Godaan Rupa

Semua ini diawali saat melihat kicauan seorang kawan di twitter yang persis seperti apa yang saya pikir selama ini hampir setahun lalu.

Gini kicauan kawan saya itu:

Mungkin kawan saya dan saya termasuk orang yang ndak paham tentang manfaat desain interior untuk kenyamanan fisik dan psikis para tamu sebuah rumah makan.

Tapi yang jelas kami paham sekali bahwa seindah dan sekeren apapun penampilan sebuah rumah makan, tidak akan banyak membantu memperbaiki kualitas rasa hidangan yang memang dasarnya porak poranda.

Pernah ada yang berpendapat kalau segala bentuk tampilan rumah makan yang menarik lengkap dengan pernak-perniknya yang mencolok itu adalah bagian strategi pemasaran dan promosi ala era media sosial saat ini.

Jadi, dengan makin populernya media sosial, ditambah lagi kebiasaan baru manusia-manusia modern memotret makanan mereka sebelum disantap, membuka celah strategi pemasaran dan promosi baru bagi rumah-rumah makan atau tempat nongkrong.

Caranya, rumah makan dan tempat nongkrong itu mempercantik dan memperunik diri sedemikian rupa, sehingga saat manusia-manusia kekinian tersebut memotretnya (entah secara sengaja, atau tak sengaja saat mereka selfie atau wefie), tampilan cantik/unik rumah makan dan tempat nongkrong tersebut ikut tersebar melalui media sosial.

Efeknya, seperti yang sering kita lihat di kanal-kanal media sosial, waktu ada yang mengunggah foto mereka sedang nongkrong di sebuah café atau tempat makan melalui instagram, path, atau facebook, maka suasana, desain interior, dan keunikan tempat tersebut turut menarik perhatian.

Ini masih ditambah rupa-rupa makanan dan minuman yang dihidangkan di tempat-tempat makan keren kekinian tersebut, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik untuk difoto dan jika foto tersebut tersebar di media sosial (kadang dengan tambahan filter dan edit sana-sini sehingga hidangan tersebut jadi lebih tempting), akan membuat orang-orang yang melihatnya tertarik untuk menikmatinya.

Sayangnya, kawan-kawan saya yang mendatangi tempat yang keren-keren dan cantik-cantik itu, merasa kecewa terutama dengan makanan dan minuman yang disuguhkan.

Ada yang kecewa karena dengan harga “segitu” kok rasa dan kualitas hidangannya cuma “segini”. Ini diceritakan kawan saya yang pesan teh tarik di sebuah tempat keren itu dengan harga yang lumayan “bunyi”, tapi saat disuguhkan ternyata yang muncul teh tarik instan sachetan yang bisa dipesan dengan harga lebih murah di warung-warung burjo sederhana dekat kos-kosan. Memang sih di tempat itu dikemas dengan indah dan cantik kalau difoto, tapi ya tetep aja, itu tak bisa mengubah kenyataan kalau yang disuguhkan itu teh tarik sachet instan.

Kawan lain ada yang cerita kalau dia pesan lasagna yang saat datang memang tampak menarik dan instagram-able, tapi saat ia mencoba menikmati lasagna tersebut, ternyata beef lasagna-nya langsung hancur lebur seperti bubur. Tentang rasanya? Bayangkan menikmati pasta lasagna yang sudah berbentuk bubur bercampur dengan butiran-butiran beef dengan cara disruput sesendok demi sesendok.

Ada pula tempat makan yang interiornya sangat bagus dengan niat membawa atmosfer London di tempat makan tersebut. Namun seorang kawan wadul kalau dia agak kagol saat berkunjung ke sana karena snack dan hidangan khas London sama sekali tidak tersedia di situ. Hidangan seumum dan sesederhana fish and chips-pun tak ada di sana. Jadi “London” di sini hanya berhenti pada nama dan interior saja.

“Ini bagaikan saya lagi di Kalimantan, mengunjungi sebuah warung yang menawarkan suasana angkringan Yogyakarta lengkap dengan gerobak angkringannya, namun yang dihidangkan adalah empek-empek Palembang, ayam Tangkap Aceh, dan Sop Konro Makassar.” gitu omelan temen saya.

Masih ada lagi kawan yang bercerita baru saja mencoba sebuah tempat yang cukup kondang di jagad media sosial karena banyak yang mengunggah foto-foto makanan dan suasana di sana, namun selepas dari sana dia berkeluh kesah tentang mutu hidangan di sana. Mulai dari gorengan yang minyaknya, kata kawan saya itu, masih kotos-kotos. Snack mirip Astor yang melempem. Sirloin yang bukan sirloin. Mushroom soup yang ternyata soup kalengan, dan masih banyak lagi.

Mendengar dan kadang mengalami kisah-kisah seperti itu sering membuat tak habis pikir. Bayangkan, para pemilik tempat nongkrong dan makan itu berani berinvestasi untuk penampilan bangunan, interior, dan tampilan hidangan yang cantik-cantik, kenapa tidak sekalian berinvestasi untuk membuat dan menjaga mutu makanan yang enak, sesuai tema, dan berkualitas sekelas dengan image tempat makan yang mereka bangun?

Mosok to dengan modal yang tentunya lebih besar dari modal warung selevel Pak Dul aka. Nasi Teri Demangan, Bakmi Pak Pele, Gudeg Bu Thekluk, atau Soto Pak Samsul, mereka tidak mampu menyuguhkan makanan dan minuman yang benar-benar layak dihidangkan dan dinikmati, tidak hanya tampak cantik difoto belaka?

Karena, seperti kata Mas Jaki di awal tadi, “Kita para pengunjung ini kan bukan pemakan pajangan?”

Jadi tolong jadilah tempat makan dan minum yang beneran, bukan sekadar jadi playground buat orang dewasa yang turah-turah duit.

Originally published at jagongan.org on April 30, 2016.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.