memutar musik, dan menggarap literatur ini. Ia tahu bahwa lagu itu tersimpan dalam perangkatku ini semenjak aku memutarkan pertama kali untuknya — tiga hari sebelum tulisan ini dibikin — karena ia keterusan mengucap “Kisjigok” sebagai pelafalan untuk “Blietzkrieg Bop” setelah aku melantunkannya seusai pulang sholat Jumat dari masjid kampung sebelah. Jadi, awalmulanya begini.

Dalam perjalanan pulang dari masjid yang jaraknya sekira 300 meteran dari rumahku, benakku terngiang-ngiang oleh lagu tersebut. Dan pula, aku tak mungkin menyanyikannya sambil berjalan kaki di perjalanan karena — selain tak pede dengan suaraku — aku tak ingin ada orang mengira yang “bukan-bukan” terhadapku walaupun kondisi jalanan saat itu cenderung sepi. Akhirnya aku lampiaskan yang mengiang itu sesampainya di dalam rumah.

Saat menuju kamar untuk sekadar rebahan, aku melantunkan, “Blietzkrieg bop…,” dengan gaya lafal Joey Ramone dan keponakanku yang belum genap berusia empat tahun pun menimpalinya, “Kisjigok..!”. Merasa heran bercampur geli, aku mengulang pelafalan itu berkali-kali dan ia pun tetap menimpali dengan balasan serupa. Sebagai “orangtua silang” yang merasa bertanggungjawab atas tumbuh-kembang intelektual-estetika-sekaligus ketengilannya, aku mengajaknya mengenal lagu tersebut langsung dari Ramones lewat perangkat laptop sialanku ini.

Player pun memutar lagunya. Ia manggut-manggut di hadapan laptop. Aku tersenyum kecil dan membatin: ada serpihan karakterku dalam dirinya. Entahlah, aku tak paham teori genetika mengapa ada sisipan-sisipan karakter seorang paman pada keponakan lelaki dari seorang kakak perempuannya. Meskipun beberapa orang sesekali mengait-kaitkan kemiripan karakter keponakanku denganku, aku lebih yakin mengkajinya dengan teori sosial dan pendidikan ketimbang membahasnya menggunakan wacana biologis; sebab yang membuat nalarku hidup adalah urusan sosio-humaniora meskipun tak dipungkiri bahwa ilmu eksakta juga penting. Satu hal yang membuatku penasaran; kenapa nada-nada “Blietzkrieg Bop” begitu akrab dan gampang disukai oleh anak kecil/balita?!

Sebelumnya, ia sudah gandrung akan beberapa lagu. Original soundtrack “Tayo” berbahasa Indonesia adalah kegemaran pendengarannya saat berusia dua tahun. Aku bahkan sampai meminta file video soundtrack tersebut dari seorang teman untuk disimpan dalam ponselku karena keponakanku kerap meminta diputarkannya. Kata temanku yang memberiku file tersebut, ia pun menyimpannya demi menghibur keponakannya juga. Aku lantas berpikir: mungkinkah soundtrack “Tayo” digemari banyak balita mana saja gegara nada-nadanya memang berisi ramuan yang terkonsep akrab bagi pendengaran balita? Sekali lagi, entahlah bagiku karena aku memang bukanlah pakar neurosains (ilmu tentang otak). Lagi-lagi, aku akan menjebakkan diriku ke dalam bahasan sosio-humaniora; tentang budaya pop, kapitalisme hiburan, dan framing media yang selalu bisa menyusup hingga ke tontonan dan pendengaran anak-anak. Juga, peran sosialisasi konten dari orangtua kepada generasi penerusnya adalah faktor penting kenapa “Tayo” lumayan langgeng di kancah budaya pop untuk anak-anak.

Di luar “Tayo”, keponakanku juga mengasup referensi lagu-lagu lainnya. Dalam catatanku, ia menggandrungi lagu-lagu yang nyatanya juga tak melulu familiar sebagai hasil katrolan budaya pop. Ada “Aku Cinta KRL” sebagai theme song kereta listrik se-Jabodetabek, “Mars Kereta Api Indonesia” yang merupakan anthem PT KAI, “Indonesia Raya” karangan Wage Rudolf Soepratman, dan “Geef Mij Maar Nasi Goreng” yang adalah senandung keroncong klasiknya Wieteke van Dort yang kemudian digubah kembali oleh Orkes Sinten Remen dari Yogyakarta. Yang kucermati, ada kesamaan sosialisasi dari cara keponakanku memperoleh lagu-lagu itu: berasal dari perangkat orang-orang sekitarnya (aku, kakeknya, pakdhe-nya, dan tantenya) saat kami sedang memutar atau menontonnya, entah dengan cara sengaja maupun tak sengaja.

