Ketika Tipografi Merusak Alam

Istiko Rahadi
Jul 10, 2017 · 3 min read

Beberapa tahun belakangan pariwisata indonesia menjadi trend, semenjak novel 5cm sukses di pasar dan progam acara jalan-jalan ramai di televisi maka makin banyak wisatawan lokal berkeliling indonesia mencari spot “instagramable”

Ini adalah suatu hal yang positif, menambah pemasukan bagi masyarakat dan meningkatkan perekonomian. Sehingga banyak dinas pariwisata mulai mempromosikan daerah wisatanya, membangun fasilitas dan memperbaiki akses. Termasuk membuat signage raksasa yang bertuliskan nama tempat wisata.

Entah kebetulan atau tidak, tapi ini semua sepertinya berasal dari suksesnya Pantai Losari yang sejak 2007 membuat signage di tepi pantainya menjadi key landmark pantai yang berada di Sulawesi tersebut. Coba saja ketik pantai losari di google maka hampir sebagian besar hasilnya menampilkan gambar pantai losari dengan signage raksasa berawarna bertuliskan PANTAI LOSARI.

Google Search “Pantai Losari”

Sepertinya kemudian pemerintah di daerah lain mulai mengadopsi hal serupa. Di Jakarta sendiri hampir setiap taman besar di wilayah kota memiliki signage dengan font Helvetica bold berwarna merah cerah dan berukuran besar.

Permasalahan kemudian muncul ketika penerapan signage ini lebih sekedar mengikuti trend tanpa ada perencaanan dan pemikiran desain yang mendalam. Tidak ada sinergi dan integrasi antara signage raksasa tersebut dengan lingkungannya. Sehingga akhirnya signage tersebut menjadi terasa “out of place” atau janggal. Lebih mirip seperti artwork dari esperimental modern art daripada desain yang bisa menambah estetika.

Bendungan Jati Gede yang menggunakan typeface Helvetica raksasa berlatar belakang pegunungan

Meskipun penggunaan typface raksasa bukanlah hal baru. Namun jika lantas penggunaan typface signage ini diterapkan tanpa ada pemikiran yang matang dan hati-hati maka yang terjadi hanyalah menghasilkan visual noise.

Sungguh disayangkan jika bentang alam yang indah harus dirusak dengan signange yang terasa tidak natural. Ukurannya yang raksasa dan warna cerah akan menarik perhatian dan mengurangi nuansa natural yang sesungguhnya adalah daya tarik utama.

Signage Pantai Nambo yang buruk dengan latar belakang pegunungan yang indah

Seringkali signage raksasa tersebut menggunakan font berjenis sans serif, berkesan kaku dan modern. Sebuah font hasil revolusi industri yang jauh dari sifat natural. Typeface yang populer setelah perang dunia II ini seringkali disebut sebagai fondasi dari universal design atau yang seringkali disebut sebagai Swiss design. Typeface yang jauh dari rasa lokal Indonesia tentunya.

Jika kemudian penggunaan typeface ini diterapkan secara serampangan di alam terbuka dengan latar belakang alam natural, maka yang terjadi nampak terasa seperti kejanggalan yang menyiratkan kurang pekanya pengambil kebijakan di sini.

Penggunaan typeface yang buruk justru merusak keindahan alam

Solusi

Penggunaan signage typeface raksasa ini adalah hasil kebuntuan desain arsitektur lanskap yang seringkali terjadi di daerah-daerah wisata. Lalu kemudian banyak yang mengadopsinya karena mudah dibuat dan relatif murah biaya pembangunannya. Namun karena itu seringkali pembangunanya mengesampingkan kualitas dan estetika.

Ada beberapa solusi yang mungkin bisa dijadikan referensi sebagai penggantinya:

  1. Temporary signage
    Membangun tempat wisata yang baru tentunya membutuhkan promosi. Signage raksasa bisa dengan mudah dibuat dengan bahan-bahan non-permanent yang mudah untuk dibongkar sesuai dengan tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Sehingga ketika suatu daerah wisata sudah menjadi terkenal maka signage bisa dirombak dan biarkanlah tempat wisata tersebut bersih dari plang atau tulisan raksasa yang menggangu pemandangan.
  2. Mengajak seniman lokal
    Banyak tempat indah di Indonesia sebetulnya tidak memerlukan penanda raksasa semacam itu, namun jikalau memang diperlukan sebagai alat promosi maka alangkah baiknya jika membuat temporary artwork yang dapat dipindah sewaktu-waktu. Landmark seperti patung atau bangunan semi permanen yang dibuat dengan baik tentu bisa menambah estetika.
  3. Biarkan natural
    Cara terbaik adalah tetap membiarkan natural, biarkan saja alam yang indah tetap terlihat indah tanpa harus ada campur tangan manusia yang membuatnya menjadi lebih buruk. Pegunungan, lautan atau sungai-sungai mengalir terlihat sedap dipandang meskipun tanpa tulisan raksasa yang menarik perhatian.

Kesimpulan

Trend penggunaan typeface raksasa sebagai signage jangan dijadikan sebagai one stop marketing solution. Keinginan untuk membangun daerah pariwisata harus dilakukan secara professional dan pemikiran yang matang. Jangan sampai justru keinginan yang baik itu justru merusak dan meninggalkan cacat visual di suatu tempat yang seharusnya sudah indah.

Istiko Rahadi

Written by

Designing meaningful and beautiful digital product

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade