Mau Belajar Menulis

Saya tak pernah tahu bahwa saya gemar menulis hingga saya duduk di bangku SMA dan tak sengaja memenangkan lomba menulis cerpen yang diadakan sekolah saya dalam rangka menyambut Bulan Bahasa. Ya, tak sengaja. Karena saat itu, guru Bahasa Indonesia saya sedikit memaksa seluruh muridnya untuk mengikuti setidaknya satu lomba. Dan di antara semua lomba yang ada, entah mengapa saya malah mendaftar lomba cerpen ini. Mungkin saya pikir lebih baik harus menulis cerpen daripada mengikuti lomba presentasi dan berbicara di depan orang banyak.

Waktu itu saya menulis tentang pemain sitar. Inspirasinya dari mana? Ah, saya tak begitu ingat. Sepertinya dari salah satu pemain sitar yang pernah mengiringi makan malam saya bersama keluarga di pusat jajanan Blok S. Masa-masa yang indah.

Saya bukan juara pertama. Saya tak mendapat apa-apa selain satu piala yang kemudian menghuni sudut ruang tengah rumah saya di Jakarta. Sebagai anak baru, saya juga tak begitu saja mendapat popularitas atau decak kagum karena memenangkan lomba itu. Justru sebaliknya, saya rasa orang-orang malah menganggap saya ‘aneh’ karena saya suka menulis dalam bahasa Indonesia. Maklum, saya bersekolah di sekolah internasional waktu itu. Yang saya sadari, para ‘calon penulis’ di sana semua menulis dalam bahasa Inggris dan melahap sastra-sastra asing.

Anehnya, setelah itu tak pernah ada lagi kompetisi yang diselenggarakan sekolah untuk menyambut Bulan Bahasa. Meski begitu, sejak saat itu saya jadi benar-benar keranjingan menulis. Entah mengapa, saya merasa hidup ketika menulis. Mungkin itulah yang dinamakan passion. Walau kini, saya justru mempertanyakan apa menulis memang benar passion saya.

Kini, sudah sekitar enam tahun berlalu sejak hari di mana saya tahu saya gemar menulis. Sudah enam tahun sejak saya terus mengatakan pada diri saya sendiri kalau saya ingin jadi penulis. Ya, hanya pada diri saya sendiri. Karena sejujurnya, saya cukup insecure dengan ini semua.

Seperti yang saya bilang di awal, teman-teman saya sepertinya menganggap saya aneh karena saya menulis dalam bahasa Indonesia — bahkan ada yang pernah mengatakan bahwa karya saya ‘sampah’. Mereka semua membaca sastra dalam bahasa Inggris, sementara bacaan favorit saya adalah Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma dan Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Seharusnya saya cuek saja. Saya berbeda dari mereka dan perbedaan itu seharusnya dimaklumi. Sayang, masa SMA merupakan masa sulit di mana kami harus mencari jati diri, melawan peer pressure dan mencari penerimaan juga pengakuan kalau kami ini ada di dunia ini. Alhasil, saya malah insecure dan selalu berusaha menutupi kegemaran saya. Saya menulis hanya separuh-separuh. Saya ingin jadi penulis, tapi saya tak berani orang membaca karya saya.

Sekarang, saya menyesal tak benar-benar mendalami dunia kepenulisan saat saya SMA. Entah mengapa, sekarang, setiap saya menulis, saya selalu merasa bahwa tulisan saya semasa SMA lebih real dan lebih memiliki emosi. Sekarang, saya terlalu terpaku pada apakah tulisan saya ini benar atau tidak. Saya lebih terpaku pada apakah tulisan saya akan digemari orang, akan tembus dunia penerbitan, akan menjadi best seller dan kemudian membuat saya sukses. Aneh, mengingat sebelumnya saya tak ingin orang membaca karya saya, bukan begitu? Ya, benar. Tapi saya selalu ingin jadi penulis. Dan tentu, saya ingin menjadi penulis yang sukses.

Pun apes, sudah berapa draf saya selesaikan dan kirim pada penerbit hanya saja hasilnya nihil. Umur sudah kepala dua dan saya masih belum bisa jadi apa-apa. Saya tersesat. Saya tak tahu apakah menulis benar masih menjadi passion saya. Dan saya ragu kalau saya memang bisa menulis dan bisa jadi penulis.

Ya, begitulah. Kini, saya hanyalah gadis yang hampir memasuki pertengahan usia duapuluhan dan kehilangan kepercayaan akan apa yang ia mau lakukan di dalam hidupnya. Saya rasa saya harus memulai dari awal lagi. Mencoba menulis jujur tanpa pengharapan akan mendapatkan popularitas dan keberhasilan dari tulisannya. Menulis sekadar untuk kebahagiaan saya sendiri. Dan sepertinya, inilah alasan saya membuat akun di Medium. Saya ingin belajar menulis lagi.

Walau jujur, itu hypocrite. Karena, pertama, saya kembali mengenakan nama samaran. Dan kedua, saya akan mulai follow orang, dan tentu hati kecil saya akan mulai berharap orang mem-follow balik saya, dan menyukai tulisan saya.

Ha.