jomblo : nasib atau pilihan?

Sumber : ngonoo.com

Dimulai dari SMA, gue nggak tahu kenapa tiba-tiba kebanyakan teman di kelas gue mayoritas sudah punya cemewew, bebeb, ayang, dan sejenisnya. Sebagai seorang bendahara, tentunya dong gue harus terbuka sama semua teman di kelas (yang otomatis gue tahu berita terbaru dari tiap orang HAHAHA). Mereka juga kalau diajak menggosip ya hayu aja (mungkin takut kalau gue nagih uang kas dobel kali, ya). Gue dari kelas 10 sudah dicap jadi biang gosip. Heran kan? Gue aja nggak ngerti itu istilah siapa yang bikin pertama kali di kelas :’)

Ajaibnya, ini mayoritas pasangannya itu, bebebnya ada di kelas yang sama! Tahun 2019–2020 awal aja kayaknya kurang lebih ada 5 pasangan di kelas (total 10 orang dari jumlah 34 murid di kelas) dan belum termasuk yang bebebnya ada di luar kelas, luar sekolah, bahkan luar kota. Yha, bayangkan saja sendiri. Gue pun agak heran, ada apa gerangan dengan udara di kelas XII MIPA 4 angkatan 2020 di SMA Negeri terluas di Kota Bandung ini. Bucin kabeh!

Ih apaan! Kita mah nggak pacaran, kok!

Kau kira dua orang menjalin hubungan romantis tapi belum menikah itu namanya apa?!?!!?! Teman bukan, pacar bukan, lalu siapakah gerangan pasanganmu itu wahai anak muda??!?!

Gue sih betah melajang, ya. Meskipun memang asem kecut lihat para pasangan ini uwu-uwu di kelas, untungnya gue ditemani juga sama sohib gue yang sama-sama kisah romantisnya agak ngenes. Dua lajang ngenes, sama-sama jadi bendahara, lagi. Asik, kan? Kapan-kapan deh gue cerita tentang solmet gue yang satu ini.

Heh, bayarin tuh uang kasnya pacarmu. Udah nunggak tiga minggu!

Intinya, kisah gue di SMA cuma sekadar jadi bendahara dua periode dan jadi kambing congek aja dan nggak ada ceritanya punya kisah kasih di sekolah macam Dilan dan Milea. Ngimpi.

Di satu sisi, gue nggak akan bohong, sih (dosa, kak), gue juga mau ya ada kisah uwu-uwu macem di sinetron cinta cenat cenut. Hidup 19 tahun, romansa gue tetep anyep begini macem sayur kurang garem. Mana sekarang solmet bendahara gue juga punya bebeb baru setelah hijrah ke Yogyakarta. Kalau gitu, gue juga mau ikut hijrah juga dong bestie!

Sebenarnya, gue juga sering ngobrol sama diri sendiri maupun teman deket gue, kalau gue ya sebenarnya nggak butuh-butuh amat punya cemewew dekat-dekat ini. Ya memang, sih. Namanya manusia ada aja rasa iri dengki kalau lihat rumput tetangga lebih hijau. Sering juga kan pergi ke mall niatnya jalan-jalan doang tapi akhirnya kabita kalau lihat orang beli boba padahal mah ada tupperware berisi air di dalam tas sendiri? Eh, ini perumpamaan nyambung nggak, sih?

Yang patut gue syukuri dengan sangat adalah gue punya teman yang suportif. Meskipun rata-rata sudah punya bebeb masing-masing, mereka nggak pernah ada istilah ‘membuang’ gue. Seperti jomblo pada umumnya, malah gue yang sering jadi tempat teman-teman gue melacur (melakukan curhat, kak.) tentang cemewew-nya kalau mereka lagi nggak akur dan memberikan saran berdasarkan pengalaman gue tentang romansa yang kalau dinilai di kertas kayaknya malah tertera angka nol berwarna merah.

Benar begini bukan, mblo?

Nggak bohong, gue juga pernah kok ada di posisi uwu-uwu begitu. Tapi ya akhirnya nggak pernah kesampaian jadi bebeb dan malah gue sendiri yang dikecewakan sama ekspektasi buatan gue sendiri 😃

Apalagi gue orangnya gampang baperan di mana kalau si cemewew ini baik sedikit aja, gue selalu anggapnya doi itu flirting ke gue. Gawat deh bund, kalau udah kayak gini. Ekspektasi gue akan hubungan ini makin tinggi! Gue anggapnya dia flirting dan tertarik sama gue, dia anggap gue cuma teman yang memang baik hati dan suka ngoceh aja. Belum ada hubungan apa-apa, kok udah ngarep, bib 😃
Capek juga ya, punya ekspektasi tinggi atas apa yang terjadi kalau akhir ceritanya adalah terjun bebas ke jurang kenyataan.

Asem tenan, wak.

Di satu sisi pun, ya gue nggak bisa menyalahkan siapa-siapa atas kisah gue yang ngenes nan kurang berpengalaman ini. Gue sering nanya ke diri sendiri, nanya ke teman gue juga, sekiranya apa-apa aja di diri gue sendiri yang bikin gue nongtot jodo alias jodohnya seret. Bingung juga, ya. Padahal gue nggak pernah duduk di lawang pintu tapi rupanya gue tetap begini adanya. Seperti biasa, semua pertanyaan ada jawabannya dan hanya waktu yang dapat menjawabnya. Semoga aja jawabannya nggak bikin kepala gue spaneng 😵

Trauma, nggak, buat naruh hati dan harapan ke orang lain lagi?

Nggak sampai bisa disebut trauma juga, sih. Gue bisa aja kalau memang ngebet buat cari cemewew baru dan gue mau kok buat coba cari itu. Tapi, kalau gue disuruh pilih, gue pilih menjomblo dulu agak lama nggak apa-apa deh asalkan nantinya gue nggak jadi badut sirkus di akhir. Capek gue dikecewakan ekspektasi huft. Meskipun memang nggak bertujuan langsung buat menikah, menurut gue, berangan-angan galau digantung harapan dan kebanyakan halu juga malah jatuhnya buang-buang waktu. Mendingan waktunya gue pakai buat pengembangan diri. Betul nggak, pemirsa sekalian?

Ya sudahlah ya, kawan-kawan sekalian. Gue juga masih 19 tahun, kuliah baru beres tiga semester, kerja juga belum, tinggal juga masih numpang di orang tua. Ingat, jadi jomblo itu bukan kutukan! Masih banyak hal-hal positif yang bisa mblo lakukan selama melajang. Mblo jangan ketakutan juga kalau memang memilih buat melajang dulu buat fokus ke pendidikan atau karir ATAU memang masih proses move on dari cemewew lama yang bikin sakit hati. Semua juga ada waktunya masing-masing, ya termasuk perihal romansa ini.

Angger sih iri mah aya wae nya, ningali batur uwu-uwu ai kuring kuat ka ngagoak kokosehan di kasur hayang boga kabogoh!

Harap tenang, jangan cemas! Kepada kawan-kawan paguyuban jomblo nan single yang rupawan, jodoh mah nggak akan kemana! Nanti juga ((katanya)) datang sendiri di waktu yang tepat. Jangan tanya gue kapan datangnya ya, kak, gue bukan panitia pembagian jodoh apalagi panitia yang bagi-bagi kupon door-to-door 😁

--

--

--

late teenager trying to figure out his life

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Habib

Habib

late teenager trying to figure out his life

More from Medium

Algorithmic — Catalogue Entry

The Actual Meaning of NFT

Is AI making chess boring?

Praise Q4 2021 Update for Investors, Stakeholders, and Friends