#BibibBaca : rentang kisah

my thoughts about rentang kisah by Gita Savitri Devi

how i know her

Aku tahu Gita pertama kali itu dari teman SMA di kelas. Of course, awalnya aku nggak tahu dia siapa sampai akhirnya aku pun tanya dan Gita itu ternyata dikenal dari kontennya yang dia unggah di YouTube.

Aku coba tonton beberapa kontennya di sana maupun di media sosial Gita yang lain dan aku cukup suka dengan persona dia, especially when she spoke her hot takes about some ‘controversial and taboo’ things on the internet. You go, sis!

how i found the book

Aku tahu juga kalau Gita itu nulis buku (aku pun tahu bukunya sekitar tahun 2018, masih dari temanku yang sama juga hehe). Kalau boleh jujur, aku sendiri memang kurang suka buat baca buku tentang hidup seseorang, apalagi kalau orang tersebut cukup dikenal sama publik. Takut isinya bias aja, gitu….
Dan aku pun bukan fans berat dari Gita. I like her content, but not that much that I could claim myself as her fan. Jadi, ya nggak terlalu minat buat baca juga hehe

Tapi, setelah tadi pergi ke perpustakaan di kampus, nemu nih aku si buku ini. Berhubung buku yang mau aku pinjam itu nggak ada, jadi aku coba pinjam buku Gita ini aja. Toh, aku pun suka sama konten dia di YouTube, I probably like this book as well (or maybe even better? I prefer reading more than watching or listening).

about the book

Seperti judulnya, kalau aku buat ringkasannya, buku ini isinya tentang Gita yang cerita kehidupan dia semasa hidupnya. Mulai dari hubungan Gita dengan ibunya, Gita di SMA, mulai masuk perkuliahan, sampai kehidupan dia di tahun di mana buku ini terbit.

Ada beberapa bagian cerita yang ngalir gitu aja alias nggak terlalu berkesan, contohnya di bagian dia cerita masa-masa SMA dia yang menurutku cukup “wah” buatku. Ikutan les non-akademik, bimbel, sampai akhirnya secara tersirat Gita cerita kalau dia punya privilege untuk bisa kuliah ke Jerman. I can’t relate to this part of her journey, but it’s interesting to know that having those privileges doesn’t mean she could just sit back and relax. She still needs to works on it on her own.

Masuk ke bagian Gita mulai bahas Islam dan bagaimana hubungan dia sama Allah Swt., ini jadi bagian dari buku ini yang jadi highlight favoritku. Gita cerita kalau dia salah menanggap kalau Islam yang selama ini Gita anut itu cuma berputar di salat dan puasa aja. Islam is more than that! Gita pun cerita juga kalau semakin dia mempelajari Islam, Gita makin sadar kalau dia fakir ilmu. Damn, she’s right.

Islam bukan sekadar agama, Islam adalah pedoman hidup.

I can relate to most of this part ofthe book. Tumbuh besar di lingkungan yang cukup religius pun nggak semata- mata jadi hal yang mudah, terutama kalau ilmu agamanya masih kurang banget. Meskipun hubungan antara manusia dan Tuhan itu unik nan beda-beda tiap orangnya, tapi aku nemu beberapa kesamaan pada hal tersebut di antara hidup Gita sama hidupku.

Di bagian buku selanjutnya, Gita pun cerita tentang kehidupan dia di Jakarta setelah lulus dan di bagian akhirnya pun terdapat tulisan Gita yang ada di blog pribadinya dan sekarang dicetak di buku ini.

my thoughts

Pertama, aku suka kalau di sini Gita sadar akan privilege yang dia punya. Dia bisa ikut les dan bimbel sana-sini bahkan sampai bisa kuliah di Jerman pun nggak lepas dari bantuan keluarganya. Biasanya, buku-buku yang ditulis oleh “orang terkenal” itu sering diisi dengan kata-kata tentang seberapa keras penulis tersebut berusaha, tapi sering lupa kalau mereka punya privilege yang sangat berpengaruh.

Di buku ini, Gita cerita secara tersirat kalau dia memang punya privilege tersebut. Tapi nggak semata-mata Gita bisa duduk manis gitu aja, Gita masih butuh usaha ekstra buat menggapai yang dia mau. I just like how she wrote this thing gracefully. Kasarnya, tulisannya tetap ramah untuk dibaca sama pembaca yang nggak punya privilege sebesar itu (seperti aku!) dan nggak bikin emosi kayak habis baca tulisan punya orang lain yang sering nggak sadar atau nggak mau ngaku kalau mereka punya privilege tersebut.

S̶e̶m̶o̶g̶a̶ ̶k̶a̶l̶i̶a̶n̶ ̶p̶a̶h̶a̶m̶ ̶m̶a̶k̶s̶u̶d̶k̶u̶,̶ ̶y̶a̶.̶ ̶A̶k̶u̶ ̶p̶u̶n̶ ̶j̶u̶j̶u̶r̶ ̶b̶i̶n̶g̶u̶n̶g̶ ̶n̶u̶l̶i̶s̶n̶y̶a̶ ̶#̶p̶l̶a̶k̶

Kedua (dan terakhir), ini bukan buku motivasi. Menurutku, ini ya memang buku tentang kisah hidup Gita aja. She’s being vulnerable in this book. Di buku ini nggak ada kalimat semacam “Kamu bisa, kok! Percaya sama gue!” atau kalimat motivasi sejenisnya, nope, nggak ada. Tapi, memang ada beberapa pesan dari pengalaman hidup Gita yang bisa aku ambil sebagai pengingat tentang hidup di dunia ini. I hate explicit motivational quotes and shit, so I like how her writing in this book could give me that moral support implicitly.

conclusion

Meskipun buku ini menurutku lebih ditujukan buat fans-nya Gita yang mungkin memang udah ngikutin dia dari lama, buku ini pun masih enjoyable buat dibaca sama penikmat kasual dari konten Gita, macam diriku yang cuma tahu “kulitnya” doang. Ada beberapa highlight yang bisa diambil dan jadi semacam pengingat kalau hidup itu memang nggak selalu mulus jalannya :)

I look forward to read her second book if I could have that chance.

--

--

--

late teenager trying to figure out his life

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Habib

Habib

late teenager trying to figure out his life

More from Medium

Daily links of Fernand0 — Enlaces diarios de Fernand0 — Issue #357

SPOOKYSHIBA: OVERVIEW

STRAWBERRY FIELDS FOREVER Aninda Mukherjee

Why sharing happy news is good?