Intinya, faktor sosial memang berpengaruh. Tapi sekali lagi, ada hal yang membuatku penasaran di luar urusan sosialisasi; yakni mengapa keponakanku kecanduan sehingga suka melantunkan potongan-potongan lagu tersebut meskipun kami tak memutarnya. Apakah benar bahwa lagu-lagu yang kusebutkan di atas memang mengandung nada-nada yang akrab bagi neurotransmitter para balita? Jika benar, kuakui diriku memiliki keterbatasan mengulasnya karena aku bukanlah pengkaji neurosains pada dasarnya — meskipun di kemudian hari, aku bisa ketagihan untuk membicarakan perihal demikian.

Maka, kembalilah pada “Blietzkrieg Bop” yang mencandui keponakanku. Secara sosial, aku berhasil mempengaruhinya sejak pertama kali lagu itu kuputarkan padanya lewat player di laptopku dan kemungkinan besar di sisi lain, keponakanku lumayan menyukai karakterku karena ia meng-copy sekian hal yang aku lakukan; bahkan selain lagu itu, ia juga sangat gemas kepada kucing layaknya diriku; yang mana saat ia masih bayi berusia lima bulan, aku memperkenalkannya pada bayi-bayi kucing tetangga samping rumah sehingga keponakanku memainkan kaki dan tangan lembutnya untuk mengelus bulu-bulu di tubuh anak-anak kucing itu. Dan hingga kini, kucing dan “Blietzkrieg Bop” menjadi fetish baginya yang membuatnya heboh berulang-ulang tatkala melihat kucing lewat atau melonjak-lonjak setiap kali minta “Blietzkrieg Bop” diputarkan. Dalam tiga hari — dari Jumat (18 Oktober 2019) hingga esai ini kutuliskan, mungkin sudah ada 10 kali aku memutarkan “Blietzkrieg Bop” sesuai pintanya dan menyaksikannya kegirangan.

Di antara faktor keberhasilan sosialisasi dan pengaruh nada-nada lagu bagi neurotransmitter balita, aku merasa gembira menyaksikan keponakanku menyukai “Blietzkrieg Bop”. Aku ingin ia tak berhenti pada menyukai lagu itu saja. Aku harap dirinya bisa mengeksplor lagu-lagu serupa lainnya atau melahap wacana-wacana lebih lanjut dari pesan-pesan yang tersemat dalam lagu “Blietzkrieg Bop”. Untuk itulah, aku menuliskan catatan kepamanan ini; setidaknya jikalau suatu saat nanti ia butuh artefak rekam jejak untuk belajar — walau mungkin, metode pembelajaranku ini cenderung kurangajar dibanding bijaksana.

Catatan ini pun setidaknya menjadi semacam tanggungjawab intelektual jikalau nanti keponakanku berhasil mengeksplor lebih lanjut dari “Blietzkrieg Bop” yang disukainya ketika balita sekarang. Sebab sebagai orangtua silangnya, aku membayangkan ia takkan melupakan lagu ini sampai berusia 6 tahun nanti dan di usia segitu, ia sudah bisa membaca — dan kemungkinan besar dengan bantuan teknologi digital, ia mampu mengeksplor lebih jauh konten-konten asupannya. Maka dari itu, “Blietzkrieg Bop” yang berlirik sederhana, bernada crunchy, dan berirama energik serta bermaksudkan kritik bisa menjadi langgeng menemani masa kanak-kanaknya dan berpotensi juga untuk dipahami lebih lanjut oleh keponakanku mengenai apa maksud di baliknya.

Tentunya, nota tanggungjawab ini bukanlah ujud reaksioner jikalau nanti pembaca ada yang menuduh bahwa aku mengalami “kewajaran” sebagai orang yang sudah berusia seperempat abad lebih sedikit: kebelet punya anak. Maaf, keinginan seperti itu bukanlah sebentuk “kewajaran” dalam kategori hidupku. Apa yang kumaksudkan bagi keponakanku hanyalah imbas emosional sekaligus rasional akibat kami menjalin interaksi sosial secara lumayan intim selama hampir empat tahun belakangan ini. Sebagai orang yang sudah hidup lebih dulu di dunia, maka kupikir begitu baik meninggalkan catatan bagi orang lebih muda di dekatku perihal makna/arti file yang sama-sama kami suka. Artinya, ada faktor ganda yang membuatku perlu memberikan penjelasan mengenai “Blietzkrieg Bop” kepadanya yaitu karena: 1.) Ada kedekatan secara sosial-emosional dan 2.) Mempunyai kesamaan minat. Jikalau kamu memiliki ketertarikan akan wacana sosio-humaniora dan menyukai konten-konten berbau punk/rock n’ roll macam aku, tentunya kamu akan memiliki gairah tersendiri saat orang lebih muda yang interaktif bersamamu tiba-tiba menyukai senandung liar semacam “Bietzkrieg Bop”-nya Ramones. Jadi, jika kita memiliki pendekatan pengetahuan kepada balita (anak yang lebih muda), itu bukan melulu karena sindrom “beranak-pinak” yang seringkali digemborkan tanpa landasan masuk akal di jagat milenial. Pula, orang yang mengait-kaitkan pengasuhan pengetahuan untuk balita dengan sindrom sejenis itu, bagiku, kemungkinan orang itu mengidap kenaifan atau sedang cari muka. Olehnya, dengan dorongan “dua roda” (emosional dan rasional), aku pikir pengasuhan pengetahuan “Blietzkrieg Bop” kepada keponakanku menjadi lumayan penting untuk dilakukan.


“Blietzkrieg Bop” adalah single perdana dari album pertama Ramones yang dikoarkan pada 1976. Aku mendengarkannya pertama kali saat masih berumur remaja. Tapi Ramones bukanlah kelompok rock n’ roll punk yang pertama kali aku temui. Seperti lazimnya, referensi sering saling bertaut; aku justru mengetahui Green Day dan Rancid lebih dahulu. Pertama, Green Day lebih mudah tersebar lewat radio, majalah, dan televisi. Kedua, Rancid lebih sering tercantum namanya pada etalase penjual pakaian yang digemari kaum muda penyuka cadas-cadasan kala itu. Seiring pencarian online yang disokong era merebaknya warnet, dari situlah aku mencoba mendengar Ramones. Aneh dan kurang jelas adalah kesan pertamaku melahap lagu-lagu Ramones — termasuk “Blietzkrieg Bop”. Perasaan itu aku alami sebab aku lebih dulu mendengar suara-suara kelompok punk terbitan 1990-an yang kualitas rekamannya lebih jernih. Namun secara tema-tema lagunya, aku merasa Ramones layak disimpan dalam lemari PC (personal computer)-ku. Hingga pada akhirnya, keempat belas album Ramones berhasil dikantongi PC-ku; berkat hasil mengangkut dari suatu warnet.

Malahan pun, “Blietzkrieg Bop” bukanlah lagu Ramones yang paling aku doyani. “Havana Affair”, “I Believe In Miracles”, dan “Outsider” adalah tiga track Ramones paling kusukai. Terutama “Outsider”, lagu ini mewakili suaraku sebagai individu yang merasa bukan bagian dari tatanan mayor; yang menurutku, masyarakat di bangsa tempatku dilahirkan ini cenderung dilingkupi kesoktahuan serta gemar melancarkan basa-basi penyokong wibawa palsu. Sudah sejak bocah, aku merasa banyak norma sialan dijunjung setinggi-tingginya oleh banyak orang dewasa sekitarku. Dan aku merasa banyak hal ditutup-tutupi oleh mereka meskipun tren, media, dan mereka sendiri tanpa sadar telah mengungkap apa yang dianggap “aib”.

Tapi entah kenapa pastinya, orang-orang Indonesia cenderung gila hormat dibanding kebenaran pengetahuan. Mungkin memanglah sindrom masyarakat negeri paskakolonial, menurutku. Hasilnya? Kita sama-sama tahu bahwa dua kali Pilpres yang hanya menyajikan perayaan tempur Jokowi versus Prabowo sudah memberi efek nyata bahwa masyarakat kita yang cenderung berpikir “asal cocok saja” menjadi para partisipan pabrik toxic di jagat maya hingga di aras nyata pun urusan antara yang hak individu dan publik tak bisa lagi dimengerti bagaimana fungsi baiknya — sehingga, maaf-maaf saja, lontaran nyinyir anggota masyarakat atas RKUHP 2019 masih cenderung terlihat latah ketimbang sadar wacana saat momen September 2019 ini. Ya, amini saja: orang-orang paskakolonial kita memang latah!

Dengan kesadaranku yang begini; adalah “sekali mendayung melampaui dua pulau” apabila kegemaran keponakanku akan “Blietzkrieg Bop” aku catatkan pada zine ini. Aku tak mungkin memberinya dongeng hidup masyarakat paskakolonial atau racauan tentang goblok nan memuakkannya para penganut chauvinisme identitas berbasis apapun kepada seorang balita. Aku tak mungkin mengajarinya analisis untuk membedakan antara mana orang-orang tua megaloman nan krisis eksistensi atau mana orang-orang tua yang memahami generasi sesudahnya secara jujur dan sepenuh kasih cinta; itu tentu saja tak mungkin aku berikan langsung kepada bocah usil yang belum genap berusia empat tahun.

Tapi setidaknya, “Blietzkrieg Bop” bisa menjadi track penghantar referensi-referensi lainnya bagi keponakanku untuk memahami apa yang ingin aku sampaikan padanya; karena menurut perkiraanku, jika lagu ini konsisten diasupnya, maka sampai usia 6 tahun, ia akan masih mengasupnya disertai daya baca aksara yang lebih mumpuni dari dirinya sekarang.

Lagu ini bisa memungkinkan seseorang bocah yang penasaran untuk mengasup multireferensi. “Blietzkrieg Bop” bisa berkaitan dengan tema peperangan, politik, kebudayaan, gaya hidup, atau sekadar hura-hura. Sebab “blietzkrieg” pada mulanya adalah sebutan media pers Barat untuk taktik perang pasukan militer Jerman-Nazi pada Perang Dunia II.

Taktik blietzkrieg ini — yang konsepnya dicetuskan oleh Heinz Guderian — diterapkan Jerman-Nazi untuk menaklukan sebagian wilayah Eropa kala itu. Blietzkrieg merupakan taktik serangan kilat yang dipandu oleh pesawat-pesawat tempur mumpuni dan tank-tank bermanuver canggih serta diiringi prajurit infanteri. Taktik ini akan mengarahkan kendaraan perang Jerman-Nazi menyerang terus-menerus ke lini pertahanan musuh tanpa henti hingga musuhnya tak diberikan kesempatan bersiasat dan menjadi kalah. Cara gempur ini membuat Jerman-Nazi mampu menduduki Perancis, Polandia, Belanda, dan Belgia.

Nahasnya, blietzkrieg menjadi tak berlaku di Rusia (Uni Soviet) kala Jerman-Nazi mencanangkan Operasi Barbarossa (1941). Kegagalannya disebabkan oleh perkiraan yang salah atas kondisi geografis Soviet; jarak tempuh yang jauh, jaringan transportasi yang rumit dan tak segampang perkiraan Jerman-Soviet, dan kemudian musim dingin menerjang sehingga menyebabkan kavaleri (alat tempur bermotor dan tank-tank) mereka terjebak macet pada daratan lumpur Rusia. Pula, Jerman-Nazi tidak mempersiapkan logistik dengan baik seperti menyediakan pakaian militer musim dingin untuk pasukan-pasukannya sehingga banyak yang mati akibat keganasan alam dinginnya Rusia; sebab Adolf Hitler meyakini taktik kilat ala blietzkrieg bisa memperoleh kemenangan besar dengan cepat dan akan selesai saat masih musim panas Eropa — belum lagi, di tengah operasi, ia malah menyuruh dua grup tempur yang hampir mencapai Moskow untuk membalik arah ke Kiev (Ukraina). Dengan kecerobohan begitu; Jerman-Nazi yang kekurangan logistik, kalah oleh alam, dan tak fokus pada satu titik tujuan, malah menjadi dipukul balik oleh Blok Sekutu sampai Tentara Merah Soviet berhasil menguasai Berlin dan Sekutu memecah kota itu menjadi dua — di sinilah berakhirnya karier tempur Jerman-Nazi yang ditakuti dengan mazhab blietzkrieg-nya itu.

Begitulah sekilas penjelasan mengenai blietzkrieg. Lalu dengan “Blietzkrieg Bop”, apakah keponakanku kelak akan mengetahui perihal peperangan/militer saja? Kurasa tidak.

