Kepahitan Indonesia — Bukan Negeri Impian (Fiksi)

Dipagi buta yang sejuk dengan embun masih bersenandung, jalanan sudah padat dengan penduduk yang hilir mudik bergegas menuju tempat mereka bekerja. Tidak ada suara mesin kendaraan yang bising, tidak ada kilauan warna — warni lampu lalu lintas yang menghiasi sudut kota, yang ada hanyalah wajah semangat yang selalu tersenyum diantaranya.

Kala itu para penduduk sudah sadar hukum dan mengerti pentingnya kelestarian lingkungan, sehingga sudah jarang sekali tidak kriminal terjadi, mobil dan motor pun sudah asing dijalanan. Mereka lebih memilih untuk berjalan kaki walalupun sejauh 10 Km, atau mereka menggunakan transportasi umum seperti SST (Super Speed Train) yaitu kereta bawah tanah yang kecepatannya mencapai 600 Km/Jam.

Ini bukan DKI Jakarta, Jakarta sudah tenggelam pada tahun 2050 silam. kala itu, tepat pertengahan bulan oktober 2050, Jakarta mengalami peristiwa yang mematikan, dimana politik super panas dikarenakan terjadi fitnah besar yang ditujukan kepada presiden (John Paul Walker) dan gubernur DKI Jakarta (Tubagus Hilma Himalaya). Fitnah tersebut meyebabkan terjadinya perpecahan di pusat pemerintahan. Perang saudarapun tidak terhindarkan.

Persitiwa Oktober 2050 tersebut 10 kali lipat lebih mengerikan dari persitiwa Mei 1998. Karena persitiwa tersebut perekonomian Indonesia mati total disemua daerah, namun ada satu daerah yang tidak terganggu oleh krisis tersebut, yaitu sebuah daerah otonomi baru yang terbentuk pada tahun 2045. Diusianya yang genap 5 tahun kala itu, daerah tersebut sudah sudah menjadi daerah yang maju dan memiliki peradaban yang makmur. Daerah tersebut bernama Negeri Albahr atau banyak yang menyebutnya Negeri lautan penuh ilmu, karena Albahr sendiri berarti lautan ilmu.

Setelah persitiwa tahun 2050 tersebut, Indonesia mengalami kenyataan yang sangat pahit. Karena berselang 1 bulan dari kejadian perang saudara tersebut, bencana besar terjadi di Jakarta, yaitu bencana gempa bumi 10,9 SR yang menyebabkan Tsunami besar dan menenggelamkan Jakarta, Depok, Bekasi dan Kota Tanggerang. Bencana tersebut menelan korban berkali — kali lipat dari bencana Tsunami Aceh 2004, yaitu sebesar 843.402 Korban Jiwa.

Ditengah kemelut yang terjadi kala itu, telah banyak doktrin — doktrin asing yang masuk kepada daerah — daerah untuk memisahkan diri dari Indonesia. Dengan dalih membantu perekonomian Indonesia, Negara — Negara maju tersebut berhasrat untuk menguasai setiap jengkal dari Indonesia. Negara yang berperan dalam runtuhnya pemerintahan indonesia di tahun 2050 tersebut adalah Ameraika Serikat, Kerajaan Inggris, Rusia dan Jerman.

Menyadari ancaman yang nyata tersebut, banyak pemuda yang menghawatirkan akan terjadinya penjajahan yang ke 3 kali kepada indonesia. Akhirnya disepakatilah akan diadakan konfrensi NKRI di Negeri Albahr. Albahr di pilih karena Negeri ini adalah satu — satunya daerah yang memiliki perekonomian dan pembangunan yang paling maju disaat Indonesia sedang terpuruk, bahkan jika kala itu Negeri Albahr memutuskan untuk menjadi Negera diluar indonesia, maka kekayaan Negeri Albahr akan mengalahkan Indonesia itu sendiri. Pertambangan, teknologi, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kesenian yang menjadi penopang utama kemajuan Negeri Albahr tersebut.

Dalam konfrensi NKRI, dengan usulan dari para penggagas, akhirnya diputuskanlah Negeri Albahr menjadi pusat peradaban negera dan sesuai dengan kesepakatanp para petinggi Indonesia kala itu, akhirnya Albahr menjadi ibu kota Indonesia yang baru.