
Mencecap Surga
Aku mencoba menjelaskan hal yang tak bisa dijelaskan. Hal yang tak aku kira, ternyata bisa dialami manusia. Bagaimana cara menjelaskan rasa madu, tanpa terlebih dulu memberikan pengalaman tentang madu kepada yang dijelaskan? Segala yang aku jelaskan tak lebih hanya akan menjadi imaji tentang madu di pikiran orang yang belum pernah merasakannya. Tapi bagaimanapun, aku tetap menuliskannya. Jika tidak bisa kutulis untuk orang lain, biarlah ini jadi catatanku sendiri, sebagai pengingat bahwa ada hal-hal yang membuat hidup ini tetap layak untuk dihidupi.
Ini adalah hal yang tak aku kira bisa dialami manusia. Ketika mengalaminya aku pikir aku telah mati, dan berpikir mungkin seperti itulah yang dialami orang-orang mati. Jika benar demikian, aku yakin tak akan ada lagi kesedihan untuk orang-orang mati, karena kita akan tahu bahwa mereka telah benar-benar dalam kondisi yang lebih baik. Tapi sayangnya, sekaligus beruntungnya, tidak. Aku masih hidup dan melanjutkan hidup.
Saat itu cahaya terasa lebih cerah dan jelas dari biasanya. Suara juga. Dengan mata tertutup aku masih bisa melihat cahaya berayun-ayun seperti ombak di lautan yang malas. Suara dari luar terdengar seperti ada di dalam kepala sendiri, mengguncang-guncang dinding kepala yang tak tahu diri. Tubuh terasa rileks dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi jantung berdebar seperti sedang lari maraton atau lepih parah lagi. Tubuhku bergerak dengan perlahan seperti biksu keluar dari pertapaan. Untuk beberapa saat aku merasa tidak memiliki tubuh. Aku mengamati sekitar seperti orang asing yang tersesat, aku sedang di kamar sendiri.
Di sisi psikis, aku merasa bukan apa-apa, sekaligus merasa aku adalah semuanya. Merasa bahwa segalanya tak penting, sekaligus menikmatinya. Segala prasangka luruh. Kemarahan dan kekhawatiran lenyap juga. Yang tersisa hanya rasa syukur luar biasa, rasa syukur bahwa aku masih hidup, dan berkesempatan untuk mengapresiasi keindahan-keindahan dunia dengan lebih teliti, keindahan-keindahan yang sebelumnya kubiarkan berlalu begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang tak pernah berhenti mengusik pikiran, seperti;
- Aku siapa?
- Kenapa aku?
- Darimana?
- Mau kemana?
- Untuk apa?
Semua terjawab, tanpa kata. Disini aku berusaha untuk tidak dianggap tengah menyebarkan agama baru, tapi aku betul-betul merasa sedang bercakap-cakap dengan tuhan, lagi-lagi tanpa kata. Awan-awan pikiran lenyap menyisakan langit kesadaran bersih luas membentang. Aku serupa titik air yang jatuh ke lautan, lalu melebur menjadi lautan itu sendiri. Apa yang biasa kusebut "aku" menghilang, bersamaan dengan hilangnya semua identitas-identitasnya. Tak ada lagi “aku” yang terpisah dengan dunia luar, aku adalah semua, semua adalah aku. Aku merasa hilang, sekaligus merasa ditemukan.
Jika surga ada, mungkin surga seperti inilah yang aku inginkan. Ketenganan pikir. Bukan sungai susu yang mengalir (aku tak begitu suka susu), bukan buah atau makanan yang tiada habis-habisnya (aku juga tak suka makan). Bukan pula 72 bidadari (tanganku cuma dua, kelaminku cuma satu, untuk apa aku butuh 72 bidadari?).
Setelah kembali sadar, atau lebih tepatnya kembali tidak sadar, ingin rasanya mengabarkan ke seluruh dunia. Aku ingin semua orang merasakannya, minimal sekali dalam hidupnya. Pengalaman seperti itu adalah ibarat hujan di penghujung musim kemarau. Air sehari yang berhasil meghilangkan panas setengah tahun. Ketenangan yang melampaui kata-kata itu, akan membayar lunas tuntas semua penderitaan yang telah dilalui manusia, sepanjang hidupnya.
