Campursari dan Pop Jawa itu Beda!

Makin hari nampaknya kian banyak yang susah membedakan dan mencampuradukkan genre musik campursari dan pop Jawa dalam kehidupan bermasyarakat.
Buktinya tiap terdengar sebuah lagu dengan lirik berbahasa Jawa, kebanyakan orang yang saya temui langsung menuduh kalau yang terdengar itu adalah lagu campursari. Padahal, tidak setiap lagu dengan lirik berbahasa Jawa itu adalah campursari.
Campursari secara “gampang” mungkin bisa dimaknai sebagai campuran elemen-elemen elemen musik tradisional dengan musik-musik barat. Kalau tidak salah Manthous dulu mempopulerkannya dengan memasukkan unsur keyboard di antara jajaran gamelan tradisional.
Mari kita lihat dua contoh lagu berikut:
Lagu Gethuk karangan Manthous
Ini juga Lagu Gethuk, juga karangan Manthous
Melihat dua contoh di atas, sesungguhnya relatif mudah untuk membedakan apakah sebuah lagu itu masuk genre campursari ataukah pop Jawa. Coro bodon-e (ngomong-ngomong, ada kawan saya mengartikan istilah ini secara literal ke bahasa Indonesia sebagai “Kecoa berlebaran”), adalah jika sebuah lagu tersebut pengiringnya di dominasi oleh instrumen gamelan lengkap, ditambah instrumen modern berupa keyboard (dan hanya keyboard bukan alat musik modern lainnya), maka dia bisa kita anggap sebagai campursari.
Sementara kalau pop Jawa, ya sebenarnya sama saja seperti lagu-lagu pop lainnya yang secara keseluruhan diiringi iringan alat musik modern, namun bahasa yang digunakan penyanyinya adalah bahasa Jawa.
Tapi Pak, bagaimana dengan musik-musik a la Didi Kempot?
Nah iniii… Tanpa sama sekali mengurangi hormat dan kekaguman pada beliau, kebanyakan lagu beliau tidak termasuk campursari klasik ala Manthous. Karena kebanyakan lagu-lagu yang populer dibawakannya lebih masuk ke pop Jawa atau bahkan pop Dangdut Jawa seperti Sewu Kutho atau Terminal Tirtonadi
Tapi bukan berarti lantas nama besar Didi Kempot begitu saja dicoret dari jajaran penyanyi campursari sebab di lagu Jambu Alas yang versi berikut ini, masih bisa masuk ke campursari, walaupun selain keyboard, ada tambahan alat musik modern lainnya yaitu drum.
Untuk membedakan antara pop Jawa dan campursari yang nampaknya semakin mirip, beberapa radio yang sering memutar lagu-lagu Jawa, memunculkan istilah Campursari Klasik dan Campursari Modern.
Campursari Klasik yang merujuk ke campursari a la Manthous, dan Campursari Modern biasanya merujuk pada pada lagu-lagu yang tidak menggunakan set gamelan tradisional komplet a la Manthous, melainkan hanya sebagian kecil saja — biasanya kendang — dan suara-suara gamelan “ditirukan” oleh keyboard. Seperti misalnya lagu Sekonyong-konyong Koder ini
Oh iya, mungkin campursari yang dibawakan Sonny Josz dan Cak Diqin bisa masuk ke dalam jenis ini, di luar lagu-lagu pop Jawa dan pop dangdut Jawa yang juga sering mereka bawakan.
Nah, jika masih bingung gimana bedainnya, mungkin bisa telaten mendengarkan radio MBS FM Yogyakarta di 92.70 FM pada jam 9 pagi di acara Puri Funky (yang penyiarnya heboh dan seru tenaaan) untuk mendengarkan gimana lagu-lagu Campursari Dangdut dan Campursari Modern, serta pada jam 3 sore di acara Laras Puri untuk mendengarkan lagu-lagu Campursari Klasik.
Ngomong-ngomong, sungguh saran di atas itu tadi sama sekali bukan dalam rangka tulisan berbayar untuk mempromosikan radio tersebut, tapi memang jika ingin tahu lebih jauh tentang jenis-jenis campursari, dua acara di radio tersebut bisa banyak membantu.
Oh iya, jika ada yang tanya tentang dangdut pantura-nan, dangdut koplo, dangdut kopling (koplo tarling), dan sejenisnya, sungguh saya ndak banyak tahu tentang itu. Mohon maaaaaffff…
Nah menurut teman-teman kalau lagu ini termasuk yang mana, Campursari Klasik, Campursari Modern, atau Pop Jawa?
Originally published at jagongan.org on September 16, 2016.