Aku pikir, jika aku ada kesempatan berinteraksi dengan dirinya minimal selama satu-dua pekan dalam jarak temu antara satu-dua bulan sekali berjumpa; aku masih bisa punya kesempatan mengenalkannya pada referensi-referensi selain “Blietzkrieg Bop”. Ketika ia mengenal lagu ini pun, aku sedang tinggal di rumah selama hampir 2 bulan dengan frekuensi berada di Cilacap minimal sebulan sekali dari Yogyakarta — saat ini, aku memang tengah aktif di antara dua kota. Dan pula, jarak tempuh Yogyakarta-Cilacap hanyalah berkisar maksimal 5 jam apabila aku menempuhnya dengan super santuy menggunakan Sindi (sepeda motor berwarna merah-hitam kepunyaanku). Artinya, aku masih sering-sering punya kesempatan menemui keponakanku di Cilacap untuk mengasuh urusan berpengetahuannya. Apalagi bila ia menganggap Cilacap sebagai tempat bermainnya yang bikin kerasan, ia mungkin akan lebih lama lagi untuk ditarik ke Bangli, Pulau Bali; tempat dimana sepasang orangtua biologisnya tinggal bersama adik perempuannya yang masih bayi. Dan dari situlah, kesempatanku sebagai orangtua silangnya bisa semakin intens membersamai proses berpengetahuannya (dengan berbagai taktik tengil, tentunya).

Pertama-tama yang aku lakukan ialah tetap memakai referensi musik untuk mempertahankan perhatiannya kepadaku; yang sesekali akan aku selingi dengan berbalas keusilan antara aku dengannya atau bermain-main benda apa saja yang bisa dimainkan bersama khayalan. Jikalau ia dirasa sudah terpatri otaknya oleh “Blietzkrieg Bop” (tak mungkin melupakan lagu ini meskipun nantinya bisa jadi jarang didengarkannya), aku akan mencoba men-trig-nya dengan lagu-lagu lain. Kebetulan ketika aku memutar beberapa file musik lainnya, ia selalu tertarik untuk menghampiriku dan sesekali menggoyang tubuhnya atau turut berusaha melantunkan suara vokal dari lagu meskipun ia tak mengerti. Bisa jadi, ia (balita) selalu gampang terpantik oleh musik (apapun itu) atau memang dirinya selalu tertarik (mengusili) segala aktivitasku. Tapi di sinilah, kesempatanku begitu luas untuk menelusupkan pengetahuan kecil-kecilan kepadanya berbasis kesenangan belaka.

Bayangkan saja, bila frekuensi bolak-balikku antara Yogyakarta-Cilacap masih sama seperti pembacaan taktikalku di atas dan ia berada di Cilacap sekiranya sampai usia 6 tahun/bersekolah TK; kemungkinan aku bisa banyak menyuntikkan akselerasi pengetahuan tentang konten-konten yang aku asup kala remaja atau setidaknya ia bisa memperoleh seperempat kerangka berpikirku saat remaja yang setengah tidak percaya pada otoritas.

Dalam strategi pembacaanku, jika ia masih mengasup lirik-lirik dan musik-musik sejenis “Blietzkrieg Bop” hingga ia berumur 6 tahun — yang akan bisa diiringi dengan kefasihannya membaca teks, mengenali kosakata Inggris, maupun kecanggihan digital; ia kemungkinan bisa dengan mudah mengenali wacana-wacana yang tersemat di dalamnya — tentunya dengan teman berpengetahuan yang fun; yang biasa aku lakukan padanya saat berinteraksi.

Konten sejenis “Blietzkrieg Bop”-nya Ramones bisa saja menawarkan ragam macam wacana. Ia suatu saat nanti bisa pula mengenali kebodohan peperangan, perlombaan militeristik, atau ambisi bodoh dari kekuasaan manusia lainnya berkat konten semacam ini. Atau pula, ia malah bisa mengenal punk sebelum usianya menyentuh remaja dan tentunya bisa jadi menyerempet ke bahasan-bahasan soal antifasisme, seni kritik, budaya konsumsi, dan mengkonstruk nalarnya untuk mempertanyakan ketidakpastian banyak hal yang telah dimapankan.

