Every Profession’s Bitterness

Polisi,-

ʀ ᴀ ɴ ɢ s ᴀ ɴ ɢ
Nov 5 · 2 min read

“Aku menembak kaki perampok yang sudah angkat tangan hanya karena aku ingin melampiaskan nafsu. Buat apa punya pistol tapi satu dekade karir tak pernah kupakai.”

Makin hari, tiap perampok pasti dibedil kakinya. Maka polisi berubah alasan;

“Perampok memang pantas belubang kaki”

Kucing,-

“Aku datang ke depan pintu untuk sekadar mengelus kakinya. Jikalau mendapat makanan, patutlah kuanggap bonus saja.”

Seribu kali merengek di pintu;

“Si Bodoh pemilik rumah ini adalah budak dan kulkasku.”

Penjual Kebab di Depan SD,-

“Aku kasihan dengan anak SD ini, bosku Si Murah menyuruh aku memasak setengah matang karena anak SD takkan mampu membedakan rasa.”

Sepuluh ribu pesanan, nol persen anak yang mencret;

“Mungkin saos lama akan terasa lebih enak dan layak jual saat bercampur ludahku.”

Dosen Killer,-

“Dari kecil orang menganggapku berwajah lucu berwatak menawan. Di kantor aku masih junior, tak ada yang menganggapku serius. Aku marah. Tapi amarah ini hanya kulampiaskan kepada para mahasiswaku karena predator hanya mengincar mangsa lemah.”

Saat menjelang pensiun;

“Hari ini gerimis, telih ayamku kian kecil. Malas ku mengajar. Biarlah mereka menunggu. Biar ku urus Ayam saja.”

Predator Seks,-

“Ayolah sayang, Aku baru pertama seperti ini. Tahukah kamu hasrat seksual yang tidak terlampiaskan itu bikin tubuh sakit? kamu tidak suka aku sakit bukan? Ayolah, ngangkang saja tidak sakit kok…”

Seribu wanita, seribu seks kemudian;

“Ayolah sayang, Aku baru pertama seperti ini. Tahukah kamu hasrat seksual yang tidak terlampiaskan itu bikin tubuh sakit? kamu tidak suka aku sakit bukan? Ayolah, ngangkang saja tidak sakit kok…”

SPG Rokok,-

“Yang ini bajingan, tapi modal tangan doang. Yang itu bajingan, tapi tidak merokok, Yang pojok juga bajingan… tapi perlente. Pasti bisa beli satu slop!”

Lalu dia berjalan ke pojok.

Dua bulan kemudian, kalau dia tak suka, semoga sudah berganti profesi.

Barista,-

Hasrat hati saya ingin mendahulukan order mbak meja nomor tujuh. Pinggulnya menawan.

Saya,-

“Pasti semua orang pikirannya sejahat itu. Altruisme ideal itu tidak ada.”

    Written by

    @temanmumesra I am a poor sugardaddy. Pet me and I’ll buy you Tong Tji Black Tea.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade