Soto: Warung Sama Beda Rasa

Masih ada kaitannya dengan tulisan kemarin, tentang perbedaan setiap orang dalam menilai enak tidaknya semangkuk soto yang sesungguhnya wajar dan tak perlu dipaksakan sama.

Suatu pagi seorang kawan mengajak menikmati soto andalannya yang menurutnya paling enak ketimbang soto-soto lainnya, dan setiap orang yang mencicipinya pasti akan jatuh hati dan membenarkannya.

“Pokoknya soto ini joss tenan, Mas. Situ pasti berubah pikiran deh, dan bakal bilang kalau soto yang satu ini well dug.” ajak kawan saya bersemangat.

Karena penasaran saya langsung mengiyakan ajakan itu, bersama-sama segera kami meluncur ke warung soto yang tempatnya sengaja dirahasiakan di tulisan ini.

Sesampainya di lokasi, tak lama setelah memesan soto pada pemilik warung, hadirlah di depan kami dua mangkuk soto daging sapi yang panas dengan asap masih mengepul.

Kawan saya segera dengan sigap menuangkan kecap manis ke mangkuk sotonya, langsung disambung dengan tiga-empat sendok sambal, sejumput kecil garam, lalu diakhiri dengan keceran seiris jeruk nipis.

Setelah prosesi itu, barulah ia menyantap sotonya dengan gusto dan telap-telep.

Di antara suapan-suapannya serta di sela suara “huh-hah” karena sambal yang dia masukkan dalam porsi cenanangan tadi, dia masih tetap meyakinkan saya kalau soto itu sangat enak.

“Cobain Mas, ini sotonya enak tenan. Sedep, seger, apalagi ditambah sambel-nya ini. Woh mantep… Soto lain lewat Mas…” sambil tentu saja diselingi “huh-hah”-nya yang makin menderu itu.

Saya belum menyentuh soto saya sama sekali, karena takjub dengan aksi kawan saya itu, iseng menawarkan soto saya yang belum dibubuhi apa-apa itu padanya.

Awalnya dia menolak karena pastilah sama rasa soto itu dengan sotonya, lha wong sak warung kok. Namun setelah meyakinkan sedemikian rupa (dan mungkin karena efek kuah sotonya yang pedesnya minta ampun itu, sehingga siapa tahu dengan mencicip soto saya yang masih perawan, bisa jadi tamba pedes), akhirnya ia mau mencicipi soto saya barang satu-dua sendok.

Setelah mencicip, komentarnya,“Wah ya kurang enak Mas. Kalo gini ini rasanya datar dan yang terasa cuma vetsin-nya aja. Ha mbok dikasih kecap sama jeruk gitu to Mas, biar seger dan mirasa.” komentarnya.

Percobaan kecil saya yang berawal iseng tadi sebenernya ingin menunjukkan bahkan dari sebuah warung soto yang sama pun — yang oleh kawan saya itu dicap paling enak — masih ada perbedaan cita rasa antara satu orang dengan orang lainnya.

Kali ini perbedaan muncul karena ada seseorang yang suka menikmati sotonya dengan banyak kecap, banyak sambal, dan jeruk nipis. Sementara ada orang lain yang lebih senang menikmati sotonya dengan apa adanya, kalaupun ada tambahan mungkin hanya jeruk beberapa tetes dan sedikit sambal biar rasanya agak “nendang” sedikit. Jadi tetap saja klaim “ter-enak” itu berbeda-beda di tiap orang, tidak bisa dipaksakan.

Sehingga, jika kelak kita mendengar orang yang berkunjung ke sebuah warung soto kemudian setelah mencicipi akan berkomentar:

“Ah soto-soto di kota <isi tempat orang itu mencicipi soto yang dikomentarinya ini> nggak ada yang seenak soto di kota <isi tempat asal / kelahiran / lama menghabiskan masa kecil> karena <isi rasa, tekstur, bahan, harga, kuah, kaldu>-nya beda .”

Jangan terburu-buru emosi, marah, dan semangat “Soto Andalanku Über Alles”-nya langsung tersulut. Biarkan saja, ikhlas, legawa, karena namanya juga cinta, kadang-kadang tak pakai logika, bahkan sampai tak sadarngenyek lainnya yang tak dicinta.

Tapi mungkin ada baiknya kita jangan ikut-ikutan gitu, selain nanti bikin kita nggak ada bedanya sama orang-orang seperti itu, hal tersebut juga tak akan membuat soto yang dicelanya langsung berubah rasa, kan?

Salam RaboSoto!

Originally published at temukonco.com on October 12, 2016.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.