bicara media sosial

Photo by Jeremy Bezanger on Unsplash

habib dan media sosial

Saya mulai daftar media sosial pas saya kelas 3 SD. Saya baru disunat dan uang beserta amplop dari kerabat itu dipakai ibu saya buat beli laptop dan modem internet. Selain biar kakak saya nggak sering main ke warnet, ini supaya saya juga nggak gaptek banget tentang komputer.

Singkat cerita, kala itu lagi heboh-hebohnya setiap orang pergi ke warnet untuk daftar akun Facebook. Akhirnya saya dibuatkan akun Facebook oleh sepupu saya.

Saya main Facebook dari kelas 3 SD sampai kelas 6 SD, di mana internet (terutama Facebook) makin mudah diakses di handphone (tentu dengan fitur alakadarnya dibandingkan dengan versi desktop). Saya bertemu banyak teman daring yang satu hobi dan minat. Saat itu minat saya adalah boyband dan girlband dari Korea.

Facebook mulai meredup, saya pun daftar akun baru di Twitter dan Instagram. Setiap akun yang ada pun punya keunikannya sendiri.
Internet makin lumrah di kalangan remaja, hingga 2021 ini, menurut saya, Twitter dan Instagram menjadi beberapa media sosial yang wajib dimiliki buat orang-orang yang ada di usia sebaya saya.
Tiktok pun menjadi media sosial paling populer yang ada sekarang. Tapi, saya cuma daftar aja dan nggak aktif di Tiktok, saya nggak suka algoritma dan keseluruhan fiturnya.

Untuk sekarang, saya hanya aktif di Twitter dan Instagram.

media sosial dan candu

Sudah banyak yang berpendapat dan bersuara bahwa kecanduan akan media sosial adalah nyata adanya dan dapat berpengaruh pada kesehatan mental. Tentunya hal yang bikin kecanduan cenderung berpengaruh negatif, ya.

Social media seriously harms your mental health

Sebenarnya, saya nggak termasuk dalam orang yang bisa disebut kecanduan media sosial, sih. Tapi, saya punya kebiasaan jelek yang saya suka lakukan secara nggak sadar, yaitu saya suka membandingkan hidup saya dengan hidup orang lain yang saya lihat di media sosial.

Saya orang yang cukup tertutup dan cenderung suka ‘main aman’ dalam hidupnya. Saya sering iri hati secara nggak langsung ketika saya melihat orang-orang di layar persegi saya yang saya rasa hidupnya penuh warna, ketika hidup saya warnanya ya itu-itu aja.

Tentunya semua orang punya hak untuk mengunggah hal-hal yang bikin mereka senang. Mereka mau pamer kekayaan, pamer pasangan, pencapaian, pamer sahabat, dan hal lainnya pun tentu bukan hal yang melanggar aturan.

Siapa gue ya, buat ngatur apa yang orang mau unggah di akunnya sendiri. Kalau nggak suka, ya nggak usah dilihat, dong!

Lucunya, ketika saya lagi nulis ini, saya buka akun Twitter dan ada tweet dari Kak Naajmi yang kurang lebih mengutarakan hal yang sama. What a coincidence, eh?

Lama kelamaan, hal tersebut bikin saya nggak nyaman untuk terus-terusan main media sosial. Iri hati itu dosa dan bikin sakit hati. Akhirnya, saya memutuskan untuk rehat sejenak dari media sosial.

rehat

Ini bukan pertama kalinya saya mengambil rehat dalam menggunakan media sosial (terutama Instagram). Sejak 2019, saya sudah mengambil beberapa kali rehat dengan jangka waktu yang berbeda-beda. Mulai dari satu minggu hingga rekor terlama saya adalah empat bulan.

Saya sadar kalau saya nggak bisa atur orang untuk mengunggah apa yang mau saya lihat saja. Ya seperti ungkapan saya di atas, lu siapanya mereka yang berhak ngatur-ngatur? Jadi, saya memutuskan untuk rehat aja daripada saya berantem dan malah bikin hati makin dongkol.

Ternyata, Instagram punya fitur di mana saya bisa ‘hilang sejenak’ dari peradaban Instagram sampai jangka waktu yang dapat saya tentukan sendiri. Akun saya akan disembunyikan oleh mereka dan dapat dikembalikan lagi seperti semula cukup dengan login kembali. Cukup mudah, ya? Saya pun baru tahu fitur ini dari rekan saya, Shadrina, yang lebih dulu menggunakan fitur ini sebelum saya di tahun 2019.

Rehat terakhir saya itu dimulai bulan Januari 2020 sampai pertengahan bulan Maret 2020. Semenjak dari situ, saya nggak ambil rehat lagi. Alasannya, karena saya pikir dengan adanya pandemi di awal tahun itu saya bakal kesepian di rumah aja dan berujung saya nggak pernah ambil rehat lagi sampai bulan Desember 2021.

Yap, saya sadar semakin ke sini, saya semakin sering bandingin hidup saya sama orang lain. Saya tahu, sebenarnya tiap orang yang saya lihat itu juga punya masalah pribadi yang nggak mereka unggah di akun mereka. Tapi, pemikiran jelek saya bilang

Kok senengnya kalian itu bisa lebih banyak sih dari senengnya saya?

Daripada saya makin kacau, saya akhirnya ingat ya kalau ada fitur deactivate account dari Instagram yang bisa saya pakai lagi.

bagian akhir

Saya nggak tahu kapan saya bakal kembali lagi ke Instagram. Bisa jadi besok lusa atau malah saya nggak akan balik lagi, saya pun jujur masih belum tahu. Saya sekarang lagi mikir keras lagi gimana caranya saya bisa kembali dengan rasa nyaman. Semoga saya bisa nemu caranya, ya. Saya juga masih mau interaksi dengan yang lain tanpa harus ada rasa nggak enak di hati.

Dari sini pun saya belajar kalau nggak semuanya beban yang kita punya itu salahnya orang lain. Memang harusnya kita yang belajar untuk kontrol diri sendiri dan tahu apa-apa aja yang harus dilakukan supaya hidup kita nyaman meskipun masalah mah ya tetap bakal ada, sih.

Yhaaa namanya juga hidup, kak. Nggak ada masalah pun kita suka kan cari-cari masalah sendiri~

Sekian dulu cuap-cuap nirfaedah dari saya. Sampai jumpa di artikel omong kosong selanjutnya 😗

--

--

--

late teenager trying to figure out his life

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Habib

Habib

late teenager trying to figure out his life

More from Medium

Marketing decoded in simple terms.

The Climate Optimist — 11 Oct ’21 — Aviation

The Alpha Move: What NFT projects should I look out for in 2022?

Keep On Going — A Story of Motivation, Ambition and Perseverance

Andy and the Eisen family performing at the album launch party