Kepala Angkasa Yang Ingin Segera Pecah


Aku ingin diam saja, redup tanpa denyut. Perlahan bergetar, lalu meledak.

“Aku benci bagaimana hatiku bekerja”

Melakukan hal-hal yang dibenci oleh pikiran seperti menggigit lidah — perih. Pertanyaan yang muncul adalah, “Kapan kepalaku berhenti menerima hal yang tidak diinginkan hati?”.

Sejak adanya kenangan yang barangkali bisa dikatakan “Suram”, kepalaku mulai tidak pernah fokus pada sesuatu. Mulai dari hal-hal kecil yang barangkali kubenci, atau bahkan yang kusukai — sebelumnya.


Pertanyaan yang ada dikepalaku saat ini, adalah pertanyaan yang ujungnya bukan tanda tanya. Kemudian aku berpikir lagi, “itu bukan pertanyaan, kan?”. Terus menerus sampai ruang di kepala terasa penuh — disisi lain merasa terkosongkan.

Aku suka berdiam diri, berupaya menyenangi apa saja yang hinggap di kepala. Suatu ketika berpikir bagai orang dungu, lalu berkata, “Apa yang ditempati pikiran? Apakah sebuah ruang? Apakah suatu masa? Atau barangkali hanya hanya mainan kecil dari seorang pengepul memori?”. Lalu diam dan lupa akan hal-hal yang lintas tadi.

Suatu ketika pula, sedang berdiam diri. Memikirkan bahwa aku sedang berada diruang hampa — diam. Aku ingin ruangan itu berwarna hijau saja, sebagaimana aku sukai sejak kecil dulu, namun kubenci saat ini. Aku suka membunuh diri pada hal yang aku tidak sukai. Lalu ruangan itu tak bersisi. Aku sendiri, duduk di kursi kayu biasa, seperti kursi sekolah dasar. Aku ingin duduk di ruangan itu sebagai perihal suatu permainan — kepalaku adalah taruhannya. Aturannya sederhana, aku harus memikirkan apa saja yang aku benci dan segala yang kusukai. Dan itu sama-sama menghancurkan kepalaku. Romantis sekali.

Aku langsung diserang pikiran tentang hal yang aku benci. Mulai dari ;

  • Ruangan berantakan ; ibuku adalah orang pembersih. Aku sayang dia sejak kecil dan berusaha mengikuti pribadinya.
  • Orang yang suka menatap wajah orang lain ; apalagi terus menerus.
  • Dan hal-hal yang dibenci oleh adikku.

Kepalaku mengembang, sedikit asap terlihat di satu sisi telinga dan kelopak mata.

Kemudian isi kepalaku berlanjut dengan hal-hal yang (barangkali) kusukai ;

  • Radiohead ; butuh waktu lama menyelesaikan tulisan pertamaku ini dengan menuliskan semua lagu radiohead. Mereka memperkosa telingaku terus-menerus.
  • Hujan pukul 6 pagi ; aku suka warna dan suasana hujan pada jam ini. Seperti saat ibuku memelukku di depan pintu di rumah masa kecil di sebuah pulau bagian papua — Pulau Adi.

Tak butuh waktu lama, kepalalaku merekah — terkelupas sedikit demi sedikit. Kemudian pecah dan terlihat seperti angkasa warna-warni. Aku suka membayangkannya. Aku ingin mati dan pergi dengan romansa diatas. Aku ingin mati tanpa siapa saja yang pusing memikirkan. Aku ingin pecah saja, lalu tiada.


“For a minute there, i lost myself” -Radiohead in Karma Police
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.