Sayangnya, dugaanku seperti pembacaan sebelumnya — bahwa aku akan intens bolak-balik menemaninya hingga berusia 6 tahun — bisa saja berubah sewaktu-waktu. Dia bisa saja menjadi anak Bali pada bulan depan atau setelah usianya mencapai empat tahun pada 22 November ini (sehari sebelum tanggal kelahiranku). Untungnya, aku dibekali kekuatan untuk menulis secarik artefak kata-kata yang mungkin tak berarti penting bagi manusia awam maupun sok tahu di luar pergaulan akrabku. Namun jika suatu saat nanti ia alpa akan “Blietzkrieg Bop” yang pernah disukainya sehingga menjadi tak ada jalan untuk mengenali konten-konten lain yang serupa, setidaknya aku punya bekal ini sebagai nutrisi pembangun memori dan jalan pikirnya yang akan aku bagikan kepadanya di pertemuan-pertemuan berikutnya; supaya ia bisa membangun pertanyaan-pertanyaan untuk dunia ini yang mungkin akan makin semrawut tafsirannya saat ia beranjak dewasa nanti.

Aku hanya ingin berbagi apa yang aku suka dan kuanggap baik sebagai nutrisi kewarasannya kelak. Dengan “Blietzkrieg Bop”, setidaknya aku pernah meneteskan serpihan pengetahuanku padanya yang mungkin pula berefek pada karakternya nanti. Jujur, aku kurang tahu bagaimana file musik sejenis “Blietzkrieg Bop” bisa mempengaruhi alam bawah sadarnya sedari balita hingga nanti — sekali lagi karena aku bukanlah ahli neurosains ataupun musikolog.

Satu yang ingin kulihat darinya nanti; ia tetap usil terhadap apa yang dianggap “benar” dalam versi orang-orang “dewasa” sekitarnya; atau maksudku, ia tidak asal mempercayai anjuran-anjuran orang-orang yang dianggap sudah dewasa sebab hidup seringkali tak sejujur yang diajarkan oleh orang-orang yang dianggap dewasa. Jika sedari kini ia selalu ngeyel untuk tidak berlama-lama bermain air, berarti ia sudah punya modal mental untuk menolak dogma-dogma.

Selayaknya blietzkrieg, kuharap keponakanku bisa menghantam kemapanan dogma-dogma bodoh yang angkuh; tentunya dengan pertimbangan logistik berpengetahuan yang matang demi membungkam para penganjur kebodohan. Dengan blietzkrieg pula, ia semestinya belajar bahwa teknologi canggih — seperti smartphone yang dicanduinya — bisa menjadi semacam penghalang untuk membaca alam-pergaulan secara cerdas nan tajam (ambillah hikmah dari kebodohan Jerman-Nazi di Rusia yang terlalu mempercayai teknologi tempurnya). Lalu, dia pun bisa menerapkan blietzkrieg untuk menyerang cepat-tepat lawan bicaranya — tentunya dengan tidak asal mudah mengumbar pengetahuan untuk memperoleh pengukuhan hormat semata. Tentunya dengan memahami blietzkrieg, ia tidak akan mudah terbawa chauvinisme bodoh ala Nazi namun bisa sesekali memakai taktik perang ala Jerman ini untuk membuat para sok tahu mundur ke balik tameng kemaluannya. Ya, intinya; aku ingin ia kelak memahami banyak hal sebaik-baiknya — sedalam-dalamnya nan seluas-luasnya.

Melalui kalam pemungkas lembaran ini, aku ungkapkan bahwa aku gembira mengetahui keponakanku menggandrungi “Blietzkrieg Bop” — setidaknya ada titik cerah untuk membangun nalar kontramapannya kelak. Apabila nanti ia alpa akan kegemaran baiknya ini, maka kalam inilah yang bisa menjadi landasan picu-terjang kepengetahuannya pula. Dan jikalau ia meneruskan pelampauannya atas konten “Blietzkrieg Bop” demi menerjang para latah-angkuh-bodoh macam para chauvinis Nazi, tentunya aku akan beriring dengannya sambil sekali lagi melantun selayaknya Joey Ramone: shoot ’em in the back now!

Kampung Donan, 21–24 Oktober 2019

_

[[Taufik Nurhidayat. Paman sepenuh waktu, literais paruh waktu, & egois tanpa waktu.]]

Taufik Nurhidayat

Written by

Sehidup-hidupnya bocah pembangkang! Ruang bercinta: [morafato.wordpress.com] [kucingserigala.noblogs.org]

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade